Thursday, August 8, 2019

Tante Erni Menyeruhku Mencebokan Memeknya Yang Sehabis Pipis - LapetBecek

Tante Erni Menyeruhku Mencebokan Memeknya Yang Sehabis Pipis - LapetBecek


Kejadian ini terjadi ketika aku kelas 3 SMA, yah aku perkirakan umur aku waktu itu baru saja 14 tahun. Aku entah kenapa yah perkembangan sexnya begitu cepat sampai-sampai umur segitu ssudah mau ngerasain yang enak-enak.


Ah itu semua karena temen nyokap kali yah, Soalnya temen nyokap Aku yang namanya Tante Erni (biasa kupanggil dia begitu) orangnya cantik banget, langsing dan juga awet muda bikin aku bergetar.Tante Erni ini tinggal dekat rumahku, hanya beda 5 rumahlah, nah Tante ini cukup deket sama keluargaku meskipun enggak ada hubungan saudara.

Dan dapat dipastikan kalau sore biasanya banyak ibu-ibu suka ngumpul di rumahku buat sekedar ngobrol bahkan suka ngomongin suaminya sendiri. Nah Tante inilah yang bikin aku cepet gede (maklumlah anak masih puber kan biasanya suka yang cepet-cepet).

Biasanya Tante Erni kalau ke rumah Aku selalu memakai daster atau kadang-kadang celana pendek yang bikin aku ser.. ser.. ser.. Biasanya kalau sudah sore tuh ibu-ibu suka ngumpul di ruang TV dan biasanya juga aku pura-pura nonton TV saja sambil lirak lirik. Tante ini entah sengaja atau nggak aku juga enggak tahu yah. Dia sering kalau duduk itu tuh mengangkang, kadang pahanya kebuka dikit bikin Aku ser.. ser lagi deh hmm.

Apa keasyikan ngobrolnya apa emang sengaja Aku juga enggak bisa ngerti, tapi yang pasti sih aku kadang puas banget sampai-sampai kebayang kalau lagi tidur. Kadang kalau sedang ngerumpi sampai ketawa sampai lupa kalau duduk nya Tante Erni ngangkang sampai-sampai celana dalemnya keliatan (wuih aku suka banget nih).

Pernah aku hampir ketahuan pas lagi ngelirik wah rasanya ada perasaan takut malu sampai-sampai Aku enggak bisa ngomong sampai panas dingin tapi Tante malah diam saja malah dia tambahin lagi deh gaya duduknya. Nah dari situ aku sudah mulai suka sama tuh Tante yang satu itu. Setiap hari pasti Aku melihat yang namanya paha sama celana dalem tuh Tante.

Pernah juga Aku waktu jalan-jalan bareng ibu-ibu ke puncak nginep di villa. Ibu-ibu hanya bawa anaknya, nah kebetulan Mami Aku ngsajak Aku pasti Tante Erni pula ikut wah asyik juga nih pikir ku. Waktu hari ke-2 malam-malam sekitar jam 8-9 mereka ngobrol di luar deket taman sambil bakar jagung.

Ternyata mereka sedang bercerita tentang hantu, ih dasar ibu-ibu masih juga kaya anak kecil ceritanya yang serem-serem, pas waktu itu Tante Erni mau ke WC tapi dia takut. Tentu saja Tante di ketawain sama gangnya karena enggak berani ke WC sendiri karena di villa enggak ada orang jadinya takut sampai-sampai dia mau kencing di deket pojokan taman.

Lalu Tante Erni menarik tangan Aku minta ditemenin ke WC, yah aku sih mau saja. Pergilah aku ke dalam villa sama Tante Erni, sesampainya Aku di dalam villa Aku nunggu di luar WC eh malah Tante ngajak masuk nemenin dia soalnya katanya dia takut.

“Lex temenin Tante yah tunggu di sini saja buka saja pintu nya enggak usah di tutup, Tante takut nih”, kata Tante Erni sambil mulai berjongkok.

Dia mulai menurunkan celana pendeknya sebatas betis dan juga celana dalamnya yang berwarna putih ada motif rendanya sebatas lutut juga. “Serr.. rr.. serr.. psstt”, kalau enggak salah gitu deh bunyinya. Jantungku sampai deg-degan waktu liat Tante Erni kencing, dalam hatiku, kalau saja Tante boleh ngasih liat terus boleh memegangnya hmm. Sampai-sampai aku bengong ngeliat Tante.

“Heh kenapa kamu Lex kok diam gitu awas nanti kesambet” kata Tante.
“Ah enggak apa-apa Tante”, jawabku.
“Pasti kamu lagi mikir yang enggak-enggak yah, kok melihatnya ke bawah terus sih?”, tanya Tante Erni.
“Enggak kok Tante, aku hanya belum pernah liat cewek kencing dan kaya apa sih bentuk itunya cewek?” tanyaku.

Tante Erni cebok dan bangun tanpa menaikkan celana sama CDnya.

“Kamu mau liat Lex? Nih Tante kasih liat tapi jangan bilang-bilang yah nanti Tante enggak enak sama Mamamu”, kata Tante Erni.

Aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Lalu tanganku dipegang ke arah vaginanya. Aku tambah deg-degan sampai panas dingin karena baru kali ini Aku megang sama melihat yang namanya memek. Tante membiarkanku memegang-megang vaginanya.

“Sudah yah Lex nanti enggak enak sama ibu-ibu yang lain dikirain kita ngapain lagi”.
“Iyah Tante”, jawabku.

Lalu Tante Erni menaikan celana dalam juga celana pendeknya terus kami gabung lagi sama ibu-ibu yang lain. Esoknya aku masih belum bisa melupakan hal semalam sampai sampai aku panas dingin. Hari ini semua pengen pergi jalan-jalan dari pagi sampai sore buat belanja oleh-oleh rekreasi. Tapi aku enggak ikut karena badanku enggak enak.

“Lex, kamu enggak ikut?” tanya mamiku.
“Enggak yah Mam aku enggak enak badan nih tapi aku minta di bawain kue mochi saja yah Mah” kataku.
“Yah sudah istirahat yah jangan main-main lagi” kata Mami.
“Erni, kamu mau kan tolong jagain si Alex nih yah, nanti kalau kamu ada pesenan yang mau di beli biar sini aku beliin” kata Mami pada Tante.
“Iya deh Kak aku jagain si Alex tapi beliin aku tales sama sayuran yah, aku mau bawa itu buat pulang besok” kata Tante.

Akhirnya mereka semua pergi, hanya tinggal aku dan Tante Erni berdua saja di villa, Tante baik juga sampai-sampai aku di bikinin bubur buat sarapan, jam menunjukan pukul 9 pagi waktu itu.

“Kamu sakit apa sih Lex? kok lemes gitu?” tanya Tante sambil nyuapin aku dengan bubur ayam buatannya.
“Enggak tahu nih Tante kepalaku juga pusing sama panas dingin aja nih yang di rasa” kataku.

Tante Erni begitu perhatian padaku, maklumlah di usia perkawinannya yang sudah 5 tahun dia belum dikaruniai seorang buah hati pun.

“Kepala yang mana Lex atas apa yang bawah?” kelakar Tante Erni padaku.

Aku pun bingung,

“Memangya kepala yang bawah ada Tante? kan kepala kita hanya satu?” jawabku polos.
“Itu tuh yang itu yang kamu sering tutupin pake segitiga pengaman” kata Tante sambil memegang si kecilku.
“Ah Tante bisa saja” kataku.
“Eh jangan-jangan kamu sakit gara-gara semalam yah” aku hanya diam saja.

Selesai sarapan badanku dibasuh air hangat oleh Tante, pada waktu dia ingin membuka celanaku, kubilang, “Tante enggak usah deh Tante biar Alex saja yang ngelap, kan malu sama Tante”
“Enggak apa-apa, tanggung kok” kata Tante Erni sambil menurunkan celanaku dan CDku.

Dilapnya si kecilku dengan hati-hati, aku hanya diam saja.

“Lex mau enggak pusingnya hilang? Biar Tante obatin yah”
“Pakai apa Tan, aku enggak tahu obatnya” kataku polos.
“Iyah kamu tenang saja yah” kata Tante .

Lalu di genggamnya batang penisku dan dielusnya langsung spontan saat itu juga penisku berdiri tegak. Dikocoknya pelan-pelan tapi pasti sampai-sampai aku melayang karena baru pertama kali merasakan yang seperti ini.

“Achh.. cchh..” aku hanya mendesah pelan dan tanpa kusadari tanganku memegang vagina Tante Erni yang masih di balut dengan celana pendek dan CD tapi Tante hanya diam saja sambil tertawa kecil terus masih melakukan kocokannya. Sekitar 10 menit kemudian aku merasakan mau kencing.

“Tante sudah dulu yah aku mau kencing nih” kataku.

“Sudah, kencingnya di mulut Tante saja yah enggak apa-apa kok” kata Tante Erni.

Aku bingung campur heran melihat penisku dikulum dalam mulut Tante Erni karena Tante tahu aku sudah mau keluar dan aku hanya bisa diam karena merasakan enaknya.

“Hhgg..achh.. Tante aku mau kencing nih bener ” kataku sambil meremas vagina Tante yang kurasakan berdenyut-denyut.

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Tante Ernipun langsung menghisap dengan agresifnya dan badanku pun mengejang keras.

“Croott.. ser.. err.. srett..” muncratlah air maniku dalam mulut Tante Erni, Tante Erni pun langsung menyedot sambil menelan maniku sambil menjilatnya. Dan kurasakan vagina Tante berdenyut kencang sampai-sampai aku merasakan celana Tante lembab dan agak basah.

“Enak kan Lex, pusingnya pasti hilang kan?” kata Tante Erni.
“Tapi Tante aku minta maaf yah aku enggak enak sama Tante nih soalnya Tante..”
“Sudah enggak apa-apa kok, oh iya kencing kamu kok kental banget, wangi lagi, kamu enggak pernah ngocok Lex?”
“Enggak Tante”

Tanpa kusadari tanganku masih memegang vagina Tante.

“Loh tangan kamu kenapa kok di situ terus sih”. Aku jadi salah tingkah
“Sudah enggak apa-apa kok, Tante ngerti” katanya padaku.
“Tante boleh enggak Alex megang itu Tante lagi” pintaku pada Tante.

Tante Erni pun melepaskan celana pendeknya, kulihat celana dalam Tante basah entah kenapa.

“Tante kencing yah?” tanyaku.
“Enggak ini namanya Tante nafsu Lex sampai-sampai celana dalam Tante basah”.

Dilepaskannya pula celana dalam Tante dan mengelap vaginanya dengan handukku. Lalu Tante Erni duduk di sampingku

“Lex pegang nih enggak apa-apa kok sudah Tante lap” katanya. Akupun mulai memegang vagina Tante Erni dengan tangan yang agak gemetar, Tante hanya ketawa kecil.
“Lex, kenapa? Biasa saja donk kok gemetar kaya gitu sih” kata Tante.

Dia mulai memegang penisku lagi,

“Lex Tante mau itu nih”.
“Mau apa Tante?”
“Itu tuh”, aku bingung atas permintaan Tante Erni.
“Hmm itu tuh, punya kamu di masukin ke dalam itunya Tante kamu mau kan?”
“Tapi Alex enggak bisa Tante caranya”
“Sudah, kamu diam saja biar Tante yang ajarin kamu yah” kata Tante padaku.

Mulailah tangannya mengelus penisku biar bangun kembali tapi aku juga enggak tinggal diam aku coba mengelus-elus vagina Tante Erni yang di tumbuhi bulu halus.

“Lex jilatin donk punya Tante yah” katanya.
“Tante Alex enggak bisa, nanti muntah lagi”
“Coba saja Lex”

Tante pun langsung mengambil posisi 69. Aku di bawah, Tante Erni di atas dan tanpa pikir panjang Tante pun mulai mengulum penisku.

“Achh.. hgghhghh.. Tante”

Aku pun sebenarnya ada rasa geli tapi ketika kucium vagina Tante tidak berbau apa-apa. Aku mau juga menjilatinya kurang lebih baunya vagina Tante Erni seperti wangi daun pandan (asli aku juga bingung kok bisa gitu yah) aku mulai menjilati vagina Tante sambil tanganku melepaskan kaus u can see Tante dan juga melepaskan kaitan BH-nya, kini kami sama-sama telanjang bulat.

Tante Erni pun masih asyik mengulum penisku yang masih layu kemudian Tante Erni menghentikannya dan berbalik menghadapku langsung mencium bibirku dengan nafas yang penuh nafsu dan menderu.

“Kamu tahu enggak mandi kucing Lex” kata Tante Erni.

Aku hanya menggelengkan kepala dan Tante Erni pun langsung menjilati leherku menciuminya sampai-sampai aku menggelinjang hebat, ciumannya berlanjut sampai ke putingku, dikulumnya di jilatnya, lalu ke perutku, terus turun ke selangkanganku dan penisku pun mulai bereaksi mengeras.

Dijilatinya paha sebelah dalamku dan aku hanya menggelinjang hebat karena di bagian ini aku tak kuasa menahan rasa geli campur kenikmatan yang begitu dahsyat. Tante pun langsung menjilati penisku tanpa mengulumnya seperti tadi dia menghisap-hisap bijiku dan juga terus sampai-sampai lubang pantatku pun dijilatinya sampai aku merasakan anusku basah.

Kulihat payudara Tante Erni mengeras, Tante menjilati sampai ke betisku dan kembali ke bibirku dikulumnya sambil tangannya mengocok penisku, tanganku pun meremas payudara Tante. Entah mengapa aku jadi ingin menjilati vagina Tante, langsung Tante kubaringkan dan aku bangun, langsung kujilati vagina Tante Erni seperti menjilati es krim.

“Achh.. uhh.. hhghh.. acch Lex enak banget terus Lex, yang itu isep jilatin Lex” kata Tante sambil menunjuk sesuatu yang menonjol di atas bibir vaginanya.

Aku langsung menjilatinya dan menghisapnya, banyak sekali lendir yang keluar dari vagina Tante Erni tanpa sengaja tertelan olehku.

“Lex masukin donk Tante enggak tahan nih”
“Tante gimana caranya?”

Tante Erni pun menyuruhku tidur dan dia jongkok di atas penisku dan langsung menancapkannya ke dalam vaginanya. Tante naik turun seperti orang naik kuda kadang melakukan gerakan maju mundur. Setengah jam kami bergumul dan Tante Erni pun mengejang hebat.

“Lex Tante mau keluar nih eghh.. huhh achh” erang Tante Erni.

Akupun di suruhnya untuk menaik turunkan pantatku dan tak lama kurasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari dalam vagina Tante. Hmm sungguh pengalaman pertamaku dan juga kurasakan vagina Tante Erni mungurut-urut penisku dan juga menyedotnya. Kurasakan Tante sudah orgasme dan permainan kami terhenti sejenak. Tante tidak mencabut penisku dan membiarkanya di dalam vaginanya.

“Lex nanti kalau mau kencing kaya tadi bilang ya” pinta Tante Erni padaku.

Akupun langsung mengiyakan tanpa mengetahui maksudnya dan Tante Ernipun langsung mengocok penisku dengan vaginanya dengan posisi yang seperti tadi.

“Achh .. Tante enak banget achh.., gfggfgfg..” kataku dan tak lama aku pun merasakan hal yang seperti tadi lagi.
“Tante, Alex kayanya mau kencing niih”

Tante Erni pun langsung bangun dan mengulum penisku yang masih lengket dengan cairan kewanitaanya, tanpa malu dia menghisapnya dan tak lama menyemburlah cairan maniku untuk yang ke 2 kalinya dan seperti yang pertama Tante pun menelannya dan menghisap ujung kepala penisku untuk menyedot habis maniku dan akupun langsung lemas tapi disertai kenikmatan yang alang kepalang.

Kami pun langsung mandi ke kamar mandi berdua dengan telanjang bulat dan kami melakukannya lagi di kamar mandi dengan posisi Tante Erni menungging di pinggir bak mandi. Aku melakukannya dengan cermat atas arahan Tante yang hebat.

Selasai itu jam pun menunjukan pukul 1 siang langsung makan siang dengan telur dadar buatan Tante, setelah itu kamipun capai sekali sampai-sampai tertidur dengan Tante Erni di sampingku, tapi tanganku kuselipkan di dalam celana dalam Tante. Kami terbangun pada pukul 3 sore dan sekali lagi kami melakukannya atas permintaan Tante, tepat jam 4:30 kami mengakhiri dan kembali mandi, dan rombongan ibu-ibu pun pulang pukul 6 sore.

“Lex kamu sudah baikan?” tanya Mamiku.
“Sudah mam, aku sudah seger n fit nih” kataku.
“Kamu kasih makan apa Ni, si Alex sampai-sampai langsung sehat” tanya Mami sama Tante.
“Hanya bubur ayam sama makan siang telur dadar terus kukasih saja obat anti panas” kata Tante Erni.

Esoknya kamipun pulang ke jakarta dan di mobil pun aku duduk di samping Tante Erni yang semobil denganku. Mami yang menyopir ditemani Ibu Herman di depan. Di dalam mobilpun aku masih mencuri-curi memegang barangnya Tante.

Sampai sekarang pun aku masih suka melakukannya dengan Tante bila rumahku kosong atau terkadang ke hotel dengan Tante Erni. Sekali waktu aku pernah mengeluarkan spermaku di dalam sampai 3 kali. Kini Tante sudah dikarunia 2 orang anak yang cantik.

Baru kuketahui bahwa suami Tante ternyata mengalami ejakulasi dini. Sebenarnya kini aku bingung akan status anak Tante Erni. Yah, begitulah kisahku sampai sekarang aku tetap menjadi simpanan Tante bahkan aku jadi lebih suka dengan wanita yang lebih tua dariku.

Pernah juga aku menemani seorang kenalan Tante yang nasibnya sama seperti Tante Erni, mempunyai suami yang ejakulasi dini dan suka daun muda buat obat awet muda, dengan menelan air mani pria muda.



ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Tuesday, August 6, 2019

Jemari Saya Terus Mengksplorasi di Liang Memek Ratu Yang Basah - LapetBecek

Jemari Saya Terus Mengksplorasi di Liang Memek Ratu Yang Basah - LapetBecek


Dua minggu setelah resmi jadian dengan Ratu, saya semakin gencar mengeskplorasi tubuh pacar baru saya itu, Kami sama-sama belum berpengalaman dalam sex, masih terhitung sebagai newcomer di bidang yang satu ini. Kendati demikian, saya sudah sukses menjelajahi buah dada dan sekitarnya.


Malam minggu itu saya menargetkan menjelajah sekitar selangkangannya. Saya penasaran banget dengan yang namanya vagina cewek.

“Ratu, ayo dong buka. Sedikit aja” pinta saya pada Ratu, sembari menggerayangi wilayah sekitar perut ke bawah.

Ratu kelihatan sangat ketakutan, tapi juga penasaran, kepingin tahu rasanya diobok-obok sama pacarnya sendiri.

“Jangan sayang…” balas Ratu manja, sembari berusaha menepis jari-jemari saya yang mulai berkeringat dan sedikit gemetar.

Nafas saya tersengal. Begitu pun nafas dia. Kami melakukannya di atas sofa ruang keluarga Ratu. Kebetulan di rumah itu cuma ada mamanya Ratu. Menurut Ratu, mamanya sudah tidur. Maklum sudah lewat jam 9 malam.

Setengah jam lebih usaha jari-jari saya menerobos masuk ke selangkangan Ratu gagal. Saya lantas memutuskan untuk pulang. Ratu menahan.

“Kok kamu gitu sih. Sebentar lagi deh sayang…”

“Kamunya sih kayak gini. Kan kita dah resmi jadian…” timpalku.

Kami pun bernegosiasi. Saya menuntut untuk bisa memegang liang vagina pacar saya, sementara dia menolak. Setelah berceramah panjang lebar, Ratu pun menyerah. Dia pasrah saat jari-jemari saya menyusup lewat sela-sela risleting celana jeans belelnya. Matanya terpejam, antara takut dan nikmat, ketika telunjuk saya pelan-pelan menggesek bibir kemaluannya.

Makin lama jari-jari saya makin liar menggesek-gesek, membuat Ratu mendesah-desah.

“Ssshh… mmhhh… mmm…”

Saya makin kencang menggesek. Saya kocok-kocok liang vaginanya itu. Ratu makin keenakan. Saya kian konak mendengar setiap desah nafasnya.

“Ssshhhh… aahhh… Sayang… hmm… aahhh… nakall kamu… aahhh…”

Saya kencangkan volume tivi untuk mengimbangi suara desahan nafas Ratu. Sebab, jarak antara sofa tempat kami bercumbu tak jauh dari kamar mamanya. Celaka kalau sampai mamanya terbangun dan melihat kami sedang bergumul di ruang tamu.

Ratu makin tak karuan mendesah,

“Sssshhh… emmmhh… Sayang… oohhh…”

Saya konak berat. Batang kemaluan saya sudah keras menyodok-nyodok ingin keluar dari peraduannya. Tapi, saya belum berani untuk mengeluarkannya, takut kalau nanti mamanya bangun, bisa berabe jadinya. Alhasil saya cuma bisa menggesek-gesekkan batang penis saya ke paha Ratu. 

Sambil bergesek ria, jari-jemari saya terus melakukan eksplorasi di liang vagina Ratu yang basah. Memeknya masih rapat. Yah, namanya juga perawan. Bulu-bulunya halus. Sesekali saya cabut jari-jari saya dari liang vagina itu, lalu saya jilati dan saya masukkan ke mulut Ratu.

“Ssshhh… hhmmm…”

Pukul 10 malam permainan eksplorasi saya di selangkangan Ratu berakhir. Ratu lemas lunglai saya buat. Dia terus menggelendot di tubuh saya sampai saya masuk ke sedan tua peninggalan ayah saya. Sejak kejadian malam itu, saya kian sering bergumul dengan pacar saya, di rumahnya. 

Saya colok-colok liang kemaluannya, dan Ratu pun sudah berani membalasnya dengan meremas-remas batang penis saya. Kami melakukanya tanpa bertelanjang.

Hingga pada suatu ketika saya memutuskan untuk lebih berani lagi melakukan sex dengan pacar ini. Celana panjang saya dan celana Ratu saya turunkan sebatas dengkul, hingga kami bisa sama-sama jelas menyaksikan barang masing-masing berada dalam kondisi konak. Seperti biasa, permainan ini kami lakukan saat mamanya Ratu sudah tertidur. Sepanjang permainan ini lampu ruang tamu rumah kami buat temaram.

Sementara volume tv digedein. Dengan begitu, suara-suara desahan Ratu tak begitu mencolok. Saya dan pacar saya yakin sekali permainan kami aman. Sebab, mamanya Ratu kalau sudah tidur tidak akan bangun-bangun lagi.

Tante Ani, mamanya Ratu, seorang janda. Meskipun usianya sudah masuk kepala empat, namun masih seksi. Saya suka konak kalau melihat dia memakai daster, atau jeans ketat. Pantatnya terlihat seksi. Yang paling menarik darinya adalah buah dadanya yang mancung. Ditambah paras wajahnya yang ayu, menjadikan tante Ani menantang sekali bagi setiap lelaki.

Malam itu saya dan Ratu sudah semakin berani melakukan eksplorasi seks di ruang tamu rumahnya. Tubuh kami sudah separuh bugil, dimana celana kami sudah melorot ke bawah mata kaki walaupun tetap masih menempel.

Penis saya berdiri tegak lurus seperti rudal yang siap diluncurkan dari porosnya. Sementara liang vagina Ratu yang merah terbuka lebar seakan tersenyum renyah kepada penis saya. Meski demikian, kami masih sama-sama takut untuk melakukan ML. Yang berani saya lakukan hanyalah petting.

“Hhmmm… ssshh… aahhhh…” Ratu tak henti-hentinya mendesah setiap saya gesek-gesekkan batang penis saya. Makin lama makin cepat saya gesekkan.

“Aaahhh… hmmmm… yesss…” saya pun meracau.

“Ratu… oh… aku… mau keluar… nihhh… hmmm… oohhhh… enakk… mmhhh…”

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Goyangan pinggul Ratu mengimbangi gesekan-gesekan batang penis saya. Uhhh… yess… oohhh… dan akhirnya cairan kental peju saya muncrat keluar. Crott.. crott.. crottt…

Saya terkulai lemas di atas tubuh Ratu. Kami berpelukan erat. Keringat mengucur deras di tubuh kami. Saya ciumi bibir mungilnya.

“Aku sayang kamu say…”

Selagi kami tengah melepaskan kelelahan, tiba-tiba pintu kamar Tante Ani terbuka. Secepat kilat saya dan Ratu berpakaian. Tapi sayang, Tante Ani sudah keburu melihat situasi ini. Dengan pandangan penuh amarah, Tante Ani memelototi kami berdua.

“Apa yang kalian lakukan di rumah ini?” bentaknya dengan nada emosi.

Batang penis saya sempat terlihat olehnya, karena saya tidak bisa cepat kalau memakai celana. Anehnya, meski berada dalam situasi genting seperti itu, burung saya masih saja tak kenal kompromi. Dia tetap mengeras. Sorot mata Tante Ani tak bisa dibohongi, menunjukkan rasa konak juga. Sebagai perempuan normal yang hidup menjanda lebih dari 3 tahun, tentu saja pemandangan seperti ini membuatnya bergairah. Tapi, karena disitu ada Ratu, mungkin saja dia berusaha menutupi kegusarannya ini dengan pura2 tidak terima kami berbuat mesum di ruang tamunya.

Ratu sendiri sudah mengenakan pakaiannya, meskipun bh-nya tak sempat dipakai dan terselip disela-sela sofa. Dia tampak panik sekali dimarahi mamanya karena ketahuan berpetting ria dengan saya.

“Ratu! Masuk!!” bentak Tante Ani.

Saya cuma bisa tertunduk, tak berani memandang si tante seksi ini. Tapi, dalam hati saya ada rasa bangga juga bisa memperlihatkan batang kemaluan saya yang cukup panjang dan besar ini. Ujung penis saya persis seperti topi baja tentara. Diameternya cukup membuat wanita manapun akan tergiur dan terangsang ingin memegangnya.

Setelah Ratu masuk ke kamarnya, tinggallah saya dan tante Ani di ruang tamu itu. Dia memarahi saya cukup lama, sembari memberi nasihat agar kami tidak lagi mengulangi perbuatan itu.

“Saya janji gak akan berbuat ini lagi tante,” ujar saya pelan, sembari menundukkan wajah.

Nada suara tante kini sudah normal kembali. Tampaknya dia kasihan melihat saya yang sedari tadi terlihat ketakutan.

“Maksud tante mengingatkan kalian agar tidak terlalu jauh melanggar batas-batas pacaran. Tante tahu…” ujar tante Ani.

Pelan-pelan dia mendekati saya. Posisi tubuhnya kian merapat dengan saya. Saya mulai rileks, dan berani menatap mamanya Ratu. Saya lihat tatapan mata tante Ani sangat berbeda dari yang tadi. Kali ini seperti ada sebuah pengharapan. Batang kontol saya kian menegang menghadapi situasi ini. Haruskah saya melakukan hubungan sex dengan mamanya pacar baru saya ini? Pikiran saya berkecamuk, antara keinginan dan ragu-ragu. Begitupun terlihat dari bahasa tubuh tante Ani. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang.

“Saya pamit pulang tante…” katsa aya.

“Ya, hari sudah malam. Jangan terlalu diambil ke hati kata-kata kasar tante tadi. Anggaplah ini sebuah pelajaran buat kalian” jawab tante Ani sembari tersenyum.

Dia memegang bahu saya, dan merangkul saya, mengantarkan keluar rumah. Ingin sekali saya menciumnya.

Suasana di luar sudah gelap. Anehnya, tante tak melepaskan rangkulannya hingga saya akan masuk kedalam mobil saya. Dia menatap saya dalam-dalam, membuat pesona sexnya memancar hebat didalam sanubari saya. Tubuhnya menempel saya, terasa daging kenyal di dadanya mengenai lengan saya.

Dalam keremangan malam, dan gaun tidurnya yang seksi terlihat lekuk-leku tubuhnya. Saya kian tergoda untuk mencumbu mama pacar saya ini. Tidak ada siapa-siapa di garasi itu, kecuali kami berdua. Belahan dada tante Ani terlihat jelas.

“Maafin saya tante” ujar saya pelan.

Saya pegang bahunya, lalu saya beranikan diri untuk memeluknya. Tante Ani tak menampik, dia malah merapatkan tubuhnya ke tubuh saya. Selangkangannya menempel tepat di paha kanan saya. Cukup lama saya memeluknya, dan batang penis saya pun terasa menegang keras.

Paha tante Ani makin menempel, hingga selangkangannya kini menempel tepat di penis saya. Tangan saya bergeser memeluk pinggulnya, lalu pelan-pelan meremas-remas, dan berpindah ke pantatnya yang sekel.

Tante Ani tak mengeluarkan sepatah katapun, demikian pula saya. Sepertinya, saya sudah diatas angin. Tanpa berlama-lama lagi, langsung saja saya sosor bibirnya. Saya ciumi dengan penuh nafsu. Desahan nafasnya membuat saya semakin berani memagut bibirnya, lidahnya pun membalas liar.

Tante Ani mendorong tubuh saya hingga menempel dengan mobil, sementara pagutannya semakin bernafsu. Inilah sebuah pengalaman terindah saya bersama calon mertua. Sayang, kejadian itu tak berlanjut lebih jauh, mengingat ada Ratu di dalam sana.

Tapi, sejak kejadian itu, saya sering mendatangi tante Ani saat Ratu sedang les. Bahkan, tante Ani lah yang pertama kali mengajari saya cara ML. Kami melakukannya di atas sofa ruang tamunya itu. Tante Ani betul-betul hebat memberi saya pelajaran ngesex. Dia menyentuh sekujur tubuh saya dengan lembut, lalu tiba-tiba dia lakukan itu dengan beringas dan liar.

Satu hal yang tak akan pernah saya lupakan, adalah kehebatannya dalam mengulum batang penis saya. Kepala penis saya masuk ke rongga kerongkongannya, dijilati lidahnya dengan lembut, dikocok-kocok dengan bibirnya, sampai saya belingsatan tak karuan.

Seringkali dia merasa cemburu saat saya bersama dengan anak satu-satunya. Kalau sudah begitu, saya dan dia sama-sama mencari-cari kesempatan untuk bercumbu. Kami bisa melakukan dengan kilat disaat Ratu sedang membuatkan kopi panas untuk saya. 

Bahkan, pernah juga saat pacar saya sedang kebelet pipis, kami langsung on melakukan blowjob. Meski tidak sampai puas, namun begituan dalam situasi yang tidak aman membuat kami sama-sama merasakan sensasi kenikmatan yang hebat.


ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Saturday, August 3, 2019

Dengan Sabarnya Dituntunnya Batangku Tepat Di Lubang Memeknya

Dengan Sabarnya Dituntunnya Batangku Tepat Di Lubang Memeknya - LapetBecek


Kejadian itu terjadi di rumah istri om ku, Om ku itu bekerja pada bidang marketing, jadi kadang bisa meninggalkan rumah sampai satu minggu lamanya, dan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka berdua bersama tiga anaknya yang masih kecil, mendirikan sebuah warung di depan rumah. 


Tanteku itu orangnya lumayan menarik dengan postur tubuh setinggi 170 cm dengan ukuran dada 34B, berumur kira-kira 29 tahun.

Sebenarnya dulu aku suka sekali melihat tubuh mulus tanteku, secara tidak sengaja ketika dia sedang mandi karena memang di tempat kami kamar mandi pada saat itu atasnya tidak tertutup genteng dan tanpa berpintu. 

Jadi kalau ada yang mandi di situ hanya dengan melampirkan handuk di tembok yang menjadikan tanda bahwa kamar mandi sedang dipakai. Tidak sampai di situ saja, kadang tanteku ini suka memakai baju tidur yang model terusan tipis tanpa memakai BH dan itu sering sekali kulihat ketika di pagi hari. 

Apalagi aku sering sekali bangun pagi sudah dipastikan tanteku sedang menyapu halaman depan dan itu otomatis ketika dia menunduk menampakkan buah dadanya yang lumayan besar dan montok. Hal ini dilakukan sebelum dia menyiapkan keperluan sekolah anaknya, kalau om-ku biasanya tidak ada di rumah karena sering bertugas di luar kota selama empat hari.

Pernah aku melamunkan bagaimana rasanya jika aku melakukan persetubuhan dengan tanteku itu, namun akhirnya paling-paling kutumpahkan di kamar mandi sambil coli. Rupanya angan-anganku itu dapat terkabul ketika aku sedang menumpang nonton TV di rumah tanteku pada siang hari dimana ketiga anaknya sedang sekolah dan om ku sedang bertugas keluar kota pada pagi harinya.

Kejadian itu terjadi ketika aku sedang menonton TV sendirian yang bersebelahan dengan warung tanteku. Ketika itu aku ingin mengambil rokok, aku langsung menuju ke sebelah. Rupanya tanteku sedang menulis sesuatu, mungkin menulis barang belanjaan yang akan dibelanjakan nanti. 

“Tante, Riko mau ambil rokok, nanti Riko bayar belakangan ya!” sapaku kepada tanteku. “Ambil saja, Ko!” balas tanteku tanpa menoleh ke arahku yang tepat di belakangnya sambil meneruskan menulis dengan posisi membungkuk. 

Karena toples rokok ketengan yang akan kuambil ada di sebelah tanteku tanpa sengaja aku menyentuh buah dadanya yang kebetulan tanpa memakai BH. “Aduh! hati-hati dong kalau mau mengambil rokok. Kena tanganmu, dada tante kan jadi nyeri!” seru tanteku sambil mengurut-urut kecil di dadanya yang sebelah samping kirinya. 

Namun karena tidak memakai BH, nampak dengan jelas pentil susu tanteku yang lumayan besar itu. “Maaf Tan, aku tidak sengaja. Begini aja deh Tan, Riko ambilin minyak supaya dada Tante tidak sakit bagaimana!” tawarku kepada tanteku. “Ya sudah, sana kamu ambil cepat!” ringis tanteku sambil masih mengurut dadanya.

Dengan segera kuambilkan minyak urut yang ada di dalam, namun ketika aku masuk kembali di dalam warung secara perlahan, aku melihat tante sedang mengurut dadanya tapi melepaskan baju terusannya yang bagian atasnya saja. 

“Ini Tante, minyak urutnya!” sengaja aku berkata agak keras sambil berpura-pura tidak melihat apa yang tanteku lakukan. Mendengar suaraku, tanteku agak terkejut dan segera merapikan bagian atas bajunya yang masih menggelantung di bagian pinggangnya. Tampak gugup tanteku menerima minyak urut itu tapi tidak menyuruhku untuk lekas keluar.

Tanpa membuang kesempatan aku langsung menawarkan jasaku untuk mengurut dadanya yang sakit, namun tanteku agak takut. Pelan-pelan dengan sedikit memaksa aku berhasil membujuknya dan akhirnya aku dapat ijinnya untuk mengurut namun dilakukan dari belakang. 

Sedikit demi sedikit kuoleskan minyak di samping buah dadanya dari belakang namun secara perlahan pula kumemainkan jariku dari belakang menuju ke depan. Sempat kaget juga ketika tanteku mengetahui aksi nakalku. “Riko! kamu jangan nakal ya!” seru tanteku namun tidak menepis tanganku dari badannya yang sebagian ditutupi baju.

Mendapati kesempatan itu aku tidak menyia-nyiakan dan secara aktif aku mulai menggunakan kedua tanganku untuk mengurut-urut secara perlahan kedua bukit kembar yang masih ditutupi dari depan oleh selembar baju itu. 

“Ohh.. oohh..” seru tanteku ketika tanganku sudah mulai memegang susunya dari belakang sambil memilin-milin ujung susunya. “Jangan.. Riko.. jang..” tante masih merintih namun tidak kuacuhkan malah dengan sigap kubalikkan tubuh tanteku hingga berhadapan langsung dengan diriku. 

Kemudian dengan leluasa kumulai menciumi susu yang di sebelah kiri sambil masih mengurut-urut susu di sebelahnya. Kemudian aku mulai mencucupi kedua puting susunya secara bergantian dan tanteku mulai terangsang dengan mengerasnya kedua susunya.

Tidak sampai di situ, rupanya tangan tanteku mulai menjelajahi ke bawah perutku berusaha untuk memegang kemaluanku yang sudah dari tadi mengencang. Ketika dia mendapatkannya secara perlahan, dikocok-kocok batang kemaluanku secar perlahan dan tiba-tiba tanteku mengambil sikap jongkok namun sambil memegang kemaluanku yang lamayan panjang. 

Untuk diketahui, batang kemaluanku panjangnya kurang lebih 20 cm dengan diameter 3,5 cm. Tanteku rupanya sedikit terkejut dengan ukuran kemaluanku apalagi sedikit bengkok, namun dengan sigap tapi perlahan tanteku mulai mengulum kemaluanku secara perlahan dan semakin lama semakin cepat. 

“Ah.. ah.. ah.. yak.. begitu.. terus.. terus..” erangku sambil memegangi kepala tanteku yang maju mundur mengulum batang kemaluanku. Kemudian karena aku sudah tidak tahan, tubuh tante kuangkat agar duduk di pinggir meja dimana tadi dia menulis, dan dengan sedikit gerakan paha tanteku kupaksa agar meregang.

Rupanya tanteku masih mengenakan CD dan dengan perlahan kubuka CD-nya ke samping dan terlihatlah gundukan kemaluannya yang sudah basah. Secara perlahan kuciumi kemaluan tanteku dan kumain-mainkan klirotisnya. “Ah.. ahh.. Riko, Tante mau keluuaarr..” 

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Beberapa saat kemudian rupanya tanteku akan mengalami orgasme, dia langsung memegangi kepalaku agar tetap di belahan kemaluannya dan kemudian mengeluarkan cairan surganya di mulutku, “Crett.. crett.. cret..” mulutku sampai basah terkena cairan surga tanteku.

Kemudian tanteku agak lemas namun masih kujilati kemaluannya yang akhirnya membangkitkan nafsu untuk bersetubuh denganku. Kuangkat tubuh tante ke bawah warung, dan dengan sedikit agak keras aku dapat merubah posisinya menelentang di depanku. 

Kubukakan semakin lebar kedua kakinya dan mulai kuarahkan ujung kemaluanku ke mulut lubang kemaluannya. Agak susah memang karena memang aku agak kurang berpengalaman dibidang ini namun rupanya tanteku dapat memahaminya.

Dengan sabarnya dituntunnya ujung kemaluanku tepat di lubang kemaluannya. “Pelan-pelan ya, Riko!” lirih tanteku sambil menggenggam kemaluanku. Ketika baru masuk kepala kemaluanku tanteku mulai agak meringis tetapi aku sudah tidak kuat lagi dengan agak sedikit paksa akhirnya kemaluanku dapat masuk seluruhnya. 

“Riko.. akh..” jerit kecil tanteku ketika kumasukkan seluruh batang kemaluanku di dalam lubang kemaluannya yang lumayan basah namun agak sempit itu sambil merapatkan kedua kakinya ke pinggangku. 

Perlahan aku melakukan gerakan maju mundur sambil meremas-remas dua susunya. Hampir tiga puluh menit kemudian gerakanku makin lama main cepat. Rupanya aku hampir mencapai puncak. “Tan.. aku.. aku mauu.. keluar..” bisikku sambil mempercepat gerakanku. 

“Dikeluarkan di dalam saja, Dik!” balas tanteku sambil menggeleng-gelengkan kecil kepalanya dan menggoyangkan pantatnya secara beraturan.Tan.. aku.. keluarr..” pekikku sambil menancapkan kemaluanku secara mendalam sambil masih memegangi susunya.

Rupanya tanteku juga mengalami hal yang sama denganku, dia memajukan pantatnya agar kemaluanku dapat masuk seluruhnya sambil menyemburkan air surganya untuk ketiga kalinya. “Cret.. cret.. cret..” hampir lima kali aku memuntahkan air surga ke dalam lubang kemaluan tanteku dan itu juga di campur dengan air surga tanteku yang hampir berbarengan keluar bersamaku. 

“Cret.. cret.. cret.. ahh..” tanteku melengkungkan badannya ketika mengeluarkan air surga yang dari lubang kemaluannya. Akhirnya kami tergeletak di bawah dan tanteku secara perlahan bangun untuk berdiri sambil mencoba melihat kemaluannya yang masih dibanjiri oleh air surga. 

“Riko! kamu nakal sekali, berani sekali kami berbuat ini kepada Tante, tapi Tante senang kok, Tante puas atas kenakalan kamu,” bisik tanteku perlahan. Aku hanya bisa terseyum, sambil menaikkan kembali celanaku yang tadi dipelorotkan oleh tanteku. 

Tanteku akhirnya berjalan keluar, namun sebelum itu dia masih menyempatkan dirinya untuk memegang kemaluanku yang lumayan besar ini. Inilah pengalamanku yang pertama, dan sejak itu kami kadang mencuri waktu untuk mengulangi hal tersebut. 

Apalagi jika aku atau tanteku ingin mencoba posisi baru dan pasti ketika Om-ku dan anak-anak tanteku berangkat sekolah. Sekarang hal itu sudah tidak kulakukan lagi karena tanteku sekarang ikut Om-ku yang mendapat tugas di daerah.




ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Wednesday, July 10, 2019

Bibir Memeknya Berasa Menebal Saat Jilatan Pertamaku - LapetBecek

Bibir Memeknya Berasa Menebal Saat Jilatan Pertamaku - LapetBecek


Aku kuliah di sebuah PTS di Bandung sebuah kota metropolis yang gemerlap, yang identik dengan kehidupan malamnya. Di tengah kuliahku yang padat dan sibuk, aku mempunyai suatu pengalaman yang tak akan kulupakan pada waktu aku masih semester satu dan masih berdampak sampai sekarang.


Latar belakangku adalah dari keluarga baik-baik, kami tinggal di sebuah perumahan di Bandung. Sebagai mahasiswa baru aku termasuk aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan, kebetulan aku menyukai kegiatan outdoor ataupun alam bebas.

Aku memang mewarisi bakat ayahku yang merupakan seorang pemburu yang handal, hal inilah yang membuat darah petualangku menggelora. Memasuki pertengahan semester aku mulai kenal dan akrab dengan seorang cewek, sebut saja namanya Ema.

Aku tertarik padanya karena ia orangnya juga menyukai kegiatan alam bebas, berburu misalnya. Awalnya sih aku agak heran juga kenapa cewek cantik seperti dia suka “mengokang” senapan yang notabene berat dan kemudian menguliti binatang hasil buruannya dengan beringas.

Hemmm… kegaranganya bak macan betina inilah yang aku sukai, aku suka melihat buah dadanya yang menantang dibalut baju pemburu yang ketat dan kebiasaannya menggigit bibir bawahnya ketika mengokang senapan. Bibir merah yang seksi itu sering mengundang gairahku. Karena ada kecocokan, kami akhirnya jadian juga dan resmi pacaran tepatnya pada waktu akhir semester pertama.

Kami berdua termasuk pasangan yang serasi, apa mau dikata lagi tubuhku yang tinggi tegap dapat mengimbangi parasnya yang langsing dan padat. Pacaran kami pada awalnya normal-normal saja, yahhh.. sebatas ciuman saja biasa kan? Dan aku melihat bahwa Ema itu orangnya blak-blakan kok. Semuanya berubah setelah pengalamanku di sebuah panti pijat.

Hari itu Minggu aku masih ingat betul hari itu, aku dan ayahku berburu di sebuah gunung di daerah Jatiluhur tentu saja setelah berburu seharian badan terasa capai dan lemah. Malamnya aku memutuskan untuk mencari sebuah panti pijat plus di Bandung, dengan mengendarai Land Rover-ku aku mulai menyusuri kota Bandung.

Dan akhirnya tempat itu kutemukan juga, aku masuk dan langsung menemui seorang gadis di meja depan dan aku dipersilakan duduk dulu. Tak lama kemudian muncullah seorang gadis yang berpakaian layaknya baby sitter dengan warna putih ketat dan rok setinggi lutut.

Wuahh… cantik juga dia, dan pasti juga merangsang libidoku. Dengan ramah ia mempersilakan aku masuk ke ruang pijat, ruangan selebar 4×4 dengan satu ranjang dan sebuah kipas angin menggantung di atasnya. “Bajunya dibuka dulu ya Bang…” katanya dengan tersenyum manis, “OK lahh..” sambutku dengan semangat.

“Tapi kipasnya jangan dinyalain yah, dingin nih..” dia pun mengangguk tanda paham akan keinginanku. Kubuka sweaterku dan aku pun berbaring, aku memang sengaja tidak memakai t-shirt malam itu. “Celananya sekalian dong Bang,” katanya. “Emmm.. Lo yang bukain deh, males nih..” dia pun tersenyum dan agaknya memahami juga hasratku.

“Ahh.. kamu manja deh,” katanya, dengan cekatan tangannya yang mulus dan lentik itu pun mencopot sabuk di pinggangku kemudian melucuti celanaku. Wah dia kelihatannya agak nafsu juga melihat tubuhku ketika hanya ber-CD, terlihat “adik”-ku manis tersembul dengan gagahnya di dalam sarangnya.

“Eh.. ini dicopot sekalian ya? biar enak nanti mijitnya!” “Wahhh… itu nanti aja deh, nanti malah berdiri lagi,” kataku setengah bercanda. Lagi-lagi ia menyunggingkan senyum manisnya yang menawan. Kemudian aku tengkurap, ia mulai memijitku dari punggung atas ke bawah. “Wah.. pijitanmu enak ya?” pujiku.

“Nanti kamu akan merasakan yang lebih enak lagi,” jawabnya. “Oooh jadi servis plus nih?” tanyaku. “Mmm… buatmu aku senang melakukannya,” pijatannya semakin ke bawah dan sekarang tangannya sedang menari di pinggangku, wah geli juga nih, dan kemaluanku pun mulai “bereaksi kimia”.

“Eh.. balikkan badan dong!” pintanya. “Ok.. ok..” Aku langsung saja berbaring. Tentu saja batanganku yang ereksi berat terlihat semakin menggunung. “Wahh.. belum-belum saja sudah ngaceng yaa..” godanya sambil tangannya memegang kemaluanku dengan jarinya seakan mengukur besarnya.

“Habisnya kamu merangsang sihh..” kataku. “Nah kalo begitu sekarang waktunya dicopot yah? biar enak itu punyamu, kan sakit kalau begitu,” pintanya. “OK, copot aja sendiri,” aku memang udah nggak tahan lagi, abis udah ereksi penuh sih.

Dengan bersemangat gadis itu memelorotkan CD-ku, tentu saja kemaluanku yang sudah berdiri tegak dan keras mengacung tepat di mukanya. “Ck.. ck.. ckk.. besar amat punyamu, berapa kali ini kamu latih tiap hari,” katanya sembari tertawa. “Ah… emangnya aku suka ‘lojon’ apa…” jawabku.

Ia menyentuh kepala kemaluanku dengan penuh nafsu, dan mengelusnya. Tentu saja aku kaget dan keenakan, habis baru pertama kali sih. “Ahhh.. mau kau apakan adikku?” tanyaku. “Tenanglah belum waktunya,” ia mengelusnya dengan lembut dan merabai juga kantong zakarku.

“Wah.. hh.. jangan berhenti dulu, aku mau keluar nih,” sergahku. “Haha.. baru digitukan aja udah mau keluar, payah kamu,” ledeknya. “Entar lagi lah, pijitin dulu badanku,” kataku. “OK lah…” Ia mulai mengambil minyak pijat dan memijat tangan dan dadaku.

Wahhh ia naik dan duduk di perutku. Sialan! belahan dadanya yang putih mulus pun kelihatan, aku pun terbelalak memandangnya. “Sialan! montok bener tetekmu,” dan tanganku pun mulai gerilya meraba dan memeganginya, ia pun mengerjap, pijatannya pun otomatis terhenti.

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Setelah agak lama aku merabai gunungnya ia pun turun dari perutku, ia perlahan membuka kancing bajunya sampai turun ke bawah, sambil menatapku dengan penuh nafsu. Ia sengaja mempermainkan perasaanku dengan agak perlahan membuka bajunya.

“Cepatlahh.. ke sini, kasihan nih adikku udah menunggu lama…” aku sambil mengocok sendiri kemaluanku, habis nggak tahan sih. “Eits… jangan!” ia memegang tanganku. “Ini bagianku,” katanya sambil menuding adikku yang seakan mau meledak. Tak lama ia kemudian mengambil minyak pijat dan mengoleskan ke kemaluanku.

“Ehmm… ahhh…” aku pun menggelinjang, namun ia tak peduli, malah tangannya semakin cekatan memainkan kemaluanku. “Augghh… aku nggak tahan nihhh…” Kemudian ia mulai menghisapnya seraya tangannya mengelus buah zakarku.

“Aduhhh… arghh.. aku mau keluar nihhh!” Kemudian kemaluanku berdenyut dengan keras dan akhirnya “Croottt…” maniku memancar dengan derasnya, ia terus mengocoknya seakan maniku seakan dihabiskan oleh kocokannya. “Aahhh…” aku melenguh panjang, badanku semua mengejang. Ia kelihatanya suka cairanku, ia menjilatinya sampai bersih, aku pun lemas.

“Gimana… enak kan? tapi kamu payah deh baru digituin dikit aja udah ‘KO’,” godanya. “Habbiss kamu gitukan sih, siapa tahannn…” Ia memakluminya dan agaknya tahu kalau aku baru pertama kalinya. “Tuh kan lemes, punyamu mengkerut lagi,” sambil ia memainkan kemaluanku yang sudah nggak berdaya lagi.

“Entar ya, nanti kukerasin lagi,” katanya. “Hufff… OK lah,” kataku pasrah. Dengan masih menggunakan bra dan CD ia mulai memijatku lagi. Kali ini ia memijat pahaku dan terkadang ia menjilati kemaluanku yang sudah lemas. “Ihhh… lucu ya kalau sudah lemes, kecil!” ia mengejekku.

Aku yang merasa di-”KO”-nya diam saja. Sembari ia memijat pahaku, dadanya yang montok kadang juga menggesek kakiku, wahhh kenyal sekali! “Kenapa liat-liat, napsu ya ama punyaku?” katanya. “Wahhh, bisa-bisa adikku terusik lagi nih,” jawabku.

Aku sambil mengelus dan mengocok sendiri kemaluanku sembari melihat geliat gadis itu memijatku. “Wah dasar tukang coli kamu…” serangnya. “Biar aja, akan kubuktikan kalo aku mampu bangkit lagi dan meng-’KO’ kamu,” kataku dengan semangat. Benar juga kemaluanku yang tadinya tidur dan lemas lambat laun mulai naik dan tegang.

“Tuh.. berdiri lagi,” katanya girang. “Pasti!” kataku. Aku tidak melewatkan kesempatan itu, segera kuraih tangannya dan aku segera menindihnya. “Uhhh.. pelan dikit doong!” katanya. “Biar aja, habis kamu napsuin sih…” kataku. Dengan cepat aku melucuti BH dan CD-nya.

Sekarang kelihatan semua gunung kembarnya yang padat berisi dengan puting merahnya serta lubang kemaluannya yang bagus dan merah. Langsung saja kujilati puncak gunungnya dengan penuh nafsu, “Emmm.. nikmat, ayo terusin..” desahnya membuatku berdebar.

Kulihat tangannya mulai merabai kemaluannya sendiri sehingga kelihatan basah sekarang. Tandanya ia mulai bernafsu berat, aku pun mengambil alih tangannya dan segera menjulurkan lidahku dan kumainkan di lubang kemaluannya yang lezat.

Ia semakin menjadi, desahannya semakin keras dan geliat tubuhnya bagaikan cacing, “Ahhh… uhhh ayo lah puaskan aku…” ia pun mulai menggapai batang kemaluan ku yang sudah tegang, “Ayolah masukkan!” tanpa basa-basi aku pun menancapkan barangku ke lubang kemaluan nya.

“Slep.. slepp!” “Arghh… ihhh… ssshhh,” ia agak kaget rupanya menerima hujaman pusakaku yang besar itu. “Uahhh.. ennakkk…” katanya. Mulutnya megap-megap kelihatan seperti ikan yang kekurangan air, aku pun semakin semangat memompanya.

Tapi apa yang terjadi karena terlalu bernafsunya aku tidak bisa mengontrol maniku. “Heggh… hegghh… ahhh, ehmm… aku mau keluar lagi nihh!” kataku. “Sshhh… ahhh ah… payah lo, gue tanggung ni… entar donk!” “Aku sudah tidak tahan lagii…” Tak lama kemudian batang kemaluan ku yang tegang berdenyut kencang.

“Aaaku keluarrr…” erangku. “Ehhh… cepat cabut!” sergapnya. Aku pun mencabut batang kemaluan ku dan ia pun segera menghisapnya. “Ahhh… shhh…!” “Crot… crottt… crottt” memancar dengan derasnya maniku memenuhi mulutnya dan berceceran juga di gunung kembarnya yang masih tegang.

“Ugghh…” aku pun langsung tumbang lemas. “Aduh… gimana sih, aku nanggung nihh… loyo kamu.” Aku sudah tidak bisa berkata lagi, dengan agak sewot ia berdiri. “Ahhh… kamu menghabiskan cairanku yaaa.. lemes nihh,” kataku.

“Udah lahh.. aku pergi,” katanya sewot. “Ya udah sana… thanks ya Sayang…” ia pun berlalu sambil tersenyum.


ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Tuesday, July 9, 2019

Aku Merasakan Denyutan Bibir Memeknya Mengapit Batangku - LapetBecek

Aku Merasakan Denyutan Bibir Memeknya Mengapit Batangku - LapetBecek


Sebut saja namaku Andra 29 tahun, 172/67 berparas seperti kebanyakan orang pribumi dan kata orang aku orangnya manis, atletis, hidung mancung, bertubuh Seksi karena memang aku suka olah raga. Aku bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan besar di kota Surabaya dan statusku married (menikah).


Perlu pembaca ketahui bahwa sebelum aku bekerja di Surabaya ini, aku adalah tergolong salah satu orang yg minder dan kuper karena memang lingkungan keluarga mendidik aku sangat disiplin dalam segala hal. Dan aku bersyukur sekali karena setelah keluar dari rumah (baca:bekerja), banyak sekali kenyataan hidup yg penuh dgn “warna-warni” serta “pernah-pernik”nya.

Setelah roomboy’s pergi, aku tidak memberikan kesempatan untuk Vina bangkit dari pinggir. Parfum Vina yg harum menambah gairah aku untuk semakin berani menjelajahi seluruh tubuhnya. dgn bekal pengetahuan sex yg aku ketahui (baik dari majalah, film BF maupun obrolan-obrolan teman kantor), aku semakin berani berbuat lebih jauh dgn Vina.

Suatu hari aku chatting dgn menggunakan nickname yg menantang kaum hawa untuk pv aku, hingga masuklah seorang mama muda yg berumur 30 tahun sebut saja namanya Vina. Vina yg bekerja di salah satu perusahaan swasta sebagai sekretaris dgn paras yg cantik dgn bentuk tubuh yg ideal (itu semua aku ketahui setelah Vina sering kirim foto Vina email aku).

Kegiatan kantor aku tidak akan lengkap tanpa online sama dia setiap jam kantor dan dari sini Vina sering curhat tentang kehidupan rumah tangganya. Karena kita berdua sudah sering online, Dia tidak segan-segan menceritakan kehidupan sex nya yg cenderung tidak bisa menikmati dan meraih kepuasan. Kami berdua share setiap kesempatan online atau mungkin aku sempatkan untuk call dia.

Hingga suatu hari, kami putuskan untuk jumpa darat sepulang jam kantor, aku lupa tanggal berapa tapi yg pasti hari pertemuan kami tentukan bersama hari Jum’at. Setelah menentukan dimana aku mau jemput, sepulang kantor aku langsung kendarai mobil butut starletku untuk meluncur di tempat yg janjikan. dgn perasaan deg-deg an, sepanjang perjalanan aku berfikir secantik apakah Vina yg usianya lebih tua dari aku 2 tahun.

Dan pikiranku terasa semakin amburadul ketika aku bener-bener ketemu dgn Vina. Wow! Aku berdecak kagum dgn kecantikan Vina, tubuhnya yg Seksi dgn penampilannya yg anggun membuat setiap kaum adam berdesir melihatnya. Tidak terlihat dia seorang mama muda dgn 3 orang anak, Vina adalah sosok cewek favorite aku.

Mulai dari wajahnya, dadanya, pinggulnya dan alamak.. pantatnya yg Seksi membuat aku menelan ludahku dalam-dalam saat membaygkan bagaimana jika aku bisa bercinta dgn Vina. Tanpa pikir panjang dan menutupi kegugupan aku. Aku memancing untuk menawarkan pergi ke salah satu motel di sudut kota (yg aku tahu dari temanku).

Sepanjang perjalanan menuju hotel, jantungku berdetak kencang setiap melirik paras Vina yg cantik sekali dan aku membaygkan jika aku dapat menikmati bibirnya yg tipis.. Dan sepanjang itu juga “adik kecilku” mulai bangkit dari tidurnya. Tidak lama sampailah kami di salah satu Motel, aku langsung memasukan mobilku kedalam salah satu kamar 102.

Didalam kamar aku sangat grogi sekali bertatapan dgn wajah Vina..

“Met kenal Andra,” Vina membuka obrolan.
“hey Vina..,” aku jawab dgn gugup.

Aku benar-benar tidak percaya dgn yg aku hadapi, seorang mama muda, ibu rumah tangga yg cantik sekali, sampai sempat aku berfikir hanya suami yg bego jika tidak bisa menyaygi wanita secantik Vina.

Kami berbicara hanya sekedar intermezo saja karena memang kami berdua tampak gugup saat pertemuan pertama tersebut. Sedangkan jantungku berdetak keras dibareng “adik kecilku” yg sudah meronta ingin unjuk gigi.

“Andra meskipun kita di sini, tidak apa-apakan jika kita tidak bercinta,” kata Vina.

Aku tidak menjawab sepatah katapun, dgn lembut aku gapai lengannya untuk duduk di tepi ranjang. dgn lembut pula aku rangkul dia untuk rebahan diranjang dan tanpa terasa jantungku berdetak keras, bagaikan dikomando aku menciumi leher Vina yg terlihat sanagt bersih dan putih.

“Vina kamu sangat cantik sayaang..,” aku berbisik.
“Dann.. jangan please..,” desahan Vina membuat aku terangsang.

Lidahku semakin nakal menjelajahi leher Vina yg jenjang.

“Akhh Andra..”

Tanpa terasa tanganku mulai nakal untuk menggeraygi payudara Vina yg aku rasakan mulai mengencang mengikuti jilatan lidahku dibalik telinganya.

“Ooohh.. Danddyy..”

Vina si mama muda mulai mengikuti rangsangan yg aku lakukan di dadanya. Aku semakin berani untuk melakukan yg lebih jauh..
“Vina, aku buka jas kamu ya, biar tidak kusut..,” pintaku.

Vina hanya mengikuti pergerakan tanganku untuk memreteli jasnya, sampai akhirnya dia hanya mengenakan tanktop warna hitam. Dadaku semakin naik turun, ketika pundaknya yg putih nampak dgn jelas dimukaku. Setelah jas Vina terbuka, aku berusaha naik di tubuh dia, aku ciumi bibir Vina yg tipis, lidahku menjelajahi bibirnya dan memburu lidah Vina yg mulai terangsang dgn aktivitas aku. Tanganku yg nakal mulai menarik tanktop warna hitam dan..

Wow.. tersembul puting yg kencang.. Tanpa pikir panjang aku melepas lumatan di bibir Vina untuk kemudian mulai melpeas BH dan menjilati puting Vina yg berwana kecoklatan. Satu dua kali hisapan membuat puting Vina berdiri dgn kencang.. sedangkan tangan kananku memilin puting Vina si mama muda yg lain nya.

“Ooohh Danndyy.. kamu nakal sekali sayaang..,” rintih Vina.

Dan saat aku mulai menegang..

“Tok.. tok.. tok.. room service.” Ahh.. sialan pikirku, menganggu saja roomboys ini. Aku meraih uang 50.000-an dikantong kemejaku dgn harapan supaya dia cepat pergi

Aku beranikan diri untuk mulai membuka CD yg digunakan Vina, dan darahku mendesir saat melihat tidak ada sehelai rambutpun di bagian vagina Vina. Tanpa berfikir lama, aku langsung menjilati, menghisap dan sesekali memasukkan lidahku ke dalam lubang vagina Vina.

“Oohh.. Dan.. nikmat.. sayaang,” Vina si mama muda merintih kenikmatan setiap lidahku menghujam lubang vaginanya dan sesekali menekan kepalaku untuk tidak melepaskan kenikmatan itu. Dan disaat dia sedang menikmati jilatan lidahku, telunjuk jari kiriku aku masukkan dalam lubang vagina dan aku semakin tahu jika dia lebih bisa menikmati jika diperlakukan seperti itu. Terbukti Vina menggeliat dan mendesah disetiap gerakan jariku keluar masuk.

“Aakkhh Dann.. kamu memang pintar sayaang..,” desah Vina si mama muda .
Disaat kocokkan jariku semakin cepat, Vina sudah mulai memperlihatkan ciri-ciri orang yg mau orgasme dan sesat kemudian..
“Dann.. sayaang.. aku nggak tahan.. oohh.. Dan.. aku mau..” visa menggelinjang hebat sambil menggapit kedua pahanya sehingga kepalaku terasa sesak dibuatnya.
“Daann.. ookkhh.. aakuu keluaarr.. crut-crut-crut.”

Vina merintih panjang saat clitorisnya memuntahkan cairan kental dan bersamaan dgn itu, aku membuka mulut aku lebar-lebar, sehingga carian itu tidak ada yg menetes sedikitpun dalam mulutku.

Aku biarkan Vina terlentang menikmati orgasmenya yg pertama, sambil membuka semua pakaian yg aku kenakan, aku memperhatikan Vina begitu puas dgn foreplay aku tadi, itu terlihat dari raut wajahnya yg begitu berbinar-binar.

Tanpa memberi waktu panjang, aku segera menghampiri tubuhnya yg masih lemas dan menarik pinggulnya dipinggir ranjang, dan tanpa pikir panjang penisku yg berukuran 19 cm dgn bentuk melengkung, langsung menghujam celah kenikmatan Vina dan sontak meringis..

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

“Aaakhh.. Andra..,” desah Vina saat penisku melesak kedalam lubang vaginanya.
“Andray.. penis kamu besar sekali.. aakkh..”

Aku merasakan setiap gapitan bibir vaginanya yg begitu seret, sampai aku berfikir suami macam apa yg tidak bisa merasakan kenikmatan lubang senggama Vina ini? Aku berpacu dgn nafsu, keringatku bercucuran seperti mandi dan menetes diwajah Vina yg mulai aku rasakan sangat menikmati permainan ini.

“Danddyy.. sudah.. sayaang.. akhh..” sembari berteriak panjang aku rasakan denyutan bibir vagina mengapit batang penisku. Dan aku rasakan cairan hangat mulai meleleh dari vagina Vina si mama muda . Aku tidak mempedulikan desahan Vina yg semakin menjadi, aku hanya berusaha memberikan kepuasan bercinta, yg kata Vina belum pernah merasakan selama berumah tangga.

Setiap gerakan maju mundur penisku, selalu membuat tubuh Vina menggelinjang hebat karena memang bentuk penisku agak bengkok ke kiri. Tiba-tiba Vina mendekap tubuhku erat dan aku tahu itu tanda dia mencapai orgasme yg kedua kalinya. Penisku bergerak keluar masuk dgn cepat dan..

“Dann.. aku.. mau.. keluarr lagi.. aakk.. Kamu hebat sayaang, aku.. nggak tahan..,” seiring jertian itu, aku merasakan cairan hangat meleleh disepanjang batang penisku dan aku biarkan sejenak penisku dalam vaginanya.

Sesaat kemudian aku melepas penisku dan mengarahkan ke mulut Vina si mama muda yg masih terlentang. Aku biarkan dia oral penisku.

“Ahh..,” sesekali aku merintih saat giginya mengenai kepala penisku. Disaat dia asik menikmati batang penisku, jariku yg nakal, mulai menelusuri dinding vagina Vina yg mulai basah lagi.
“Creek.. crekk.. crek..,” bunyi jariku keluar masuk dilubang vagina Vina.
“Ohh.. Andra.. enak sekali sayaang..”

1.. 2.. 3.. jariku masuk bersamaan ke lubang vagina Vina. Aku kocok keluar masuk.., sampai akhirnya aku nggak tahan lagi untuk mulai memasukkan penisku, untuk menggantikan 5 jariku yg sudah “memperkosa” lubang kewanitaannya.

Dan..
“Ohh.. sayaang aku keluar lagi..”

Orgasme yg ketiga diraih oleh Vina dalam permainan itu dan aku langsung meneruskan inisiatif menindih tubuh Vina, berkali-kali aku masukkan sampai mentok.

“Aaakhh.. sayaang.. enak sekali.. ohh..,” rintih Vina. Bagaikan orang mandi, keringatku kembali berkucuran, menindih Vina..
“sayaang aku boleh keluarin di dalam..,” aku tanya Vina.
“Jangan.. aku nggak mau, entar aku hamil,” jelas Vina.
“Nggak deh sayaang jangan khawatir..,” rengekku.
“Jangan Andray.. aku nggak mau..,” rintihan Vina membuat aku semakin bernafsu untuk memberikan orgasme yg berikutnya.
“Akhh.. oohh.. Andra.. sayaang keluarin kamu sayaang.. aakkhh..,” Vina memintaku.
“Kamu jangan tunggu aku keluar Andra.. please,” pinta Vina.

Disaat aku mulai mencapai klimaks, Vina si mama muda meminta berganti posisi diatas.

“Danndy aku pengen diatas..”

Aku melepas penisku dan langsung terlentang. Vina bangkit dan langsung menancapkan penisku dlam-dalam di lubang kewanitaannya.

“Akhh gila, penis kamu hebat banget Andra asyik.. oohh.. enak..,” Vina merintih sambil menggoygkan pinggulnya.
“Aduhh enak Andra.. “

Goygan pinggul Vina membuat gelitikan halus di penisku..

“Vina.. Vina.. akh..,” aku mengerang kenikmatan saat Vina menggoyg pinggulnya.
“Andra.. aku mau keluar sayaang..,” sambil merintih panjang, Vina menekankan dalam-dalam tubuhnya hingga penisku “hilang” ditelan vaginanya dan bersamaan dgn itu aku sudah mulai merasakan klimaks sudah diujung kepala.
“Vina.. Vina.. ahh..”

Aku biarkan spermaku muncrat di dalam vagianya.

“Croot.. croot..” semburan spermaku langsung muncrat dalam lubang Vina, tetapi tiba-tiba Vina berdiri.
“Aakhh Andra nakal..”

Dan Vina berlari berhamburan ke kamar mandi untuk segera mencuci spermaku yg baru keluar dalam vaginanya, karena memang dia tidak menggunakan pernah menggunakan KB. Permainan itu berakhir dgn penuh kenikmatan dalam diri kami berdua, karena baru saat bercinta dgnku, dia mengalami multi orgasme yg tidak bisa digambarkan dgn kata-kata.

“Andra, kapan kamu ada waktu lagi untuk lakukan ini semua sayaang,” tanya Vina.
Aku menjawab lirih, “Terserah Vina deh, aku akan selalu sediakan waktu buatmu.”
“Makasih sayaang.. kamu telah memberikan apa yg selama ini tidak aku dapatkan dari suami aku,” puji Vina si mama muda .
“Dann.. kamu hebat sekali dalam bercinta.. aku suka style kamu,” sekali lagi puji Vina si mama muda .

Pertemuan pertama ini kita akhiri dgn perasaan yg tidak bisa digambarkan dengn kata-kata, dan hanya kami berdua yg bisa rasakan itu. Aku memang termasuk orang yg selalu berusaha membuat pasanganku puas dan aku mempuyai fantasi sex yg tinggi sehingga tidak sedikit para abg, mahasiswi dan mama muda yg hubungi aku untuk sekedar membantu memberikan kepuasan buat mereka.



ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia