Wednesday, August 14, 2019

Mendapatkan Perintah Jika Suka Silahkan di Jilatin Saja - LapetBecek

Mendapatkan Perintah Jika Suka Silahkan di Jilatin Saja - LapetBecek


Ini berawal dari pertemuanku dengan seorang wanita bernama Cika di sebuah mall di Ibukota, Namaku Yanto, kegiatan sehari-hariku adalah sebagai seorang mahasiswa, kebetulan hari itu aku sedang tidak ada jadwal kuliah sehingga aku memutuskan untuk bersantai sambil minum kopi.


Karena masih siang, mall yang kukunjungi masih sepi hanya terlihat beberapa orang saja yang berlalu lalang. Karena tujuanku adalah minum kopi di cafe favoritku, maka aku pun langsung saja melaju ke tempat tujuanku.

Saat sedang asyik berjalan sambil melihat-lihat barang display, tiba-tiba dari depanku nampak seorang perempuan muda yang menurut taksiranku berusia sekitar 30 tahunan, namun bentuk badannya sangat proporsional, penampilan modisnya yang dipadukan dengan kecantikan wajah sungguh menarik perhatian siapa pun yang melihatnya.

Aku sempat heran, wanita itu nampak seperti akan menghampiriku, daripada nanti dikira terlalu over PD maka aku pun stay cool saja. Ternyata perkiraanku tidak salah, wanita cantik itu memang berjalan ke arahku. Tercium aroma parfum yang ia kenakan, sungguh harum dan membuatku gagal fokus untuk sejenak.

“Mas, Pull and Bear sebelah mana ya?

Walaupun sempat kaget karena disapa saat sedang asyik menikmati parfumnya, aku berusaha tenang dan tidak memperlihatkan ekspresi kagetku.

“Ada di lantai 3, Tante..” karena toko yang ditanya merupakan favoritku setiap berbelanja baju, maka aku tahu sekali letaknya. Kebetulan saat itu posisi kami berada di lantai 1.

“Bisa minta tolong anterin ga, Mas..? Kebetulan aku lagi buru-buru, daripada nyari-nyari lagi..”

“Hmmm.. Oke, Tan. Saya tunjukkan jalannya.”

Setelah pembicaraan itu kami pun langsung beranjak dan menuju toko yang dimaksud. Dalam perjalanan itulah kami berbincang panjang lebar, sehingga kami pun saling kenal. Namanya Cika, dan domisili aslinya dari Surabaya pantas saja ia tidak mengetahui letak toko itu.

Begitu tiba di sana, aku pun berniat untuk pergi dan melanjutkan tujuanku. Namun aku ditahan dan dimintanya untuk menemani berbelanja, kebetulan memang ia ingin membeli pakaian untuk laki-laki, jadi dia meminta pendapatku.

Saat ini suaminya sedang berkantor di luar negeri, sudah 1 bulan lamanya, yang anehnya ia juga menceritakan masalah penyakit disfungsi seksual yang dialami oleh suaminya, dalam hatiku sempat heran. Kenapa wanita ini begitu terbuka dengan orang yang baru dikenalnya. Namun obrolan kami terus saja mengalir.

Setelah selesai makan dan berbincang di cafe, Cika mengajakku untuk main ke rumahnya. Aku pun menurut saja, karena toh aku pun tidak ada kesibukan apa pun hari ini. Mobil yang dikendarai adalah sebuah mobil sport mewah yang hanya menyediakan 1 kursi penumpang saja, alias 2 pintu.

Karena hari itu aku sedang malas, kebetulan aku ke mall tadi memakai taksi online jadi aku ikut naik mobil Cika saat menuju rumahnya.

Rumahnya ternyata sangat megah, bergaya minimalis. Sangat mewah menurutku jika dilihat dari luar. Tak lama kami berhenti di depan pagar, datang seorang satpam membukakan pagar itu untuk kami. Sebelum sampai di rumahnya, tadi Cika sudah berpesan kepadaku jika ada yang bertanya, aku disuruh mengaku sebagai saudara suaminya.

Setelah memperkenalkan diriku kepada pembantunya, ia meminta pembantunya itu untuk memasak akan malam untuk kami.

“Silahkan Yanto duduk dulu, sebentar ya aku ganti baju.” katanya sembari meninggalkanku.

“Tan, kamar kecilnya dimana ya?” tanyaku sebelum Cika pergi.

“Sini, tante tunjukin.” katanya sambil menggandeng tanganku.

“Itu kamar mandinya,” Ia berkata sambil menunjuk ke arah kamar mandi yang dimaksud.

Aku pun langsung menuju ke arah yang dimaksud, ketika hendak menutup pintu tiba-tiba Cika menahan dari arah luar dan menggodaku.

“Jangan lama-lama lho..”

Saat sedang buang air kecil, aku perhatikan barang-barang yang ada di dalam kamar mandi itu. Tanpa sengaja aku melihat sebuah benda panjang berwarna pink di belakang botol shampoo.  Ketika kuperhatikan lagi, ternyata itu sebuah dildo.

Tiba-tiba Cika masuk ke kamar mandi, kebetulan pintunya memang tidak aku kunci. Sudah kaget karena melihat dildo di kamar mandi itu kali ini ditambah lagi dikagetkan oleh pelukan Cika dari belakang tubuhku.

Tangan kananku yang sedang memegang dildo itu dipegang olehnya sambil tangan kanannya meraih kemaluanku.

“Itu mainan aku, Yan pas lagi kepengen.” Bisiknya di belakang telingaku.

Aku diam sejenak, jantungku berdebar-debar.

“Itu masih kalah enak sama yang asli, Yan.” desahnya manja.

Tanpa permisi ia langsung menjilat bagian belakang telingaku, menimbulkan rasa geli yang teramat sangat. Sambil terus menciumi aku dari belakang ia mulai membuka celanaku.

“Jangan, Tan..”

“Kenapa, Yan? Ga suka ya?” Tanyanya sambil menjilat leher dan telingaku.

“Yanto masih perjaka, Tan..”

“Tidak apa-apa, Yan. Nanti tante ajarin. Mau kan..? Ikut Tante ke kamar aja biar lebih tenang..”

Aku dituntun olehnya keluar kamar mandi begitu masuk kamar dan sudah berada di dekat ranjangnya. Ia menoleh ke arahku dan menciumku. Mulutnya mengkulum bibirku dengan liar dan lidahnya juga bermain-main di dalam mulutku.

Tangannya masih berusaha membuka celanaku. Aku pasrah saja sambil mendekap badannya. Setelah celanaku berhasil dilepas, ciuman Cika beralih ke leher dan terus turun ke dada, perut hingga akhirnya kepala Cika berada tepat di depan kemaluanku.

“Enak, Tan rasanya.” kataku sambil mendesah.

“Berdiri terus ya, Yan..” perintahnya sambil tersenyum nakal kepadaku.

Aku pun menuruti permintaannya.

“Penis kamu enak banget, Yan..”

Dia langsung melahap kemaluanku dan mengocok-ngocok menggunakan mulutnya.

“Aaah..” desahku yang sedang keenakan.”

Gerakannya tak hanya maju mundur, terkadang penisku di arahkan ke kiri kanan saat berada dalam mulutnya.

“Aaaahhh, pelan-pelan mbak..” pintaku saat hisapannya semakin cepat.

Dia tidak memperdulikan ucapanku dan meneruskan kegiatannya. Hisap, lepas, hisap, lepas, terus menerus hingga ia akhirnya merasa pegal.

“Penis kamu enak banget Yan.” katanya sambil mengelap bibirnya yang penuh lendir.

Sorot matanya penuh nafsu, menunjukkan bahwa dirinya saat itu sedang bernafsu.

“Udah lama banget Cika ga ketemu beginian, Yan..”

Ia kembali menjilati penisku diiringi dengan permainan lidahnya ya dahsyat, sambil berusaha membuka kaosku, jilatannya menjalar hingga ke perutku. Aku pun tidak mau diam saja, aku juga membuka bajunya. Menyembul lah kedua payudaranya, kebetulan saat itu ia tidak mengenakan bra.

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

“Diliatin aja, Yan..?” desahnya sambil mengarahkan kepalaku ke payudaranya.

Kali ini tanpa menunggu perintah selanjutnya, segera kusambar payudara itu dengan mulutku sambil tanganku meremas-remas payudara yang satunya lagi.

Cika keenakan sampai duduk di ranjang, kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa kulepas sama sekali mulut dan tanganku dari payudaranya.

“Aaah.. terus Yan.. sedot teruss, putingnya juga Yan.. Oooohh.. Aaaahh..”

Hisapanku sesekali kuselingi dengan gigitan halus pada putingnya.

“Aaaaahh.. Terus Yan.. Enak… Aaaahhh..” Desahnya sambil badannya menggelinjangkan

Melihat Cika yang semakin terbuai hawa nafsu, tanganku mulai mengarah ke kemaluannya yang saat itu masih dibalut dengan celana dalam. Rupanya vagina Cika sudah basah, tak lama kumainkan dari luar celana dalamnya.

Tanganku mulai kumasukkan ke dalam celana dalamnya, akhirnya kini aku memainkan vaginanya langsung tanpa terganggu apapun. Cairan kewanitaannya terasa betul telah membasahi keseluruhan vaginanya.

Pinggul Cika naik turun saat jariku bermain di vaginanya. Adegan ini pun semakin memanas saat jariku menyentuh klitorisnya, tubuhnya bergoyang hebat. Tangannya memegang tanganku memberi arahan agar terus bermain di area itu.

”Terus Yan… Di situ enaaak.. Aaaaahhh..” Desahnya.

Ciumanku kupindahkan ke daerah lehernya yang sedari tadi terpampang jelas karena Cika terus mendongak akibat permainan jariku.

“Yan, Tante uda ga tahan.. Aaah..”

Ia membalik posisi kami, kini giliran diriku yang rebahan di atas ranjang. Setelah aku dalam posisi terlentang, ia mengangkangi tubuhku dan mengarahkan kemaluannya ke wajahku, dan mulai membuka celana dalamnya.

Begitu terbuka, tercium jelas aroma daerah kemaluannya itu yang membuatku semakin terangsang. Nampak vaginanya berlendir saat itu.

“Bau nya enak sekali Tante..”

“Kalau suka jangan cuma dilihat donk, jilatin nih..” ia berkata sambil menurunkan pinggul dan mengarahkan vaginanya ke mulutku.

Tentu saja aku langsung melaksanakan tugas yang diberikan kali ini dengan sigap. Kujilati bibir vaginanya sambil sesekali lidahku menyelinap masuk dari sela-sela bibir vaginanya itu, hingga akhirnya saat kujilat klitorisnya.

“Terus jilat Yan, itu disitu.. aaaaahhh..aaahh.. jilatin Yan… ooohh..” desahnya sambil memegang kepalaku dan menggoyangkan pinggulnya maju mundur sambil terkadang melakukan gerakan berputar-putar.

Tak lama kemudian Cika merubah posisi kami, ia berbalik untuk rebahan aku pun mengikuti gerakannya sambil terus menjilati kemaluannya, kini posisiku telungkup di depan vaginanya.

Tanganku memeluk ke dua pahanya yang mengangkang dan terus kujilati vaginanya dengan ganas, naik turun kiri kanan terus kusapu kemaluannya dengan lidahku. Cika terus menggelinjang dan menyentak-nyentakkan badannya setiap kali klitorisnya kujilati.

Kupeluk erat ke dua pahanya itu agar mulutku tak terlepas dari vaginanya, setelah beberapa saat kuhisap dan kujilat klitorisnya Cika mengerang dan mendesah hebat, pahanya dirapatkan hingga kepalaku terjepit oleh ke dua pahanya.

“Aaaahh.. Ooooohh.. Aaaaahh.. Tante mau keluaaaar.. Aaaaahh….” desahnya.

Akhirnya Cika mengalami orgasme, terasa cairan hangat keluar dari vaginanya membasahi mulutku. Sementara tubuhnya menyentak dan menggeliat hebat. Untuk sesaat kubiarkan dirinya menikmati klimaksnya.

Setelah selesai menikmati orgasme, Cika bangun dan mengubah posisiku menjadi posisi duduk. Tanpa diberi aba-aba, ia langsung duduk menghadapku di atas pahaku. Ia mengangkat kepalaku yang berada tepat di depan payudaranya, sambil memegang pipiku ia mulai menciumi bibirku yang masih basah dengan cairan kewanitaan.

Kami berciuman dengan liar, Cika pun menggerakkan pinggulnya maju mundur sehingga vaginanya bergesekan dengan penisku. Sedang asyik-asyiknya berciuman, tangan Shella meraih penisku dan mengarahkannya ke vagina Cika. Perlahan tapi pasti penisku mulai melesak masuk ke dalam vaginanya.

Setelah dirasa sudah masuk, Cika mulai bergerak naik turun penisku keluar masuk dari vaginanya. Benar-benar kenikmatan yang tak dapat kugambarkan dengan kata-kata untuk dijelaskan lagi. Sementara itu di depan mataku tampak payudara montoknya bergerak naik turun mengikuti irama goyangannya.

“Ooohh.. ooohhh.. Penis kamu enak sekali Yan.. aaaahhhh….”

Aku tidak memberi respon apapun terhadap racauannya itu, karena aku sedang sibuk menikmati payudaranya. Kujilati putingnya dengan penuh nafsu.

“Terus yan, jangan berhenti.. Aaaaaahhh.. Aaaahhh… Nikmatnya Yan.. Ooohhh…”

Terkadang aku menyentakkan pinggulku ke atas mengimbangi gerakan tubuhnya yang naik turun. Cika benar-benar menikmati setiap hentakan yang kulakukan. Cika semakin liar, tubuhku tiba-tiba di dorong olehnya hingga rebahan. Aku pasrah tak berdaya seperti orang yang tengah diperkosa.

Begitu aku rebahan, Cika melanjutkan goyangannya, namun kali ini makin ganas. Maju mundur, naik turun dan terus menerus tanpa henti. Tanganku diraih dan diletakkan di payudaranya, kuremas-remas payudaranya. Terkadang Cika terlihat mendongakkan kepala ke atas sambil bergoyang maju mundur.

“Aaaahhhh…. AHhhhhh.. ooooohh.. Aaaahhhh..” desahnya makin tidak karuan.

15 menit lamanya aku digempur seperti itu, aku merasa akan mencapai klimaks. Vagina Cika juga terasa berkedut-kedut memijat penisku, hal tersebut menandakan dirinya sudah dekat dengan klimaks. Vaginanya terasa semakin basah, terdengar dari suara kecipak yang dihasilkan dalam setiap goyangan Cika.

“Aaahhh.. Tantee.. Yanto mau keluuaaarrr… Aaahhh”

“Tante juga, yan… Aaaaahhh.. barengan yaaaa… ooohhhh…”

Tangannya memeluk erat tubuhku.

“Aaaaaahhhhh… Aaaaaaaaaahhhhh..” Desahnya panjang.

“Tanteee keluaaar Yan…. Ooooohhh….”

Dia mengerang sambil menghentak dengan liar. Penisku benar-benar terasa diperah oleh vaginanya yang menegang. Tak lama berselang, penisku terasa dialiri oleh cairan vaginanya yang keluar

“Tan,,Yanto juga mau keluaaaar… Aaaahhhh..”

“Keluarin di dalam aja Yan…”

Crooottt.. crooot.. crooot..

Akhirnya spermaku menyembur di dalam vaginanya. Kini cairan kewanitaannya bercampur dengan spermaku, sungguh menghasilkan kehangatan untuk penisku dan vaginanya.

Untuk beberapa saat kami berdua tak mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya terdengar suara nafas kami yang tak karuan iramanya. Kami sama-sama menikmati orgasme. Cika lemas hingga akhirnya rebahan disamping diriku, nampak spermaku mengalir keluar ke pahanya, namun hal itu tidak lagi dihiraukan oleh Cika.

Melihat dirinya yang lemas, aku mengambilkan bantal dan meletakkan di bawah kepalanya. Setelah itu kucium keningnya dan bibirnya kuberi kecupan mesra. Ia hanya tersenyum melihat perlakuanku kepadanya. Akhinya kami berdua tertidur, karena lelah dengan pertempuran kami barusan. TAMAT.



ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Tuesday, August 13, 2019

Rara Mulai Membuka Celanaku Dan Menghisap Adik Kecilku - LapetBecek

Rara Mulai Membuka Celanaku Dan Menghisap Adik Kecilku - LapetBecek


Kisah nyata !! utulah sedikit yang menceritakan tentang hal ini, aku dulu yang sebagai operator warnet akan menceritakan pertemuan ku dengan 3 ABG cantik dan melakukan sex dengannya.. mari kita simak woyoo…Sebelumnya saya akan memberitahu bahwa cerita ini terjadi sebelum saya mengenal lebih dalam soal internet.


Hanya luarnya saja. Ketika itu saya masih kursus di sebuah lembaga sebut saja ITK (bukan universitas). Saat itu saya masih belum begitu kenal dengan internet, dan saya masih dalam taraf pemula dan baru sampai dalam soal hardware.

Sejak berkenalan dengan seorang teman di ITK saya mulai mengenal apa itu internet. Dan saya suka sekali pergi ke warnet dan hampir tiap hari saya berada di sana. Semakin lama saya suka sekali ber-chatting ria sampai suka lupa waktu dan pulang malam hari.

Pada hari sabtu, saya seperti biasa suka nongkrong di warnet mulai jam 18:00, dan saya langsung mengecek e-mail. Setelah selesai saya suka browsing sambil chat. Pada saat itu hujan deras mengguyur seisi kota disertai angin.

Pada saat saya membeli minuman (di dalam warnet), saya melihat dua orang gadis yg memasuki warnet. Mereka terlihat basah kuyup karena kehujanan, dan ketika itu mereka mengenakan kaos warna putih dan biru (cewek yg satunya), dan celana pendek. Dari balik kaos putih basah itu saya bisa melihat sebuah BH warna merah muda, juga sepasang payudara montok agak besar.

Saya kembali ke meja dan melihat mereka berdua menempati meja di depan saya. Sambil menunggu jawaban dari chat, saya mencuri pandang pada dua gadis itu. Semakin lama saya lihat saya tidak bisa konsentrasi, mungkin karena cara duduk mereka yg hanya mengenakan celana pendek itu, sehingga terlihat paha putih mulus dan juga sepasang buah dada dalam BH yg tercetak jelas akibat baju yg basah.

Pada jam 20:00, listrik di warnet itu padam. Para penjaga warnet terlihat sibuk memberitahu bahwa listrik akan segera menyala dan meminta agar netter sabar. Tetapi 30 menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda bahwa listrik akan menyala sehingga sebagian netter merasa tidak sabar dan pulang. Sedangkan saya masih di dalam warnet dan ingin ikut pulang, tapi saya tidak bisa karena di luar hujan masih deras dan saya hanya membawa motor.

Begitu juga dengan 2 gadis di depan saya, mereka sudah membayar uang sewa dan tidak bisa pulang karena hujan masih deras. Mereka hanya bisa duduk di sofa yg disediakan pihak warnet (sofa yg digunakan untuk netter apabila warnet sudah penuh dan netter bersedia menunggu), wajah mereka tampak gelisah terlihat samar-samar akibat emergency light yg terlampau kecil, mungkin karena sudah malam dan takut tidak bisa pulang.

Melihat kejadian itu saya tidak tega juga, apalagi hawa menjadi dingin akibat angin yg masuk dari lubang angin di atas pintu. Saya pun mendekati mereka dan duduk di sofa. Ternyata mereka enak juga diajak ngobrol, dari situ saya mengetahui nama mereka adalah, Fira (baju putih) dan Rara (baju biru). Lagi enak-enaknya ngobrol kami dikejutkan oleh seorang cewek yg masuk ke dalam sambil tergesa-gesa.

Dari para penjaga yg saya kenal, cewek tadi adalah pemilik warnet. Saya agak terkejut karena pemilik warnet ini ternyata masih muda sekitar 25 tahun, cantik dan sexy. Cewek tadi menyuruh para penjaga pulang karena listrik tidak akan nyala sampai besok pagi.

Setelah semua penjaga pulang, cewek tadi menghampiri kami.

“Dik, Adik bertiga di sini dulu aja, kan di luar masih hujan, sekalian nemenin Mbak ya..” kata cewek yg punya nama Silla ini. Kemudian berjalan ke depan dan menurunkan rolling door.

“Saya bantu Mbak,” kataku.

“Oh, nggak usah repot-repot..” jawabnya. Tapi aku tetap membantunya, kan sudah di beri tempat berteduh. Setelah selesai aku menyisakan satu pintu kecil agar kalau hujan reda aku bisa lihat.

“Ditutup saja Dik, dingin di sini..” kata Silla, dan aku menutup pintu itu. Entah setan mana yg lewat di depanku, otak ini langsung berpikir apa yg akan terjadi jika ada tiga cewek dan satu pria dalam sebuah ruangan yg tertutup tanpa orang lain yg dapat melihat apa yg sedang terjadi di dalam. Aku kembali duduk di sofa sambil berbincang dengan mereka bertiga jadi sekarang ada empat orang yg tidak tahu akan berbuat apa dalam keremangan selain berbicara.

“Sebentar ya Dik, saya ke atas dulu, ganti baju..” kata Silla.

Aku bertanya dengan nada menyelidik, “Mbak tinggal di sini ya?”

“Iya, eh kalian di atas aja yuk supaya lebih santai, lagian baterai lampu sudah mau habis, ya..” katanya.

Kami bertiga mengikuti Mbak Silla ke atas. Warnet itu terdapat di sebuah ruko berlantai tiga, lantai satu dipakai untuk warnet, lantai dua dipakai untuk gudang dan tempat istirahat penjaga, lantai tiga inilah rumah Silla.

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Menaiki tangga ke lantai tiga, terdapat sebuah pintu yg akan menghentikan kita apabila pintu tidak dibuka, setelah masuk kami tidak merasa berada di sebuah ruko tapi di rumah mewah yg besar, kami disuruh duduk di ruang tamu. Silla bilang dia akan mandi dan menyalakan sebuah notebook agar kami bertiga tidak bosan menunggu dia mandi.

Ternyata notebook itu tidak memiliki game yg bisa membuat kami senang. Tapi aku sempat melihat shortcut bertuliskan 17Thn (ketika itu masih 17tahun.zip), aku menduga ini adalah permainan, ketika kubuka ternyata isinya adalah cerita yg membuat adikku berdiri. Fira dan Rara pun agak malu melihat cerita-cerita itu.

Tapi yg membuat aku tidak tahan adalah mereka tidak memperbolehkan aku menutup program itu dan mereka tetap membaca cerita itu sampai habis. Aku pun hanya bisa terbengong melihat mereka berada di kiri dan kananku. Setelah selesai membaca, Fira merapatkan duduknya dan aku bisa merasakan benda kenyal menempel di lengan kananku. Rara pun mulai menggosokkan telapak tangannya ke paha kiriku.

Sambil mereka melihat cerita yg lain, aku merasakan sakit di dalam celanaku. Aku sudah tidak bisa konsentrasi pada cerita itu, mereka semakin menjadi-jadi, bahkan Fira membuka kaosnya dengan alasan merasa panas, sedangkan Rara membuka kaosnya dengan alasan kaosnya basah dan takut masuk angin. Aku merasa panas juga melihat tubuh mereka, sambil membetulkan posisi adik, aku mengatakan kalau hawanya memang panas dan aku membuka baju juga.

Kini tangan mereka berdua dirangkulkan di tengkukku, aku semakin panas karena lenganku merasa ada dua benda kenyal yg menghimpit tubuhku dari kiri dan kanan. Akhirnya jebol juga iman ini, aku menaruh notebook itu di meja di depanku dan aku menciumi Fira dengan nafsu yg sudah memuncak, Fira pun tak mau kalah sama seranganku, dia membalas dengan liar.

Sedangkan Rara sibuk menciumi dan menjilati dadaku. Tangan kiriku kulingkarkan pada Rara dan mulai meremas buah dada yg masih tertutup BH itu, sedangkan tangan kananku kulingkarkan di tubuh Fira dan memasukkan ke dalam BH dan meremas buah dadanya. Rara mulai membuka celanaku dan menghisap k0ntol yg sudah tegang itu.

“Ouhh.. mmhh.. yahh..” aku mulai menikmati jilatan Rara pada kepala k0ntolku. Fira pun jongkok di depanku dan menjilat telurku. Aku hanya bisa pasrah melihat dan menikmati permainan mereka berdua. Kemudian Silla keluar dari kamar dengan selembar handuk menutupi tubuh, dia menarik meja di depanku supaya ada cukup tempat untuk bermain.

Silla berlutut sambil membuka celana Fira. Setelah celana Fira lepas, dia mulai menghisap M3mek Fira.
“Ooohh.. Ssshh.. ahh..” Fira mendesah. Tak lama kemudian Fira membalikkan tubuhnya dan sekarang posisi Silla dan Fira menjadi “69”.

Aku pun sudah tak tahan lagi, segera kuangkat Rara dan membaringkannya di lantai dan membuka celananya. Setelah terbuka aku langsung menghisap M3mek yg sedang merah itu. “Auuhh.. Ooohh.. Sayg..” desahan Rara semakin membuatku bernafsu.

Dengan segera aku mengarahkan k0ntolku ke M3mek Rara, dan mulai menusukkan secara perlahan. Rara merasa kesakitan dan mendorong dadaku, aku menghentikan k0ntolku yg baru masuk kepalanya itu.

Selang agak lama Rara mulai menarik pinggangku agar memasukkan k0ntol ke M3meknya, setelah masuk semua aku menarik perlahan-lahan dan memasukkannya kembali secara perlahan-lahan. “Ahh.. ayo Sayg.. ohh.. cepat..” Aku pun mulai mempercepat gerakanku. Dari tempatku terlihat Fira dan Silla saling menggesek-gesekkan M3mek mereka.

“Auuhh.. oouuhh.. iyahh.. yahh.. sshh.. hh..” desahan Rara berubah menjadi teriakan histeris penuh nafsu.

Tak lama kemudian Rara mencapai orgasme, tapi aku terus menusukkan k0ntol ke arah M3mek Rara. “Gantian donk, aku juga pingin nih..” kata Fira sambil menciumi bibir Rara. Aku pun menarik k0ntolku dan mengarahkan ke M3mek Fira setelah dia telentang.

Ketika k0ntolku masuk, M3meknya terasa licin sekali dan mudah sekali untuk masuk, rupanya dia telah mengalami orgasme bersama Silla. Tampaklah Rara dan Silla tertidur di lantai sambil berpelukan.

Sedangkan aku terus menggenjot tubuh Fira sampai akhirnya Fira sudah mencapai puncak dan aku merasakan akan ada sesuatu yg akan keluar. “Aahh..” suara yg keluar dari mulutku dan Fira. Akhirnya kami berempat tertidur dan pulang pada esok paginya.



ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Friday, August 9, 2019

Hisapanku Sesekali Kuselingi Dengan Gigitan Halus Pada Pentilnya - LapetBecek

Hisapanku Sesekali Kuselingi Dengan Gigitan Halus Pada Pentilnya - LapetBecek


Ini berawal dari pertemuanku dengan seorang wanita bernama Cika di sebuah mall di Ibukota, Namaku Yanto, kegiatan sehari-hariku adalah sebagai seorang mahasiswa, kebetulan hari itu aku sedang tidak ada jadwal kuliah sehingga aku memutuskan untuk bersantai sambil minum kopi.


Karena masih siang, mall yang kukunjungi masih sepi hanya terlihat beberapa orang saja yang berlalu lalang. Karena tujuanku adalah minum kopi di cafe favoritku, maka aku pun langsung saja melaju ke tempat tujuanku.

Aku sempat heran, wanita itu nampak seperti akan menghampiriku, daripada nanti dikira terlalu over PD maka aku pun stay cool saja. Ternyata perkiraanku tidak salah, wanita cantik itu memang berjalan ke arahku. Tercium aroma parfum yang ia kenakan, sungguh harum dan membuatku gagal fokus untuk sejenak.

“Mas, Pull and Bear sebelah mana ya?

Walaupun sempat kaget karena disapa saat sedang asyik menikmati parfumnya, aku berusaha tenang dan tidak memperlihatkan ekspresi kagetku.

“Ada di lantai 3, Tante..” karena toko yang ditanya merupakan favoritku setiap berbelanja baju, maka aku tahu sekali letaknya. Kebetulan saat itu posisi kami berada di lantai 1.
“Bisa minta tolong anterin ga, Mas..? Kebetulan aku lagi buru-buru, daripada nyari-nyari lagi..”

“Hmmm.. Oke, Tan. Saya tunjukkan jalannya.”

Setelah pembicaraan itu kami pun langsung beranjak dan menuju toko yang dimaksud. Dalam perjalanan itulah kami berbincang panjang lebar, sehingga kami pun saling kenal. Namanya Cika, dan domisili aslinya dari Surabaya pantas saja ia tidak mengetahui letak toko itu.

Di cafe itu lah aku mengenalnya lebih jauh lagi, dulunya dia merupakan seorang model majalah dan memutuskan untuk berhenti dari dunia tersebut setelah menikah dengan seorang pengusaha.

Saat ini suaminya sedang berkantor di luar negeri, sudah 1 bulan lamanya, yang anehnya ia juga menceritakan masalah penyakit disfungsi seksual yang dialami oleh suaminya, dalam hatiku sempat heran. Kenapa wanita ini begitu terbuka dengan orang yang baru dikenalnya. Namun obrolan kami terus saja mengalir.

Setelah selesai makan dan berbincang di cafe, Cika mengajakku untuk main ke rumahnya. Aku pun menurut saja, karena toh aku pun tidak ada kesibukan apa pun hari ini. Mobil yang dikendarai adalah sebuah mobil sport mewah yang hanya menyediakan 1 kursi penumpang saja, alias 2 pintu.

Karena hari itu aku sedang malas, kebetulan aku ke mall tadi memakai taksi online jadi aku ikut naik mobil Cika saat menuju rumahnya.

Rumahnya ternyata sangat megah, bergaya minimalis. Sangat mewah menurutku jika dilihat dari luar. Tak lama kami berhenti di depan pagar, datang seorang satpam membukakan pagar itu untuk kami. Sebelum sampai di rumahnya, tadi Cika sudah berpesan kepadaku jika ada yang bertanya, aku disuruh mengaku sebagai saudara suaminya.

Setelah memperkenalkan diriku kepada pembantunya, ia meminta pembantunya itu untuk memasak akan malam untuk kami.

“Silahkan Yanto duduk dulu, sebentar ya aku ganti baju.” katanya sembari meninggalkanku.

“Tan, kamar kecilnya dimana ya?” tanyaku sebelum Cika pergi.

“Sini, tante tunjukin.” katanya sambil menggandeng tanganku.

“Itu kamar mandinya,” Ia berkata sambil menunjuk ke arah kamar mandi yang dimaksud.

Aku pun langsung menuju ke arah yang dimaksud, ketika hendak menutup pintu tiba-tiba Cika menahan dari arah luar dan menggodaku.

“Jangan lama-lama lho..”

Saat sedang buang air kecil, aku perhatikan barang-barang yang ada di dalam kamar mandi itu. Tanpa sengaja aku melihat sebuah benda panjang berwarna pink di belakang botol shampoo.  Ketika kuperhatikan lagi, ternyata itu sebuah dildo.

Tiba-tiba Cika masuk ke kamar mandi, kebetulan pintunya memang tidak aku kunci. Sudah kaget karena melihat dildo di kamar mandi itu kali ini ditambah lagi dikagetkan oleh pelukan Cika dari belakang tubuhku.

Tangan kananku yang sedang memegang dildo itu dipegang olehnya sambil tangan kanannya meraih kemaluanku.

“Itu mainan aku, Yan pas lagi kepengen.” Bisiknya di belakang telingaku.

Aku diam sejenak, jantungku berdebar-debar.

“Itu masih kalah enak sama yang asli, Yan.” desahnya manja.

Tanpa permisi ia langsung menjilat bagian belakang telingaku, menimbulkan rasa geli yang teramat sangat. Sambil terus menciumi aku dari belakang ia mulai membuka celanaku.

“Jangan, Tan..”

“Kenapa, Yan? Ga suka ya?” Tanyanya sambil menjilat leher dan telingaku.

“Yanto masih perjaka, Tan..”

“Tidak apa-apa, Yan. Nanti tante ajarin. Mau kan..? Ikut Tante ke kamar aja biar lebih tenang..”

Aku dituntun olehnya keluar kamar mandi begitu masuk kamar dan sudah berada di dekat ranjangnya. Ia menoleh ke arahku dan menciumku. Mulutnya mengkulum bibirku dengan liar dan lidahnya juga bermain-main di dalam mulutku.

Tangannya masih berusaha membuka celanaku. Aku pasrah saja sambil mendekap badannya. Setelah celanaku berhasil dilepas, ciuman Cika beralih ke leher dan terus turun ke dada, perut hingga akhirnya kepala Cika berada tepat di depan kemaluanku.

“Enak, Tan rasanya.” kataku sambil mendesah.

“Berdiri terus ya, Yan..” perintahnya sambil tersenyum nakal kepadaku.

Aku pun menuruti permintaannya.

“Penis kamu enak banget, Yan..”

Dia langsung melahap kemaluanku dan mengocok-ngocok menggunakan mulutnya.

“Aaah..” desahku yang sedang keenakan.”

Gerakannya tak hanya maju mundur, terkadang penisku di arahkan ke kiri kanan saat berada dalam mulutnya.

“Aaaahhh, pelan-pelan mbak..” pintaku saat hisapannya semakin cepat.

Dia tidak memperdulikan ucapanku dan meneruskan kegiatannya. Hisap, lepas, hisap, lepas, terus menerus hingga ia akhirnya merasa pegal.

“Penis kamu enak banget Yan.” katanya sambil mengelap bibirnya yang penuh lendir.

Sorot matanya penuh nafsu, menunjukkan bahwa dirinya saat itu sedang bernafsu.

“Udah lama banget Cika ga ketemu beginian, Yan..”

Ia kembali menjilati penisku diiringi dengan permainan lidahnya ya dahsyat, sambil berusaha membuka kaosku, jilatannya menjalar hingga ke perutku. Aku pun tidak mau diam saja, aku juga membuka bajunya. Menyembul lah kedua payudaranya, kebetulan saat itu ia tidak mengenakan bra.

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

“Diliatin aja, Yan..?” desahnya sambil mengarahkan kepalaku ke payudaranya.

Kali ini tanpa menunggu perintah selanjutnya, segera kusambar payudara itu dengan mulutku sambil tanganku meremas-remas payudara yang satunya lagi.

Cika keenakan sampai duduk di ranjang, kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa kulepas sama sekali mulut dan tanganku dari payudaranya.

“Aaah.. terus Yan.. sedot teruss, putingnya juga Yan.. Oooohh.. Aaaahh..”

Hisapanku sesekali kuselingi dengan gigitan halus pada putingnya.

“Aaaaahh.. Terus Yan.. Enak… Aaaahhh..” Desahnya sambil badannya menggelinjangkan

Melihat Cika yang semakin terbuai hawa nafsu, tanganku mulai mengarah ke kemaluannya yang saat itu masih dibalut dengan celana dalam. Rupanya vagina Cika sudah basah, tak lama kumainkan dari luar celana dalamnya.

Tanganku mulai kumasukkan ke dalam celana dalamnya, akhirnya kini aku memainkan vaginanya langsung tanpa terganggu apapun. Cairan kewanitaannya terasa betul telah membasahi keseluruhan vaginanya.

Pinggul Cika naik turun saat jariku bermain di vaginanya. Adegan ini pun semakin memanas saat jariku menyentuh klitorisnya, tubuhnya bergoyang hebat. Tangannya memegang tanganku memberi arahan agar terus bermain di area itu.

”Terus Yan… Di situ enaaak.. Aaaaahhh..” Desahnya.

Ciumanku kupindahkan ke daerah lehernya yang sedari tadi terpampang jelas karena Cika terus mendongak akibat permainan jariku.

“Yan, Tante uda ga tahan.. Aaah..”

Ia membalik posisi kami, kini giliran diriku yang rebahan di atas ranjang. Setelah aku dalam posisi terlentang, ia mengangkangi tubuhku dan mengarahkan kemaluannya ke wajahku, dan mulai membuka celana dalamnya.

Begitu terbuka, tercium jelas aroma daerah kemaluannya itu yang membuatku semakin terangsang. Nampak vaginanya berlendir saat itu.

“Bau nya enak sekali Tante..”

“Kalau suka jangan cuma dilihat donk, jilatin nih..” ia berkata sambil menurunkan pinggul dan mengarahkan vaginanya ke mulutku.

Tentu saja aku langsung melaksanakan tugas yang diberikan kali ini dengan sigap. Kujilati bibir vaginanya sambil sesekali lidahku menyelinap masuk dari sela-sela bibir vaginanya itu, hingga akhirnya saat kujilat klitorisnya.

“Terus jilat Yan, itu disitu.. aaaaahhh..aaahh.. jilatin Yan… ooohh..” desahnya sambil memegang kepalaku dan menggoyangkan pinggulnya maju mundur sambil terkadang melakukan gerakan berputar-putar.

Tak lama kemudian Cika merubah posisi kami, ia berbalik untuk rebahan aku pun mengikuti gerakannya sambil terus menjilati kemaluannya, kini posisiku telungkup di depan vaginanya.

Kupeluk erat ke dua pahanya itu agar mulutku tak terlepas dari vaginanya, setelah beberapa saat kuhisap dan kujilat klitorisnya Cika mengerang dan mendesah hebat, pahanya dirapatkan hingga kepalaku terjepit oleh ke dua pahanya.

“Aaaahh.. Ooooohh.. Aaaaahh.. Tante mau keluaaaar.. Aaaaahh….” desahnya.

Akhirnya Cika mengalami orgasme, terasa cairan hangat keluar dari vaginanya membasahi mulutku. Sementara tubuhnya menyentak dan menggeliat hebat. Untuk sesaat kubiarkan dirinya menikmati klimaksnya.

Setelah selesai menikmati orgasme, Cika bangun dan mengubah posisiku menjadi posisi duduk. Tanpa diberi aba-aba, ia langsung duduk menghadapku di atas pahaku. Ia mengangkat kepalaku yang berada tepat di depan payudaranya, sambil memegang pipiku ia mulai menciumi bibirku yang masih basah dengan cairan kewanitaan.

Kami berciuman dengan liar, Cika pun menggerakkan pinggulnya maju mundur sehingga vaginanya bergesekan dengan penisku. Sedang asyik-asyiknya berciuman, tangan Shella meraih penisku dan mengarahkannya ke vagina Cika. Perlahan tapi pasti penisku mulai melesak masuk ke dalam vaginanya.

“Ooohh.. ooohhh.. Penis kamu enak sekali Yan.. aaaahhhh….”

Aku tidak memberi respon apapun terhadap racauannya itu, karena aku sedang sibuk menikmati payudaranya. Kujilati putingnya dengan penuh nafsu.

“Terus yan, jangan berhenti.. Aaaaaahhh.. Aaaahhh… Nikmatnya Yan.. Ooohhh…”

Terkadang aku menyentakkan pinggulku ke atas mengimbangi gerakan tubuhnya yang naik turun. Cika benar-benar menikmati setiap hentakan yang kulakukan. Cika semakin liar, tubuhku tiba-tiba di dorong olehnya hingga rebahan. Aku pasrah tak berdaya seperti orang yang tengah diperkosa.

Begitu aku rebahan, Cika melanjutkan goyangannya, namun kali ini makin ganas. Maju mundur, naik turun dan terus menerus tanpa henti. Tanganku diraih dan diletakkan di payudaranya, kuremas-remas payudaranya. Terkadang Cika terlihat mendongakkan kepala ke atas sambil bergoyang maju mundur.

“Aaaahhhh…. AHhhhhh.. ooooohh.. Aaaahhhh..” desahnya makin tidak karuan.

15 menit lamanya aku digempur seperti itu, aku merasa akan mencapai klimaks. Vagina Cika juga terasa berkedut-kedut memijat penisku, hal tersebut menandakan dirinya sudah dekat dengan klimaks. Vaginanya terasa semakin basah, terdengar dari suara kecipak yang dihasilkan dalam setiap goyangan Cika.

“Aaahhh.. Tantee.. Yanto mau keluuaaarrr… Aaahhh”

“Tante juga, yan… Aaaaahhh.. barengan yaaaa… ooohhhh…”

Tangannya memeluk erat tubuhku.

“Aaaaaahhhhh… Aaaaaaaaaahhhhh..” Desahnya panjang.

“Tanteee keluaaar Yan…. Ooooohhh….”

Dia mengerang sambil menghentak dengan liar. Penisku benar-benar terasa diperah oleh vaginanya yang menegang. Tak lama berselang, penisku terasa dialiri oleh cairan vaginanya yang keluar

“Tan,,Yanto juga mau keluaaaar… Aaaahhhh..”

“Keluarin di dalam aja Yan…”

Crooottt.. crooot.. crooot..

Akhirnya spermaku menyembur di dalam vaginanya. Kini cairan kewanitaannya bercampur dengan spermaku, sungguh menghasilkan kehangatan untuk penisku dan vaginanya.

Untuk beberapa saat kami berdua tak mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya terdengar suara nafas kami yang tak karuan iramanya. Kami sama-sama menikmati orgasme. Cika lemas hingga akhirnya rebahan disamping diriku, nampak spermaku mengalir keluar ke pahanya, namun hal itu tidak lagi dihiraukan oleh Cika.


ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Thursday, August 8, 2019

Tante Erni Menyeruhku Mencebokan Memeknya Yang Sehabis Pipis - LapetBecek

Tante Erni Menyeruhku Mencebokan Memeknya Yang Sehabis Pipis - LapetBecek


Kejadian ini terjadi ketika aku kelas 3 SMA, yah aku perkirakan umur aku waktu itu baru saja 14 tahun. Aku entah kenapa yah perkembangan sexnya begitu cepat sampai-sampai umur segitu ssudah mau ngerasain yang enak-enak.


Ah itu semua karena temen nyokap kali yah, Soalnya temen nyokap Aku yang namanya Tante Erni (biasa kupanggil dia begitu) orangnya cantik banget, langsing dan juga awet muda bikin aku bergetar.Tante Erni ini tinggal dekat rumahku, hanya beda 5 rumahlah, nah Tante ini cukup deket sama keluargaku meskipun enggak ada hubungan saudara.

Dan dapat dipastikan kalau sore biasanya banyak ibu-ibu suka ngumpul di rumahku buat sekedar ngobrol bahkan suka ngomongin suaminya sendiri. Nah Tante inilah yang bikin aku cepet gede (maklumlah anak masih puber kan biasanya suka yang cepet-cepet).

Biasanya Tante Erni kalau ke rumah Aku selalu memakai daster atau kadang-kadang celana pendek yang bikin aku ser.. ser.. ser.. Biasanya kalau sudah sore tuh ibu-ibu suka ngumpul di ruang TV dan biasanya juga aku pura-pura nonton TV saja sambil lirak lirik. Tante ini entah sengaja atau nggak aku juga enggak tahu yah. Dia sering kalau duduk itu tuh mengangkang, kadang pahanya kebuka dikit bikin Aku ser.. ser lagi deh hmm.

Apa keasyikan ngobrolnya apa emang sengaja Aku juga enggak bisa ngerti, tapi yang pasti sih aku kadang puas banget sampai-sampai kebayang kalau lagi tidur. Kadang kalau sedang ngerumpi sampai ketawa sampai lupa kalau duduk nya Tante Erni ngangkang sampai-sampai celana dalemnya keliatan (wuih aku suka banget nih).

Pernah aku hampir ketahuan pas lagi ngelirik wah rasanya ada perasaan takut malu sampai-sampai Aku enggak bisa ngomong sampai panas dingin tapi Tante malah diam saja malah dia tambahin lagi deh gaya duduknya. Nah dari situ aku sudah mulai suka sama tuh Tante yang satu itu. Setiap hari pasti Aku melihat yang namanya paha sama celana dalem tuh Tante.

Pernah juga Aku waktu jalan-jalan bareng ibu-ibu ke puncak nginep di villa. Ibu-ibu hanya bawa anaknya, nah kebetulan Mami Aku ngsajak Aku pasti Tante Erni pula ikut wah asyik juga nih pikir ku. Waktu hari ke-2 malam-malam sekitar jam 8-9 mereka ngobrol di luar deket taman sambil bakar jagung.

Ternyata mereka sedang bercerita tentang hantu, ih dasar ibu-ibu masih juga kaya anak kecil ceritanya yang serem-serem, pas waktu itu Tante Erni mau ke WC tapi dia takut. Tentu saja Tante di ketawain sama gangnya karena enggak berani ke WC sendiri karena di villa enggak ada orang jadinya takut sampai-sampai dia mau kencing di deket pojokan taman.

Lalu Tante Erni menarik tangan Aku minta ditemenin ke WC, yah aku sih mau saja. Pergilah aku ke dalam villa sama Tante Erni, sesampainya Aku di dalam villa Aku nunggu di luar WC eh malah Tante ngajak masuk nemenin dia soalnya katanya dia takut.

“Lex temenin Tante yah tunggu di sini saja buka saja pintu nya enggak usah di tutup, Tante takut nih”, kata Tante Erni sambil mulai berjongkok.

Dia mulai menurunkan celana pendeknya sebatas betis dan juga celana dalamnya yang berwarna putih ada motif rendanya sebatas lutut juga. “Serr.. rr.. serr.. psstt”, kalau enggak salah gitu deh bunyinya. Jantungku sampai deg-degan waktu liat Tante Erni kencing, dalam hatiku, kalau saja Tante boleh ngasih liat terus boleh memegangnya hmm. Sampai-sampai aku bengong ngeliat Tante.

“Heh kenapa kamu Lex kok diam gitu awas nanti kesambet” kata Tante.
“Ah enggak apa-apa Tante”, jawabku.
“Pasti kamu lagi mikir yang enggak-enggak yah, kok melihatnya ke bawah terus sih?”, tanya Tante Erni.
“Enggak kok Tante, aku hanya belum pernah liat cewek kencing dan kaya apa sih bentuk itunya cewek?” tanyaku.

Tante Erni cebok dan bangun tanpa menaikkan celana sama CDnya.

“Kamu mau liat Lex? Nih Tante kasih liat tapi jangan bilang-bilang yah nanti Tante enggak enak sama Mamamu”, kata Tante Erni.

Aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Lalu tanganku dipegang ke arah vaginanya. Aku tambah deg-degan sampai panas dingin karena baru kali ini Aku megang sama melihat yang namanya memek. Tante membiarkanku memegang-megang vaginanya.

“Sudah yah Lex nanti enggak enak sama ibu-ibu yang lain dikirain kita ngapain lagi”.
“Iyah Tante”, jawabku.

Lalu Tante Erni menaikan celana dalam juga celana pendeknya terus kami gabung lagi sama ibu-ibu yang lain. Esoknya aku masih belum bisa melupakan hal semalam sampai sampai aku panas dingin. Hari ini semua pengen pergi jalan-jalan dari pagi sampai sore buat belanja oleh-oleh rekreasi. Tapi aku enggak ikut karena badanku enggak enak.

“Lex, kamu enggak ikut?” tanya mamiku.
“Enggak yah Mam aku enggak enak badan nih tapi aku minta di bawain kue mochi saja yah Mah” kataku.
“Yah sudah istirahat yah jangan main-main lagi” kata Mami.
“Erni, kamu mau kan tolong jagain si Alex nih yah, nanti kalau kamu ada pesenan yang mau di beli biar sini aku beliin” kata Mami pada Tante.
“Iya deh Kak aku jagain si Alex tapi beliin aku tales sama sayuran yah, aku mau bawa itu buat pulang besok” kata Tante.

Akhirnya mereka semua pergi, hanya tinggal aku dan Tante Erni berdua saja di villa, Tante baik juga sampai-sampai aku di bikinin bubur buat sarapan, jam menunjukan pukul 9 pagi waktu itu.

“Kamu sakit apa sih Lex? kok lemes gitu?” tanya Tante sambil nyuapin aku dengan bubur ayam buatannya.
“Enggak tahu nih Tante kepalaku juga pusing sama panas dingin aja nih yang di rasa” kataku.

Tante Erni begitu perhatian padaku, maklumlah di usia perkawinannya yang sudah 5 tahun dia belum dikaruniai seorang buah hati pun.

“Kepala yang mana Lex atas apa yang bawah?” kelakar Tante Erni padaku.

Aku pun bingung,

“Memangya kepala yang bawah ada Tante? kan kepala kita hanya satu?” jawabku polos.
“Itu tuh yang itu yang kamu sering tutupin pake segitiga pengaman” kata Tante sambil memegang si kecilku.
“Ah Tante bisa saja” kataku.
“Eh jangan-jangan kamu sakit gara-gara semalam yah” aku hanya diam saja.

Selesai sarapan badanku dibasuh air hangat oleh Tante, pada waktu dia ingin membuka celanaku, kubilang, “Tante enggak usah deh Tante biar Alex saja yang ngelap, kan malu sama Tante”
“Enggak apa-apa, tanggung kok” kata Tante Erni sambil menurunkan celanaku dan CDku.

Dilapnya si kecilku dengan hati-hati, aku hanya diam saja.

“Lex mau enggak pusingnya hilang? Biar Tante obatin yah”
“Pakai apa Tan, aku enggak tahu obatnya” kataku polos.
“Iyah kamu tenang saja yah” kata Tante .

Lalu di genggamnya batang penisku dan dielusnya langsung spontan saat itu juga penisku berdiri tegak. Dikocoknya pelan-pelan tapi pasti sampai-sampai aku melayang karena baru pertama kali merasakan yang seperti ini.

“Achh.. cchh..” aku hanya mendesah pelan dan tanpa kusadari tanganku memegang vagina Tante Erni yang masih di balut dengan celana pendek dan CD tapi Tante hanya diam saja sambil tertawa kecil terus masih melakukan kocokannya. Sekitar 10 menit kemudian aku merasakan mau kencing.

“Tante sudah dulu yah aku mau kencing nih” kataku.

“Sudah, kencingnya di mulut Tante saja yah enggak apa-apa kok” kata Tante Erni.

Aku bingung campur heran melihat penisku dikulum dalam mulut Tante Erni karena Tante tahu aku sudah mau keluar dan aku hanya bisa diam karena merasakan enaknya.

“Hhgg..achh.. Tante aku mau kencing nih bener ” kataku sambil meremas vagina Tante yang kurasakan berdenyut-denyut.

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Tante Ernipun langsung menghisap dengan agresifnya dan badanku pun mengejang keras.

“Croott.. ser.. err.. srett..” muncratlah air maniku dalam mulut Tante Erni, Tante Erni pun langsung menyedot sambil menelan maniku sambil menjilatnya. Dan kurasakan vagina Tante berdenyut kencang sampai-sampai aku merasakan celana Tante lembab dan agak basah.

“Enak kan Lex, pusingnya pasti hilang kan?” kata Tante Erni.
“Tapi Tante aku minta maaf yah aku enggak enak sama Tante nih soalnya Tante..”
“Sudah enggak apa-apa kok, oh iya kencing kamu kok kental banget, wangi lagi, kamu enggak pernah ngocok Lex?”
“Enggak Tante”

Tanpa kusadari tanganku masih memegang vagina Tante.

“Loh tangan kamu kenapa kok di situ terus sih”. Aku jadi salah tingkah
“Sudah enggak apa-apa kok, Tante ngerti” katanya padaku.
“Tante boleh enggak Alex megang itu Tante lagi” pintaku pada Tante.

Tante Erni pun melepaskan celana pendeknya, kulihat celana dalam Tante basah entah kenapa.

“Tante kencing yah?” tanyaku.
“Enggak ini namanya Tante nafsu Lex sampai-sampai celana dalam Tante basah”.

Dilepaskannya pula celana dalam Tante dan mengelap vaginanya dengan handukku. Lalu Tante Erni duduk di sampingku

“Lex pegang nih enggak apa-apa kok sudah Tante lap” katanya. Akupun mulai memegang vagina Tante Erni dengan tangan yang agak gemetar, Tante hanya ketawa kecil.
“Lex, kenapa? Biasa saja donk kok gemetar kaya gitu sih” kata Tante.

Dia mulai memegang penisku lagi,

“Lex Tante mau itu nih”.
“Mau apa Tante?”
“Itu tuh”, aku bingung atas permintaan Tante Erni.
“Hmm itu tuh, punya kamu di masukin ke dalam itunya Tante kamu mau kan?”
“Tapi Alex enggak bisa Tante caranya”
“Sudah, kamu diam saja biar Tante yang ajarin kamu yah” kata Tante padaku.

Mulailah tangannya mengelus penisku biar bangun kembali tapi aku juga enggak tinggal diam aku coba mengelus-elus vagina Tante Erni yang di tumbuhi bulu halus.

“Lex jilatin donk punya Tante yah” katanya.
“Tante Alex enggak bisa, nanti muntah lagi”
“Coba saja Lex”

Tante pun langsung mengambil posisi 69. Aku di bawah, Tante Erni di atas dan tanpa pikir panjang Tante pun mulai mengulum penisku.

“Achh.. hgghhghh.. Tante”

Aku pun sebenarnya ada rasa geli tapi ketika kucium vagina Tante tidak berbau apa-apa. Aku mau juga menjilatinya kurang lebih baunya vagina Tante Erni seperti wangi daun pandan (asli aku juga bingung kok bisa gitu yah) aku mulai menjilati vagina Tante sambil tanganku melepaskan kaus u can see Tante dan juga melepaskan kaitan BH-nya, kini kami sama-sama telanjang bulat.

Tante Erni pun masih asyik mengulum penisku yang masih layu kemudian Tante Erni menghentikannya dan berbalik menghadapku langsung mencium bibirku dengan nafas yang penuh nafsu dan menderu.

“Kamu tahu enggak mandi kucing Lex” kata Tante Erni.

Aku hanya menggelengkan kepala dan Tante Erni pun langsung menjilati leherku menciuminya sampai-sampai aku menggelinjang hebat, ciumannya berlanjut sampai ke putingku, dikulumnya di jilatnya, lalu ke perutku, terus turun ke selangkanganku dan penisku pun mulai bereaksi mengeras.

Dijilatinya paha sebelah dalamku dan aku hanya menggelinjang hebat karena di bagian ini aku tak kuasa menahan rasa geli campur kenikmatan yang begitu dahsyat. Tante pun langsung menjilati penisku tanpa mengulumnya seperti tadi dia menghisap-hisap bijiku dan juga terus sampai-sampai lubang pantatku pun dijilatinya sampai aku merasakan anusku basah.

Kulihat payudara Tante Erni mengeras, Tante menjilati sampai ke betisku dan kembali ke bibirku dikulumnya sambil tangannya mengocok penisku, tanganku pun meremas payudara Tante. Entah mengapa aku jadi ingin menjilati vagina Tante, langsung Tante kubaringkan dan aku bangun, langsung kujilati vagina Tante Erni seperti menjilati es krim.

“Achh.. uhh.. hhghh.. acch Lex enak banget terus Lex, yang itu isep jilatin Lex” kata Tante sambil menunjuk sesuatu yang menonjol di atas bibir vaginanya.

Aku langsung menjilatinya dan menghisapnya, banyak sekali lendir yang keluar dari vagina Tante Erni tanpa sengaja tertelan olehku.

“Lex masukin donk Tante enggak tahan nih”
“Tante gimana caranya?”

Tante Erni pun menyuruhku tidur dan dia jongkok di atas penisku dan langsung menancapkannya ke dalam vaginanya. Tante naik turun seperti orang naik kuda kadang melakukan gerakan maju mundur. Setengah jam kami bergumul dan Tante Erni pun mengejang hebat.

“Lex Tante mau keluar nih eghh.. huhh achh” erang Tante Erni.

Akupun di suruhnya untuk menaik turunkan pantatku dan tak lama kurasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari dalam vagina Tante. Hmm sungguh pengalaman pertamaku dan juga kurasakan vagina Tante Erni mungurut-urut penisku dan juga menyedotnya. Kurasakan Tante sudah orgasme dan permainan kami terhenti sejenak. Tante tidak mencabut penisku dan membiarkanya di dalam vaginanya.

“Lex nanti kalau mau kencing kaya tadi bilang ya” pinta Tante Erni padaku.

Akupun langsung mengiyakan tanpa mengetahui maksudnya dan Tante Ernipun langsung mengocok penisku dengan vaginanya dengan posisi yang seperti tadi.

“Achh .. Tante enak banget achh.., gfggfgfg..” kataku dan tak lama aku pun merasakan hal yang seperti tadi lagi.
“Tante, Alex kayanya mau kencing niih”

Tante Erni pun langsung bangun dan mengulum penisku yang masih lengket dengan cairan kewanitaanya, tanpa malu dia menghisapnya dan tak lama menyemburlah cairan maniku untuk yang ke 2 kalinya dan seperti yang pertama Tante pun menelannya dan menghisap ujung kepala penisku untuk menyedot habis maniku dan akupun langsung lemas tapi disertai kenikmatan yang alang kepalang.

Kami pun langsung mandi ke kamar mandi berdua dengan telanjang bulat dan kami melakukannya lagi di kamar mandi dengan posisi Tante Erni menungging di pinggir bak mandi. Aku melakukannya dengan cermat atas arahan Tante yang hebat.

Selasai itu jam pun menunjukan pukul 1 siang langsung makan siang dengan telur dadar buatan Tante, setelah itu kamipun capai sekali sampai-sampai tertidur dengan Tante Erni di sampingku, tapi tanganku kuselipkan di dalam celana dalam Tante. Kami terbangun pada pukul 3 sore dan sekali lagi kami melakukannya atas permintaan Tante, tepat jam 4:30 kami mengakhiri dan kembali mandi, dan rombongan ibu-ibu pun pulang pukul 6 sore.

“Lex kamu sudah baikan?” tanya Mamiku.
“Sudah mam, aku sudah seger n fit nih” kataku.
“Kamu kasih makan apa Ni, si Alex sampai-sampai langsung sehat” tanya Mami sama Tante.
“Hanya bubur ayam sama makan siang telur dadar terus kukasih saja obat anti panas” kata Tante Erni.

Esoknya kamipun pulang ke jakarta dan di mobil pun aku duduk di samping Tante Erni yang semobil denganku. Mami yang menyopir ditemani Ibu Herman di depan. Di dalam mobilpun aku masih mencuri-curi memegang barangnya Tante.

Sampai sekarang pun aku masih suka melakukannya dengan Tante bila rumahku kosong atau terkadang ke hotel dengan Tante Erni. Sekali waktu aku pernah mengeluarkan spermaku di dalam sampai 3 kali. Kini Tante sudah dikarunia 2 orang anak yang cantik.

Baru kuketahui bahwa suami Tante ternyata mengalami ejakulasi dini. Sebenarnya kini aku bingung akan status anak Tante Erni. Yah, begitulah kisahku sampai sekarang aku tetap menjadi simpanan Tante bahkan aku jadi lebih suka dengan wanita yang lebih tua dariku.

Pernah juga aku menemani seorang kenalan Tante yang nasibnya sama seperti Tante Erni, mempunyai suami yang ejakulasi dini dan suka daun muda buat obat awet muda, dengan menelan air mani pria muda.



ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Tuesday, August 6, 2019

Jemari Saya Terus Mengksplorasi di Liang Memek Ratu Yang Basah - LapetBecek

Jemari Saya Terus Mengksplorasi di Liang Memek Ratu Yang Basah - LapetBecek


Dua minggu setelah resmi jadian dengan Ratu, saya semakin gencar mengeskplorasi tubuh pacar baru saya itu, Kami sama-sama belum berpengalaman dalam sex, masih terhitung sebagai newcomer di bidang yang satu ini. Kendati demikian, saya sudah sukses menjelajahi buah dada dan sekitarnya.


Malam minggu itu saya menargetkan menjelajah sekitar selangkangannya. Saya penasaran banget dengan yang namanya vagina cewek.

“Ratu, ayo dong buka. Sedikit aja” pinta saya pada Ratu, sembari menggerayangi wilayah sekitar perut ke bawah.

Ratu kelihatan sangat ketakutan, tapi juga penasaran, kepingin tahu rasanya diobok-obok sama pacarnya sendiri.

“Jangan sayang…” balas Ratu manja, sembari berusaha menepis jari-jemari saya yang mulai berkeringat dan sedikit gemetar.

Nafas saya tersengal. Begitu pun nafas dia. Kami melakukannya di atas sofa ruang keluarga Ratu. Kebetulan di rumah itu cuma ada mamanya Ratu. Menurut Ratu, mamanya sudah tidur. Maklum sudah lewat jam 9 malam.

Setengah jam lebih usaha jari-jari saya menerobos masuk ke selangkangan Ratu gagal. Saya lantas memutuskan untuk pulang. Ratu menahan.

“Kok kamu gitu sih. Sebentar lagi deh sayang…”

“Kamunya sih kayak gini. Kan kita dah resmi jadian…” timpalku.

Kami pun bernegosiasi. Saya menuntut untuk bisa memegang liang vagina pacar saya, sementara dia menolak. Setelah berceramah panjang lebar, Ratu pun menyerah. Dia pasrah saat jari-jemari saya menyusup lewat sela-sela risleting celana jeans belelnya. Matanya terpejam, antara takut dan nikmat, ketika telunjuk saya pelan-pelan menggesek bibir kemaluannya.

Makin lama jari-jari saya makin liar menggesek-gesek, membuat Ratu mendesah-desah.

“Ssshh… mmhhh… mmm…”

Saya makin kencang menggesek. Saya kocok-kocok liang vaginanya itu. Ratu makin keenakan. Saya kian konak mendengar setiap desah nafasnya.

“Ssshhhh… aahhh… Sayang… hmm… aahhh… nakall kamu… aahhh…”

Saya kencangkan volume tivi untuk mengimbangi suara desahan nafas Ratu. Sebab, jarak antara sofa tempat kami bercumbu tak jauh dari kamar mamanya. Celaka kalau sampai mamanya terbangun dan melihat kami sedang bergumul di ruang tamu.

Ratu makin tak karuan mendesah,

“Sssshhh… emmmhh… Sayang… oohhh…”

Saya konak berat. Batang kemaluan saya sudah keras menyodok-nyodok ingin keluar dari peraduannya. Tapi, saya belum berani untuk mengeluarkannya, takut kalau nanti mamanya bangun, bisa berabe jadinya. Alhasil saya cuma bisa menggesek-gesekkan batang penis saya ke paha Ratu. 

Sambil bergesek ria, jari-jemari saya terus melakukan eksplorasi di liang vagina Ratu yang basah. Memeknya masih rapat. Yah, namanya juga perawan. Bulu-bulunya halus. Sesekali saya cabut jari-jari saya dari liang vagina itu, lalu saya jilati dan saya masukkan ke mulut Ratu.

“Ssshhh… hhmmm…”

Pukul 10 malam permainan eksplorasi saya di selangkangan Ratu berakhir. Ratu lemas lunglai saya buat. Dia terus menggelendot di tubuh saya sampai saya masuk ke sedan tua peninggalan ayah saya. Sejak kejadian malam itu, saya kian sering bergumul dengan pacar saya, di rumahnya. 

Saya colok-colok liang kemaluannya, dan Ratu pun sudah berani membalasnya dengan meremas-remas batang penis saya. Kami melakukanya tanpa bertelanjang.

Hingga pada suatu ketika saya memutuskan untuk lebih berani lagi melakukan sex dengan pacar ini. Celana panjang saya dan celana Ratu saya turunkan sebatas dengkul, hingga kami bisa sama-sama jelas menyaksikan barang masing-masing berada dalam kondisi konak. Seperti biasa, permainan ini kami lakukan saat mamanya Ratu sudah tertidur. Sepanjang permainan ini lampu ruang tamu rumah kami buat temaram.

Sementara volume tv digedein. Dengan begitu, suara-suara desahan Ratu tak begitu mencolok. Saya dan pacar saya yakin sekali permainan kami aman. Sebab, mamanya Ratu kalau sudah tidur tidak akan bangun-bangun lagi.

Tante Ani, mamanya Ratu, seorang janda. Meskipun usianya sudah masuk kepala empat, namun masih seksi. Saya suka konak kalau melihat dia memakai daster, atau jeans ketat. Pantatnya terlihat seksi. Yang paling menarik darinya adalah buah dadanya yang mancung. Ditambah paras wajahnya yang ayu, menjadikan tante Ani menantang sekali bagi setiap lelaki.

Malam itu saya dan Ratu sudah semakin berani melakukan eksplorasi seks di ruang tamu rumahnya. Tubuh kami sudah separuh bugil, dimana celana kami sudah melorot ke bawah mata kaki walaupun tetap masih menempel.

Penis saya berdiri tegak lurus seperti rudal yang siap diluncurkan dari porosnya. Sementara liang vagina Ratu yang merah terbuka lebar seakan tersenyum renyah kepada penis saya. Meski demikian, kami masih sama-sama takut untuk melakukan ML. Yang berani saya lakukan hanyalah petting.

“Hhmmm… ssshh… aahhhh…” Ratu tak henti-hentinya mendesah setiap saya gesek-gesekkan batang penis saya. Makin lama makin cepat saya gesekkan.

“Aaahhh… hmmmm… yesss…” saya pun meracau.

“Ratu… oh… aku… mau keluar… nihhh… hmmm… oohhhh… enakk… mmhhh…”

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Goyangan pinggul Ratu mengimbangi gesekan-gesekan batang penis saya. Uhhh… yess… oohhh… dan akhirnya cairan kental peju saya muncrat keluar. Crott.. crott.. crottt…

Saya terkulai lemas di atas tubuh Ratu. Kami berpelukan erat. Keringat mengucur deras di tubuh kami. Saya ciumi bibir mungilnya.

“Aku sayang kamu say…”

Selagi kami tengah melepaskan kelelahan, tiba-tiba pintu kamar Tante Ani terbuka. Secepat kilat saya dan Ratu berpakaian. Tapi sayang, Tante Ani sudah keburu melihat situasi ini. Dengan pandangan penuh amarah, Tante Ani memelototi kami berdua.

“Apa yang kalian lakukan di rumah ini?” bentaknya dengan nada emosi.

Batang penis saya sempat terlihat olehnya, karena saya tidak bisa cepat kalau memakai celana. Anehnya, meski berada dalam situasi genting seperti itu, burung saya masih saja tak kenal kompromi. Dia tetap mengeras. Sorot mata Tante Ani tak bisa dibohongi, menunjukkan rasa konak juga. Sebagai perempuan normal yang hidup menjanda lebih dari 3 tahun, tentu saja pemandangan seperti ini membuatnya bergairah. Tapi, karena disitu ada Ratu, mungkin saja dia berusaha menutupi kegusarannya ini dengan pura2 tidak terima kami berbuat mesum di ruang tamunya.

Ratu sendiri sudah mengenakan pakaiannya, meskipun bh-nya tak sempat dipakai dan terselip disela-sela sofa. Dia tampak panik sekali dimarahi mamanya karena ketahuan berpetting ria dengan saya.

“Ratu! Masuk!!” bentak Tante Ani.

Saya cuma bisa tertunduk, tak berani memandang si tante seksi ini. Tapi, dalam hati saya ada rasa bangga juga bisa memperlihatkan batang kemaluan saya yang cukup panjang dan besar ini. Ujung penis saya persis seperti topi baja tentara. Diameternya cukup membuat wanita manapun akan tergiur dan terangsang ingin memegangnya.

Setelah Ratu masuk ke kamarnya, tinggallah saya dan tante Ani di ruang tamu itu. Dia memarahi saya cukup lama, sembari memberi nasihat agar kami tidak lagi mengulangi perbuatan itu.

“Saya janji gak akan berbuat ini lagi tante,” ujar saya pelan, sembari menundukkan wajah.

Nada suara tante kini sudah normal kembali. Tampaknya dia kasihan melihat saya yang sedari tadi terlihat ketakutan.

“Maksud tante mengingatkan kalian agar tidak terlalu jauh melanggar batas-batas pacaran. Tante tahu…” ujar tante Ani.

Pelan-pelan dia mendekati saya. Posisi tubuhnya kian merapat dengan saya. Saya mulai rileks, dan berani menatap mamanya Ratu. Saya lihat tatapan mata tante Ani sangat berbeda dari yang tadi. Kali ini seperti ada sebuah pengharapan. Batang kontol saya kian menegang menghadapi situasi ini. Haruskah saya melakukan hubungan sex dengan mamanya pacar baru saya ini? Pikiran saya berkecamuk, antara keinginan dan ragu-ragu. Begitupun terlihat dari bahasa tubuh tante Ani. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang.

“Saya pamit pulang tante…” katsa aya.

“Ya, hari sudah malam. Jangan terlalu diambil ke hati kata-kata kasar tante tadi. Anggaplah ini sebuah pelajaran buat kalian” jawab tante Ani sembari tersenyum.

Dia memegang bahu saya, dan merangkul saya, mengantarkan keluar rumah. Ingin sekali saya menciumnya.

Suasana di luar sudah gelap. Anehnya, tante tak melepaskan rangkulannya hingga saya akan masuk kedalam mobil saya. Dia menatap saya dalam-dalam, membuat pesona sexnya memancar hebat didalam sanubari saya. Tubuhnya menempel saya, terasa daging kenyal di dadanya mengenai lengan saya.

Dalam keremangan malam, dan gaun tidurnya yang seksi terlihat lekuk-leku tubuhnya. Saya kian tergoda untuk mencumbu mama pacar saya ini. Tidak ada siapa-siapa di garasi itu, kecuali kami berdua. Belahan dada tante Ani terlihat jelas.

“Maafin saya tante” ujar saya pelan.

Saya pegang bahunya, lalu saya beranikan diri untuk memeluknya. Tante Ani tak menampik, dia malah merapatkan tubuhnya ke tubuh saya. Selangkangannya menempel tepat di paha kanan saya. Cukup lama saya memeluknya, dan batang penis saya pun terasa menegang keras.

Paha tante Ani makin menempel, hingga selangkangannya kini menempel tepat di penis saya. Tangan saya bergeser memeluk pinggulnya, lalu pelan-pelan meremas-remas, dan berpindah ke pantatnya yang sekel.

Tante Ani tak mengeluarkan sepatah katapun, demikian pula saya. Sepertinya, saya sudah diatas angin. Tanpa berlama-lama lagi, langsung saja saya sosor bibirnya. Saya ciumi dengan penuh nafsu. Desahan nafasnya membuat saya semakin berani memagut bibirnya, lidahnya pun membalas liar.

Tante Ani mendorong tubuh saya hingga menempel dengan mobil, sementara pagutannya semakin bernafsu. Inilah sebuah pengalaman terindah saya bersama calon mertua. Sayang, kejadian itu tak berlanjut lebih jauh, mengingat ada Ratu di dalam sana.

Tapi, sejak kejadian itu, saya sering mendatangi tante Ani saat Ratu sedang les. Bahkan, tante Ani lah yang pertama kali mengajari saya cara ML. Kami melakukannya di atas sofa ruang tamunya itu. Tante Ani betul-betul hebat memberi saya pelajaran ngesex. Dia menyentuh sekujur tubuh saya dengan lembut, lalu tiba-tiba dia lakukan itu dengan beringas dan liar.

Satu hal yang tak akan pernah saya lupakan, adalah kehebatannya dalam mengulum batang penis saya. Kepala penis saya masuk ke rongga kerongkongannya, dijilati lidahnya dengan lembut, dikocok-kocok dengan bibirnya, sampai saya belingsatan tak karuan.

Seringkali dia merasa cemburu saat saya bersama dengan anak satu-satunya. Kalau sudah begitu, saya dan dia sama-sama mencari-cari kesempatan untuk bercumbu. Kami bisa melakukan dengan kilat disaat Ratu sedang membuatkan kopi panas untuk saya. 

Bahkan, pernah juga saat pacar saya sedang kebelet pipis, kami langsung on melakukan blowjob. Meski tidak sampai puas, namun begituan dalam situasi yang tidak aman membuat kami sama-sama merasakan sensasi kenikmatan yang hebat.


ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia