Saturday, July 6, 2019

Aroma Memeknya Buatku Makin Semangat Untuk Langsung Menjilatinya - LapetBecek

Aroma Memeknya Buatku Makin Semangat Untuk Langsung Menjilatinya - LapetBecek


Waktu aku SMA kelas 3, waktu itu aku baru sebulan tinggal sama ayah tiriku. Ibu menikah dengan orang ini karena karena tidak tahan hidup menjanda lama-lama.

Yang aku tidak sangka-sangka ternyata ayah tiriku punya 2 anak cewek yang keren dan seksi habis, yang satu sekolahnya sama denganku, namanya Anggi dan yang satunya lagi sudah kuliah, namanya Sinta. Si Anggi cocok sekali kalau dijadikan bintang iklan obat pembentuk tubuh, nah kalau si Sinta paling cocok untuk iklan BH sama suplemen payudara.


Sejak pertama aku tinggal, aku selalu berangan-angan bahwa dapat memiliki mereka, tapi angan-angan itu selalu buyar oleh berbagai hal. Dan siang ini kebetulan tidak ada orang di rumah selain aku dengan Anggi, ini juga aku sedang kecapaian karena baru pulang sekolah.

“Anggi! entar kalau ada perlu sama aku, aku ada di kamar,” teriakku dari kamar. Aku mulai menyalakan komputerku dan karena aku sedang suntuk, aku mulai dech surfing ke situs-situs porno kesayanganku, tapi enggak lama kemudian Anggi masuk ke kamar sambil bawa buku, kelihatannya dia mau tanya pelajaran. “Rio, kemaren kamu udah nyatet Biologi belom, aku pinjem dong!” katanya dengan suara manja.

Tanpa memperdulikan komputerku yang sedang memutar film BF via internet, aku mengambilkan dia buku di rak bukuku yang jaraknya lumayan jauh dengan komputerku.

“Anggi..! nich bukunya, kemarenan aku udah nyatet,” kataku.
Anggi tidak memperhatikanku tapi malah memperhatikan film BF yang sedang di komputerku.
“Anggi.. kamu bengong aja!” kataku pura-pura tidak tahu.
“Eh.. iya, Rio kamu nyetel apa tuh! aku bilangin bonyok loh!” kata Anggi.

“Eeh… kamu barusan kan juga liat, aku tau kamu suka juga kan,” balas aku.
“Mending kita nonton sama-sama, tenang aja aku tutup mulut kok,” ajakku berusaha mencari peluang.
“Bener nich, kamu kagak bilang?” katanya ragu.
“Suwer dech!” kataku sambil mengambilkan dia kursi.

Anggi mulai serius menonton tiap adegan, sedangkan aku serius untuk terus menatap tubuhnya.
“Anggi, sebelum ini kamu pernah nonton bokep kagak?” tanyaku.
“Pernah, noh aku punya VCD-nya,” jawabnya.
Wah gila juga nich cewek, diam-diam nakal juga.

“Kalau ML?” tanyaku lagi.
“Belom,” katanya, “Tapi… kalo sendiri sich sering.”

Wah makin berani saja aku, yang ada dalam pikiranku sekarang cuma ML sama dia. Bagaimana caranya si “Rio Junior” bisa puas, tidak peduli saudara tiri, yang penting nafsuku hilang.
Melihat dadanya yang naik-turun karena terangsang, aku jadi semakin terangsang, dan batang kemaluanku pun makin tambah tegang.

“Anggi, kamu terangsang yach, ampe napsu gitu nontonnya,” tanyaku memancing.
“Iya nic Rio, bentar yach aku ke kamar mandi dulu,” katanya.
“Eh… ngapain ke kamar mandi, nih liat!” kataku menunjuk ke arah celanaku.
“Kasihanilah si RIo kecil,” kataku.
“Pikiran kamu jangan yang tidak-tidak dech,” katanya sambil meninggalkan kamarku.
“Tenang aja, rumah kan lagi sepi, aku tutup mulut dech,” kataku memancing.

Dan ternyata tidak ia gubris, bahkan terus berjalan ke kamar mandi sambil tangan kanannya meremas-remas buah dadanya dan tangan kirinya menggosok-gosok kemaluannya, dan hal inilah yang membuatku tidak menyerah. Kukejar terus dia, dan sesaat sebelum masuk kamar mandi, kutarik tangannya, kupegang kepalanya lalu kemudian langsung kucium bibirnya.

Sesaat ia menolak tapi kemudian ia pasrah, bahkan menikmati setiap permainan lidahku. “Kau akan aku berikan pengalaman yang paling memuaskan,” kataku, kemudian kembali melanjutkan menciumnya. Tangannya membuka baju sekolah yang masih kami kenakan dan juga ia membuka BH-nya dan meletakkan tanganku di atas dadanya, kekenyalan dadanya sangat berbeda dengan gadis lain yang pernah kusentuh.

Perlahan ia membuka roknya, celanaku dan celana dalamnya. “Kita ke dalam kamar yuk!” ajaknya setelah kami berdua sama-sama bugil, “Terserah kaulah,” kataku, “Yang penting kau akan kupuaskan.” Tak kusangka ia berani menarik penisku sambil berciuman, dan perlahan-lahan kami berjalan menuju kamarnya.

“Rio, kamu tiduran dech, kita pake ’69′ mau tidak?” katanya sambil mendorongku ke kasurnya. Ia mulai menindihku, didekatkan vaginanya ke mukaku sementara penisku diemutnya, aku mulai mencium-cium vaginanya yang sudah basah itu, dan aroma kewanitaannya membuatku semakin bersemangat untuk langsung memainkan klitorisnya.

Tak lama setelah kumasukkan lidahku, kutemukan klitorisnya lalu aku menghisap, menjilat dan kadang kumainkan dengan lidahku, sementara tanganku bermain di dadanya. Tak lama kemudian ia melepaskan emutannya. “Jangan hentikan Rio… Ach… percepat Rio, aku mau keluar nich! ach… ach… aachh… Rio… aku ke.. luar,” katanya berbarengan dengan menyemprotnya cairan kental dari vaginanya. Dan kemudian dia lemas dan tiduran di sebelahku.

“Anggi, sekali lagi yah, aku belum keluar nich,” pintaku.
“Bentar dulu yach, aku lagi capek nich,” jelasnya.
Aku tidak peduli kata-katanya, kemudian aku mulai mendekati vaginanya.
“Anggi, aku masukkin sekarang yach,” kataku sambil memasukkan penisku perlahan-lahan.

Kelihatannya Anggi sedang tidak sadarkan diri, dia hanya terpejam coba untuk beristirahat. Vagina Anggi masih sempit sekali, penisku dibuat cuma diam mematung di pintunya. Perlahan kubuka dengan tangan dan terus kucoba untuk memasukkannya, dan akhirnya berhasil penisku masuk setengahnya, kira-kira 7 cm.

“Jangan Rio… entar aku hamil!” katanya tanpa berontak.
“Kamu udah mens belom?” tanyaku.
“Udah, baru kemaren, emang kenapa?” katanya.
Sambil aku masukkan penisku yang setengah, aku jawab pertanyaannya,

“Kalau gitu kamu kagak bakal hamil.”
“Ach… ach… ahhh…! sakit Rio, a.. ach… ahhh, pelan-pelan, aaa… aaach… aachhh…!” katanya berteriak nikmat.
“Tenang aja cuma sebentar kok, Anggi mending doggy style dech!” kataku tanpa melepaskan penis dan berusaha memutar tubuhnya.

Ia menuruti kata-kataku, lalu mulai kukeluar-masukkan penisku dalam vaginanya dan kurasa ia pun mulai terangsang kembali, karena sekarang ia merespon gerakan keluar-masukku dengan menaik-turunkan pinggulnya.

“Ach… a… aaa ach…” teriaknya.
“Sakit lagi Rio… a.. aa… ach…”
“Tahan aja, cuma sebentar kok,” kataku sambil terus bergoyang dan meremas-remas buah dadanya.
“Rio,. ach pengen… ach.. a… keluar lagi Rio…” katanya.

“Tunggu sebentar yach, aku juga pengen nich,” balasku.
“Cepetan Rio, enggak tahan nich,” katanya semakin menegang.
“A… ach… aaachhh…! yach kan keluar.”
“Aku juga Say…” kataku semakin kencang menggenjot dan akhirnya setidaknya enam tembakan spermaku di dalam vaginanya.

Kucabut penisku dan aku melihat seprei, apakah ada darahnya atau tidak? tapi tenyata tidak.
“Anggi kamu enggak perawan yach,” tanyaku.
“Iya Rio, dulu waktu lagi masturbasi nyodoknya kedaleman jadinya pecah dech,” jelasnya.
“Rio ingat loh, jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia kita aja.””Oh tenang aja aku bisa dipercaya kok, asal lain kali kamu mau lagi.”
“Siapa sih yang bisa nolak ‘Rio Junior’,” katanya mesra.

Setelah saat itu setidaknya seminggu sekali aku selalu melakukan ML dengan Anggi, terkadang aku yang memang sedang ingin atau terkadang juga Anggi yang sering ketagihan, yang asyik sampai saat ini kami selalu bermain di rumah tanpa ada seorang pun yang tahu, kadang tengah malam aku ke kamar Anggi atau sebaliknya, kadang juga saat siang pulang sekolah kalau tidak ada orang di rumah.

Kali ini kelihatannya Anggi lagi ingin, sejak di sekolah ia terus menggodaku, bahkan ia sempat membisikkan kemauannya untuk ML siang ini di rumah, tapi malangnya siang ini ayah dan ibu sedang ada di rumah sehingga kami tak jadi melakukan ini. Aku menjanjikan nanti malam akan main ke kamarnya, dan ia mengiyakan saja, katanya asal bisa ML denganku hari ini ia menurut saja kemauanku.

Ternyata sampai malan ayahku belum tidur juga, kelihatannya sedang asyik menonton pertandingan bola di TV, dan aku pun tidur-tiduran sambil menunggu ayahku tertidur, tapi malang malah aku yang tertidur duluan. Dalam mimpiku, aku sedang dikelitiki sesuatu dan berusaha aku tahan, tapi kemudian sesuatu menindihku hingga aku sesak napas dan kemudian terbangun.

“Anggi ! apa Ayah sudah tidur?” tanyaku melihat ternyata Anggi yang menindihiku dengan keadaan telanjang.
“kamu mulai nakal Rio, dari tadi aku tunggu kamu, kamu tidak datang-datang juga. kamu tau, sekarang sudah jam dua, dan ayah telah tidur sejak jam satu tadi,” katanya mesra sambil memegang penisku karena ternyata celana pendekku dan CD-ku telah dibukanya.

“Yang nakal tuh kamu, Bukannya permisi atau bangunin aku kek,” kataku.
“kamu tidak sadar yach, kamu kan udah bangun, tuh liat udah siap kok,” katanya sambil memperlihatkan penisku.
“Aku emut yach.”

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Emutanya kali ini terasa berbeda, terasa begitu menghisap dan kelaparan.
“Anggi jangan cepet-cepet dong, kasian ‘Rio Junior’ dong!”
“Aku udah kepengen berat Rio!” katanya lagi.
“Mending seperti biasa, kita pake posisi ’69′ dan kita sama-sama enak,” kataku sembil berputar tanpa melepaskan emutannya kemudian sambil terus diemut.

Aku mulai menjilat-jilat vaginanya yang telah basah sambil tanganku memencet-mencet payuidaranya yang semakin keras, terus kuhisap vaginanya dan mulai kumasukkan lidahku untuk mencari-cari klitorisnya.

“Aach… achhh…” desahnya ketika kutemukan klitorisnya.
“Rio! kamu pinter banget nemuin itilku, a.. achhh.. ahh..”
“kamu juga makin pinter ngulum ‘Rio’ kecil,” kataku lagi.
“Rio, kali ini kita tidak usah banyak-banyak yach, aa.. achh..” katanya sambil mendesah.

“Cukup sekali aja nembaknya, taaapi… sa.. ma.. ss.. sa… ma… maaa ac… ach…” katanya sambil menikmati jilatanku.
“Tapi Rio aku.. ma.. u.. keluar nich! Ach.. a… aaahh…” katanya sambil menegang kemudian mengeluarkan cairan dari vaginanya.
“Kayaknya kamu harus dua kali dech!” kataku sambil merubah posisi.
“Ya udah dech, tapi sekarang kamu masukin yach,” katanya lagi.

“Bersiaplah akan aku masukkan ini sekarang,” kataku sambil mengarahkan penisku ke vaginanya.
“Siap-siap yach!”
“Ayo dech,” katanya.
“Ach… a… ahhh…” desahnya ketika kumasukkan penisku.
“Pelan-pelan dong!”

“Inikan udah pelan Anggi ,” kataku sambil mulai bergoyang.
“Anggi , kamu udah terangsang lagi belon?” tanyaku.
“Bentar lagi Rio,” katanya mulai menggoyangkan pantatnya untuk mengimbangiku, dan kemudian dia menarik kepalaku dan memitaku untuk sambil menciumnya.

“Sambil bercumbu dong Rio!”
Tanpa disuruh dua kali aku langsung mncumbunya, dan aku betul-betul menikmati permainan lidahnya yang semakin mahir.

“Anggi kamu udah punya pacar belom?” tanyaku.”Aku udah tapi baru abis putus,” katanya sambil mendesah.
“Rio pacar aku itu enggak tau loh soal benginian, cuma kamu loh yang beginian sama aku.”
“Ach yang bener?” tanyaku lagi sambil mempercepat goyangan.
“Ach.. be.. ner.. kok Rio, a.. aaa… ach.. achhh,” katanya terputus-putus.

“Tahan aja, atau kamu mau udahan?” kataku menggoda.
“Jangan udahan dong, aku baru kamu bikin terangsang lagi, kan kagak enak kalau udahan, achh… aaa… ahhh… aku percepat yach Rio,” katanya.
Kemudian mempercepat gerakan pinggulnya.
“Kamu udah ngerti gimana enaknya, bentar lagi kayaknya aku bakal keluar dech,” kataku menyadari bahwa sepermaku sudah mengumpul di ujung.
“Achh… ach… bentar lagi nih.”

“Tahan Rio!” katanya sambil mengeluarkan penisku dari vaginanya dan kemudian menggulumnya sambil tanganya mamainkan klitorisnya.
“Aku juga Rio, bantu aku cari klitorisku dong!” katanya menarik tanganku ke vaginanya.
Sambil penisku terus dihisapnya kumainkan klitorisnya dengan tanganku dan….

“Achh… a… achh… achhh… ahhh…” desahku sambil menembakkan spermaku dalam mulutnya.
“Aku juga Rio…” katanya sambil menjepit tanganku dalam vaginanya.
“Ach… ah… aaa.. ach…” desahnya.
“Aku tidur di sini yach, nanti bangunin aku jam lima sebelum ayah bagun,” katanya sambil menutup mata dan kemudian tertidur, di sampingku.

Tepat jam lima pagi aku bangun dan membangunkanya, kemudian ia bergegas ke kamar madi dan mempersiapkan diri untuk sekolah, begitu juga dengan aku. Yang aneh siang ini tidak seperti biasanya Anggi tidak pulang bersamaku karena ia ada les privat, sedangkan di rumah cuma ada Mbak Sinta, dan anehnya siang-siang begini Mbak Sinta di rumah memakai kaos ketat dan rok mini seperti sedang menunggu sesuatu.

“Siang Rio! baru pulang? Anggi mana?” tanyanya.
“Anggi lagi les, katanya bakal pulang sore,” kataku, “Loh Mbak sendiri kapan pulang? katanya dari Solo yach?”
“Aku pulang tadi malem jam tigaan,” katanya.
“Rio, tadi malam kamu teriak sendirian di kamar ada apa?”

Wah gawat sepertinya Mbak Sinta dengar desahannya Anggi tadi malam.
“Ach tidak kok, cuma ngigo,” kataku sambil berlalu ke kamar.
“Rio!” panggilnya, “Temenin Mbak nonton VCD dong, Mbak males nich nonton sendirian,” katanya dari kamarnya.
“Bentar!” kataku sambil berjalan menuju kamarnya, “Ada film apa Mbak?” tanyaku sesampai di kamarnya.

“Liat aja, nanti juga tau,” katanya lagi.
“Mbak lagi nungguin seseorang yach?” tanyaku.
“Mbak, lagi nungguin kamu kok,” katanya datar, “Tuh liat filmnya udah mulai.”
“Loh inikan…?” kataku melihat film BF yang diputarnya dan tanpa meneruskan kata-kataku karena melihat ia mendekatiku. Kemudian ia mulai mencium bibirku.

“Mbak tau kok yang semalam,” katanya, “Kamu mau enggak ngelayanin aku, aku lebih pengalaman dech dari Anggi.”
Wah pucuk di cinta ulam tiba, yang satu pergi datang yang lain.
“Mbak, aku kan adik yang berbakti, masak nolak sich,” godaku sambil tangan kananku mulai masuk ke dalam rok mininya menggosok-gosok vaginanya, sedangkan tangan kiriku masuk ke kausnya dan memencet-mencet pCintyadaranya yang super besar.

“Kamu pinter dech, tapi sayang kamu nakal, pinter cari kesempatan,” katanya menghentikan ciumannya dan melepaskan tanganku dari dada dan vaginanya.
“Mbak mau ngapain, kan lagi asyik?” tanyaku.”Kamu kagak sabaran yach, Mbak buka baju dulu terus kau juga, biar asikkan?” katanya sambil membuka bajunya.

Aku juga tak mau ketinggalan, aku mulai membuka bajuku sampai pada akhirnya kami berdua telanjang bulat.
“Tubuh Mbak bagus banget,” kataku memperhatikan tubuhnya dari atas sampai ujung kaki, benar-benar tidak ada cacat, putih mu Nov dan sekal.
Ia langsung mencumbuku dan tangan kanannya memegang penisku, dan mengarahkan ke vaginanya sambil berdiri.

“Aku udah enggak tahan Rio,” katanya.
Kuhalangi penisku dengan tangan kananku lalu kumainkan vaginanya dengan tangan kiriku.
“Nanti dulu ach, beginikan lebih asik.”
“Ach… kamu nakal Rio! pantes si Anggi mau,” katanya mesra.

“Rio…! Mbak…! lagi dimana kalian?” terdengar suara Anggi memanggil dari luar.
“Hari ini guru lesnya tidak masuk jadi aku dipulangin, kalian lagi dimana sich?” tanyanya sekali lagi.
“Masuk aja Anggi, kita lagi pesta nich,” kata Mbak Sinta.
“Mbak! Entar kalau Anggi tau gimana?” tanyaku.
“Rio jangan panggil Mbak, panggil aja Sinta,” katanya dan ketika itu aku melihat Anggi di pintu kamar sedang membuka baju.

“Sin, aku ikut yach!” pinta Anggi sambil memainkan vaginanya.
“Rio kamu kuat nggak?” tanya Sinta.
“Tenang aja aku kuat kok, lagian kasian tuch Anggi udah terangsang,” kataku.
“Anggi cepet sinih emut ‘Rio Junior’,” ajakku.

Tanpa menolak Anggi langsung datang mengemut penisku.
“Mending kita tiduran, biar aku dapet vaginamu,” kataku pada Sinta.
“Ayo dech!” katanya kemudian mengambil posisi.

Sinta meletakkan vaginanya di atas kepalaku, dan kepalanya menghadap vagina Anggi yang sedang mengemut penisku.
“Anggi , aku maenin vaginamu,” katanya.
Tanpa menunggu jawaban dari Anggi ia langsung bermain di vaginanya.

Permainan ini berlangsung lama sampai akhirnya Sinta menegangkan pahanya, dan… “Ach… a… aaach… aku keluar…” katanya sambil menyemprotkan cairan di vaginanya.

“Sekarang ganti Anggi yach,” kataku.
Kemudian aku bangun dan mengarahkan penisku ke vaginanya dan masuk perlahan-lahan.
“Ach… aach…” desah Anggi.
“Kamu curang, Anggi kamu masukin, kok aku tidak?” katanya.

“Abis kamu keluar duluan, tapi tenang aja, nanti abis Anggi keluar kamu aku masukin, yang penting kamu merangsang dirimu sendiri,” kataku.
“Yang cepet dong goyangnya!” keluh Anggi.
Kupercepat goyanganku, dan dia mengimbanginya juga.
“Kak, ach… entar lagi gant… a… ach.. gantian yach, aku.. mau keluar ach… aaa… a… ach….!” desahnya, kemudian lemas dan tertidur tak berdaya.

“Ayo Rio tunggu apa lagi!” kata Sinta sambil mengangkang mampersilakan penisku untuk mencoblosnya.
“Aku udah terangsang lagi.”
Tanpa menunggu lama aku langsung mencoblosnya dan mencumbunya.
“Gimana enak penisku ini?” tanyaku.
“Penis kamu kepanjangan,” katanya, “tapi enak!”

“Kayaknya aku nggak lama lagi dech,” kataku.
“Sama, aku juga enggak lama lagi,” katanya, “Kita keluarin sama-sama yach!” terangnya.
“Di luar apa di dalem?” tanyaku lagi.
“Ach… a… aach… di.. dalem… aja…” katanya tidak jelas karena sambil mendesah.
“Maksudku, ah.. ach.. di dalem aja… aah… ach… bentar lagi…”

“Aku… keluar… ach… achhh… ahhh…” desahku sambil menembakkan spermaku.
“Ach… aach… aku… ach.. juga…” katanya sambil menegang dan aku merasakan cairan membasahi penisku dalam vaginanya.
Akhirnya kami bertiga tertidur di lantai dan kami bangun pada saat bersamaan.

“Rio aku mandi dulu yach, udah sore nich.”
“Aku juga ach,” kataku.
“Rio, Anggi, lain kali lagi yach,” pinta Sinta.
“Itu bisa diatur, asal lagi kosong kayak gini, ya nggak Rio!” kata Anggi.
“Kapan aja kalian mau aku siap,” kataku.
“Kalau gitu kalian jangan mandi dulu, kita main lagi yuk!” kata Sinta mulai memegang penisku.

Akhirnya kami main lagi sampai malam dan kebetulan ayah dan ibu telepon dan mengatakan bahwa mereka pulangnya besok pagi, jadi kami lebih bebas bermain, lagi dan lagi. Kemudian hari selanjutya kami sering bermain saat situasi seperti ini, kadang tengah malam hanya dengan Sinta atau hanya Anggi.

Oh bapak tiri, ternyata selain harta banyak, kamu juga punya dua anak yang siap menemaniku kapan saja, ohh nikmatnya hidup ini.



ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Friday, July 5, 2019

Kupercepat Toncek Keluabang Memeknya Devinta Karena Mau Keluar - LapetBecek

Kupercepat Toncek Keluabang Memeknya Devinta Karena Mau Keluar - LapetBecek


Hey guest, perkenalkan namaku Dodi ( nama samaran ), usiaku saat ini 26 tahun, tinggi badan 173 cm, dan berat badanku 68 kg. Aku akan menceritakan kisah Sex ku dengmelalui situs web ini , dan aku juga baru kali ini berbagi cerita ke situs web dewasa seperti ini. 


Aku mengenal salah satu wanita dikantorku bernama Devinta, dia adalah sosok wanita yang aku kenal baru saja. Tapi entah mengapa aku sudah jatuh hati dengan dia. Mungkin saja aku jatuh cinta karena kecantikannya, selain cantik dia juga wanita yang ramah dan flexybel. 

So, dengan kepribadianya dia mempunyai banyak teman, namun mayoritas temannya adalah Pria. Meskipun belum lama mengenalku Devinta sendiri sudah sangat akrab sekali denganku. Oh iya guest, Devinta ini memiliki tubuh yang sangat ideal sekali.

Dia mempunyai tinggi badan 169 cm dengan berat badan 56 kg, dengan berat badan dan tinggi yang ideal body-nya terlihat sangat sexy. Ditambah lagi Devinta juga mempunyai payudara yang lumayan indah, payudara yang tidak begitu besar, tapi terlihat padat dan bulat. Apalagi pantat Devinta sangat semok, kenyal dan kencang, hal itu menambah kesempurnaan Devinta. 

Hari demi hari aku-pun semakin dengan dia, tapi kedekatanku itu agak membuatku kecewa, Karena Devinta adalah kekasih temanku yang bernama Fredi dan sebentar lagi akan bertunangan. Huh. Tapi meskipun Devinta akan bertunangan, tapi tidak merubah kedekatan dengan teman-teman Pria-nya termasuk aku. Rasa cintaku kepada Devinta pun tidak pernah hilang.

Jujur saja guest, aku selalu berharap agar hubungan Devinta agar bubar. Tapi nampaknya harapanku kepada Devinta sedikit menemui titik terang, karena akhir-akhir ini aku dan dia selalu mengerjakan tugas kantor bersama, so, otomatis kita semakin dekat dong.hhe. 

Pekerjaan yang kita kerjakan bersama membuat aku selalu bersama Devinta. Tak jarang aku mendapatkan momen berdua dengan Devinta. Dan aku pun memberanikan diri untuk sedikit menunjukan rasa sukaku kepada Devinta, tidak kusangka ternyata Devinta pun juga merasakaan hal yang sama juga.

Sampailah suatu hari aku melihat Devinta sedang duduk dan aku melihat nya sedang memandangi handphone-nya dengan sangat serius dan fokus. Hal itu membuatku penasaran dan aku langsung menuju ketempat dia duduk, dengan cara mengendap-endap karena aku ingin tau apa yang dilihat oleh Devinta. Sesampainya ditempat Devinta, ternyata dia sedang membaca artikel cerita sex disalah satu situs dewasa. Kemudian secara refleks akupun langsung mengagetkan dia,

“ Ouhhhh… kamu suka baca begituan ya Dev, pantes aja kelihatan serius sekali..hha ?? ” tanyaku mengagetkan Devinta.

Secara refleks, Devinta pun langsung menutup Hanphone-nya dan berkata,

“ Kamu kok tiba-tiba disini, emang kamu dari mana, kok aku gak tau kedatanganmu Dod?? ” tanya Devinta dengan terkejut.

“ Udah deeeh gak usah malu-malu, lanjutin aja bacanya ” ujarku.

“ Enggak aahh ada kamu ” balas Devinta.

“ Gak papa kok, kadang aku juga suka baca yang begituan kok ” ucapku.

“ Aaahhh kamu ternyata sama aja Dod….” ucapnya,

“ Emang kalau baca aja, nanti kalau sudah horny kamu ngapain Dev?? ” tanyaku.

“ Ya gak ngapa-ngapain to Dod, ya mau ngapain lagi ” jawab Devinta.

“ Aaaahhh yang bener, cewek kalau horny kan biasanya minta disetubuhi Dev ? ” cetusku sambil mendekatkan tubuhku kepada Devinta.

“ Iyhaa bener juga siiih kata kamu Dod ” jawab Devinta sambil tertawa.

Dan kemudian Devinta mengatakan sesuatu yang sangat mengagetkan hatiku.

“ Kamu udah punya pacar Dod..? ” tanya Devinta.

“ Eh, belom.. nggak laku Dev.. mana ada yang mau sama Aku..? ” jawabku sedikit berbohong.

“ Ah bohong Kamu Dod..! ” ucap Devinta sambil mencubit lenganku.

Secara tiba- tiba aliran darahku-pun seperti mengalir dengan cepat, otomatis titikupun berdiri dengan perlahan, aku jadi salah tingkah. Sepertinya Devinta melihat perubahan yang terjadi pada diriku, aku langsung pura-pura mau mengambil minum lagi, karena memang minumanku sudah habis, tetapi dia langsung menarik tanganku.

“ Ada apa Dev..? Minumannya sudah habis juga..? ” kataku pura-pura bodoh.

“ Dod, Kamu mau nolongin Aku..? ” ucap Devinta seperti memelas.

“ Iyaa.., ada apa Dev..? ” jawabku.

“ Aku.., Aku.. pengen bercinta Dod..? ” pinta Devinta.

“ Hah..! ”

kaget juga aku mendengarnya, bagai petir di siang hari, bayangkan saja, baru juga satu jam yang lalu kami berkenalan, tetapi dia sudah mengucapkan hal seperti itu kepadaku.

“ Ka.., Kamu..? ” ujarku terbata-bata.

Belum juga kusempat meneruskan kata- kataku, telunjuknya langsung ditempelkan ke bibirku, kemudian dia membelai pipiku, kemudian dengan lembut dia juga mencium bibirku. Aku hanya bisa diam saja mendapat perlakuan seperti itu. Walaupun ini mungkin bukan yang pertama kalinya bagiku, namun kalau yang seperti ini aku baru yang pertama kalinya merasakan dengan orang yang baru kukenal. Begitu lembut dia mencium bibirku, kemudian dia berbisik kepadaku.

“ Aku pengen bercinta sama Kamu, Dod..! Puasin Aku Dod..! ” Lalu dia mulai mencium telinganku, kemudian leherku, “ Aahh..! ” aku mendesah.

Mendapat perlakuan seperti itu, gejolakku akhirnya bangkit juga. Begitu lembut sekali dia mencium sekitar leherku, kemudian dia kembali mencium bibirku, dijulurkan lidahnya menjalari rongga mulutku. Akhirnya ciumannya kubalas juga, gelombang nafasnya mulai tidak beraturan. Cukup lama juga kami berciuman, kemudian kulepaskan ciumannya, kemudian kujilat telinganya, dan menelusuri lehernya yang putih bak pualam. Ia mendesah kenikmatan.
“ Aahh Dod..! ” dessahnya,

Mendengar desahannya, aku semakin bernafsu, tanganku mulai menjalar ke belakang, ke dalam Kaosnya. Kemudian kuarahkan menuju ke pengait BH-nya, dengan sekali sentakan, pengait itu terlepas. Kemudian aku mencium bibirnya lagi, kali ini ciumannya sudah mulai agak beringas, mungkin karena nafsu yang sudah mencapai ubun- ubun, lidahku disedotnya sampai terasa sakit, tetapi sakitnya sakit nikmat.

“ Dod.., buka dong bajunya..! ” katanya manja.

“ Bukain dong Dev.., ” kataku. Sambil menciumiku,

Devinta membuka satu persatu kancing kemeja, kemudian kaos dalamku, kemudian dia lemparkan ke samping tempat tidur. Dia langsung mencium leherku, terus ke arah puting susuku. Aku hanya bisa mendesah karena nikmatnya,
“ Akhh.., Dev. ” desahku,

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Kemudian Devinta mulai membuka sabukku dan celanaku dibukanya juga. Akhirnya tinggal celana dalam saja. Dia tersenyum ketika Melihat kepala kemaluanku off set alias menyembul ke atas. Devinta Melihat wajahku sebentar, kemudian dia cium kepala kemaluanku yang menyembul keluar itu. 

Dengan perlahan dia turunkan celana dalamku, kemudian dia lemparkan seenaknya. Dengan penuh nafsu dia mulai menjilati cairang bening yang keluar dari kemaluanku, rasanya nikmat sekali. Setelah puas menjilati, kemudian dia mulai memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya.

“ Okhh.. nikmat sekali, ” kataku dalam hati,

Sepertinya kemaluanku terasa disedot-sedot. Devinta sangat menikmatinya, sekali- sekali dia gigit kemaluanku.
“ Auwww.., sakit dong Dev..! ” kataku sambil agak meringis.

Devinta seperti tidak mendengar ucapanku, dia masih tetap saja memaju- mundurkan kepalanya. Mendapat perlakuannya, akhirnya aku tidak kuat juga, aku sudah tidak kuat lagi menahannya,

“ Dev, Aku mau keluar.. akhh..! ” Devinta cuek saja, dia malah menyedot batang kemaluanku lebih keras lagi, hingga akhirnya,

“ Croott.. croott.. croott.. !!! ”

Aku menyemburkan Spermaku ke dalam mulut Devinta. Dia menelan semua cairan spermaku, terasa agak ngilu juga tetapi nikmat. Setelah cairannya benar-benar bersih, Devinta kemudian berdiri, kemudian dia membuka semua pakaiannya, sampai akhirnya dia telanjang bulat.

Kemudian dia menghampiriku, menciumi bibirku.

“ Puasin Aku Dod..! ” katanya sambil memeluk tubuhku,

Kemudian dia menuju tempat tidur. Sampai disana dia tidur telentang. Aku lalu mendekatinya, tubuhnya yang elok, kuciumi bibirnya, kemudian kujilati belakang telinga kirinya. Dia mendesah keenakan,

“ Ssss… Uhhhh… Aahh…. ” Mendengar desahannya, aku tambah bernafsu, kemudian lidahku mulai menjalar ke payudaranya. Kujilati putingnya yang sebelah kiri, sedangkan tangan kananku meremas payudaranya yang sebelah kiri, sambil kadang kupelintir putingnya.

“ Okkhh..! Dodi sayang, terus Dod..! Okhh..! ” desahnya mulai tidak menentu.

Puas dengan bukit kembarnya, badanku kugeser, kemudian kujilati pusarnya, jilatanku makin turun ke bawah. Kujilati sekitar pangkal pahanya, Devinta mulai Devenguh hebat, tangan kananku mulai mengelus Vaginanya, lalu kumasukkan, mencari sesuatu yang mungkin kata orang itu adalah Itil. 

Devinta semakin Devenguh hebat, dia menggelinjang bak ikan yang kehabisan air. Kemudian aku mulai menjilati bibir kemaluannya, kukuakkan sedikit bibir kemaluannya, terlihat jelas sekali apa yang namanya Itil, dengan agak sedikit menahan nafas, kusedot Itilnya.

“ Aakkhh.. Dod.., ” Devinta menjerit agak keras,

Rupanya dia sudah orgasme, karena aku merasakan cairan yang menyemprot hidungku, kaget juga aku. Mungkin ini pengalaman pertamaku menjilati kemaluan wanita, karena sebelumnya aku tidak pernah. Aku masih saja menjilati dan menyedot Itilnya.

“ Dod..! Masukin Dod..! Masukin..! ” pinta dia dengan wajah memerah menahan nafsu.

Aku yang dari tadi memang sudah menahan nafsu, lalu bangkit dan mengarahkan kejantananku ke mulut kemaluannya, kugesek-gesekkan dulu di sekitar bibir kemaluannya.

“ Udah dong Dod..! Cepet masukin..! ” katanya manja.

Hemmm… rupanya ini cewek nggak sabaran banget ya ( kataku dalam hati ).Kemudian kutarik tubuhnya ke bawah, sehingga kakinya menjuntai ke lantai, terlihat kemaluannya yang menyembul. Pahanya kulebarkan sFredikit, kemudian kuarahkan kemaluanku ke arah liang senggama yang merah merekah. Perlahan tapi pasti kudorong tubuhku.

“ Bless..! ” akhirnya kemaluanku terbenam di dalam liang kemaluan Devinta.

“ Aaakkhh Dod..! ” desah Devinta.

Kaget juga dia karena sentakan kemaluanku yang langsung menerobos kemaluan Devinta. Aku mulai mengerakkan tubuhku, makin lama makin cepat, kadang- kadang sambil meremas- remas kedua payudaranya. Kemudian kubungkukkan badanku, lalu kuhisap puting susunya.

“ Aakkhh.., teruss.., Sayangg..! Teruss..! ” erang Devinta sambil tangannya memegang kedua pipiku.
Aku masih saja menggejot tubuhku, tiba- tiba tubuh Devinta mengejang,
“ Aaakkhh…! ”

Ternyata Devinta sudah mencapai puncaknya duluan.

“ Aku udah keluar duluan Sayang..! ” ucapnya,

“ Aku masih lama Dev.., ” kataku sambil masih menggenjot tubuhku.

Kemudian kuangkat tubuh Devinta ke tengah tempat tidur, secara spontan, kaki Devinta melingkar di pinggangku. Aku menggenjot tubuhku, diikuti goyangan pinggul Devinta.

“ Aakkhh Dev.., punya Kamu enak sekali. ” kataku memuji,

Devinta hanya tersenyum saja. Aku juga heran, kenapa aku bisa lama juga keluarnya. Tubuh kami berdua sudah basah oleh keringat, kami masih mengayuh bersama menuju puncak kenikmatan. Akhirnya aku tidak kuat juga menahan kenikmatan ini.

“ Aahh Dev.., Aku hampir keluar.., ” kataku agak terbata-bata.

“ Aku juga Dod..! Kita keluarin sama- sama ya Sayang..! ” kata Devinta sambil menggoyang pantatnya yang semok dan kenyal itu.

Goyangan pinggul Devinta semakin liar. Aku pun tidak kalah sama halnya dengan Devinta, frekuensi genjotanku makin kupercepat, sampai pada akhirnya,

“ Aaakkhh…! ” jerit Devinta sambil menancapkan kukunya ke pundakku.

“ Aakhh, Devinta.., Aku sayang Kamuu..! ” erangku sambil mendekap tubuh Devinta.

Kami terdiam beberap saat, dengan nafas yang tersenggal-senggal seperti pelari marathon yang berlari beberapa Kilometer.

“ Kamu strong sekali ya Dod, makasih ya Dod udah muasin aku …. emuaaachhh…! ” puji Devinta sembari mengecup bibirku.

“ Iya Dev, aku juga makasih banget karena hari ini kamu udah buat aku puass juga, emuuuuachhh… ” pujiku sembari kubalas ciuman kecilnya tadi.

Singkat cerita setelah kami melakukan hubungan intim tadi, kamipun berpelukan erat dan sejenak menghela nafas. Tak lama kemudian kami-pun bergegas merapikan diri dan memakai pakain kami, karena kami takut kejadian skandal kami dipergoki tunangannya. Sejak kejadian itu kamipun sering melakukan hubungan sex dimana saja selama ada kesempatan, dan sampai sekarang hubungan kami masih berlanjut. Selesai.



ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Thursday, July 4, 2019

Toketnya Yang Masih Kencang Serasa Menempel Didadaku - LapetBecek

Toketnya Yang Masih Kencang Serasa Menempel Didadaku - LapetBecek


Kejadiannya begini, suatu hari rumahku kedatangan tamu dari Padang. Uni Tati kakak tertua istriku. Dia datang ke Jakarta karena tugas kantor ikut seminar di kantor pusat sebuah bank pemerintah. Uni adalah kepala cabang di Padang, Uni menginap dirumah kami
.

Dari pada menginap di hotel, mendingan juga uang hotel disimpan buat beli oleh-oleh. Selama seminggu dia tinggal dirumahku. Dari istriku kutau kalau Uni Tati berusia 40 tahun. Suaminya sudah meningal 2 tahun lalu karena kecelakaan. Orangnya cantik, putih, tinggi semampai.

Lebih tepatnya kubilang anggun karena orangnya cenderung diam dan sangat religius. Selama di Jakarta, setiap ada kesempatan aku dan istriku mengajak Uni jalan-jalan, maklum ini kunjungan pertamanya ke Jakarta, biasanya ke mal karena waktunya sempit. Kami sudah berencana pas hari Sabtu akan jalan-jalan ke Taman Safari

Tiba hari Sabtu, istriku ternyata punya tugas mendadak dari kantor yaitu harus mengawasi pameran di Mangga Dua. Gagal deh rencana jalan-jalan ke Taman Safari. Istriku mengusulkan agar aku tetap mengantar Uni jalan-jalan misalkan ke Ancol saja dan pulangnya bisa jemput istriku di Mangga Dua.

Sebetulnya aku agak males kalo nggak ada istriku. Aku merasa risih harus jalan berdua Uni karena orangnya pendiam. Akupun menduga Uni pasti nggak mau. Tapi tanpa dinyata ternyata Uni menyetujui usul istriku.

Pagi-pagi banget istriku sudah berangkat naik KRL dari stasiun Pondok Ranji. Rumahku yang didaerah Bintaro cukup jauh dari Mangga Dua dan Ancol. Sementara menunggu Uni yang lagi jalan-jalan pagi aku sendirian dirumah menyeruput kopi dan merokok. Kami berencana jalan jam 10 pagi.

Sehabis ngopi dan merokok, aku kembali tidur-tiduran di kamarku menunggu jam. Pikiranku melayang membayangkan kakak istriku ini. Uni Tati sangat menarik perhatianku secara sexual. Jeleknya aku, mulia keluar. Aku tertantang menaklukkan wanita baik-baik, aku tertantang menaklukkan Uni. Mumpung ada kesempatan. Dasar setan selalu mencari kesempatan menggoda.

Kuatur jebakan untuk memancing Uni. Aku buru-buru mandi membasuh badan dan keramas. Dengan berlilit handuk aku menunggu kepulangan Uni dari olahraga paginya. Sekitar 10 menit aku menunggu dibalik horden dan kulihat Uni memasuki pagar depan dengan pintu besi yang agak berderit. Sengaja pintu rumah aku tutup tapi dibiarkan tak terkunci.

Aku berlalu menuju kamarku dan segera memasang jebakan untuk mengejutkan Uni. Aku masuk kamarku dan segera bertelanjang bulat. Pintu kamar kubuka lebar-lebar, jendela kamar juga kubuka biar isi kamar mendapat penerangan jelas.

Kudengar pintu depan berbunyi seperti ditutup. Akupun mulai beraksi. Dengan bertelanjang bulat aku menunggu Uni melewati kamarku dengan harapan dia melihat tubuh dan juniorku yang sedari tadi berdiri tegak membayangkan petualangan ini.

Handuk kututupkan ke kepala seolah-olah sedang mengeringkan rambut yang basah sehabis keramas. Aku berpura-pura tidak melihat dan tidak menyadari kehadiran Uni. Dari bakik handuk yang kusibak sedikit, kulihat sepasang sepatu kets melintas kamarku. Aku yakin Uni pasti melihat tubuhku yang polos dengan junior yang tegak berdiri.

Nafsuku semakin menggeliat ketika kuamati dari balik handuk sepasang sepatu yang tadinya hampir melewati kamarku kini seperti terpaku berhenti didepan kamar tanpa beranjak. Aku semakin aktif menggosok-gosok rambutku dan berpura-pura tak tau kalo ada orang.

Beberapa detik aku berbuat begitu dan aku merencanakan sensasi berikut. Dengan tiba-tiba kuturunkan handuk dan menengok ke arah pintu kamar. Aku pura-pura kaget menyadari ada orang. “E..eee…maaf Uni, aku kira nggak ada orang,” kataku seraya mendekati pintu seolah-olah ingin menutup pintu.

Aku tidak berusaha menutup kemaluanku yang menantang. Malah kubiarkan Uni terdiam memandangi tubuhku yang polos mendekat kearahnya.

Dengan tenagnya seolah aku berpakaian lengkap kudekati Uni dan sekali lagi memohon maaf.

“Maaf ya Uni, aku terbiasa seperti ini. Aku nggak sadar kalau ada tamu dirumha ini,” kataku sambil berdiri didepan pintu mau menutup daun pintu.

Tiba-tiba seperti tersadar Uni bergegas meninggalkanku sambil berkata “i…i…iya , tidak apa-apa…..”. Dia langsung masuk ke kamar belakang yang diperuntukkan kepadanya selama tingal dirumahku. Aku kemudian memakai celana pendek tanpa CD dan mengenakan kaos oblong lantas smengetok pintu kamar Uni.

“Ada apa Andy,” ujar Uni setelah membuka pintu. Kulihat dia tidak berani menatapku. Mungkin malu. Membaca situasi seperti itu, aku tidak menyiakan kesempatan. “Uni, maafkan Andy ya…aku lupa kalau ada tamu dirumah ini,” kataku merangkai obrolan biar nyambung.

“Nggap apa-apa, cuma Uni malu hati, sungguh Uni malu melihat kamu telanjang tadi,” balasnya tanpa mau menatap aku. “Kenapa musti malu? Kan nggak sengaja, apa lagi Uni kan sudah pernah menikah jadi sudah biasa melihat yang tegak-tegak seperti itu,” kataku memancing reaksinya.

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

“Sejujurnya Uni tadi kaget setengah mati melihat kamu begitu. Yang Uni malu, tanpa sadar Uni terpaku didepan kamarmu. Jujur aja Uni sudah lama tidak melihat seperti itu jadi Uni seperti terpana,” katanya sambil berlari ketempat tidurnya dan mulai sesenggukan. Aku jadi ngak tega. Kudekati Uni dan kuberanikan memegang pundaknua seraya menenangkannya.

“Sudalah nggak usah malu, kan cuma kita berdua yang tau.” Melihat reaksinya yang diam saja, aku mulai berani duduk disampingnya dan merangkul pundaknya. Kuusap-usap rambutnya agak lama tanpa berkata apa-apa. Ketika kurasa sudah agak tenang kusarankan untuk mandi aja. Kutuntun tangannya dan sekonyong-konyong setan mendorongku untuk memeluk saat Uni sudah berdiri didepanku.

Lama kupeluk erat, Uni diam saja. Mukanya diselusupkan didadaku. Payudaranya yang masih kencang serasa menempel didadaku. Sangat terasa debar jantungnya. Perlahan tangaku kuselusupkan ke balik kaos bagian belakang berbarengan dengan ciumanku yang mendarat dibibirnya.

“Jangan Ndy…dosa,” katanya sambil melepaskan diri dari pelukanku. Namun pelukanku tidak mau melepaskan tubuh sintal yang sedang didekapnya. Daam usaha kedua Uni sudah menyerah. Bibirnya dibiarkan kulumat walau masih tanpa perlawanan. Ucoba lagi menyelusupkan tangan dibalik kaosnya, kali ini bagian depan. Tangan kanan yang menggerayang langsung pada sasaran…putting susu sebelah kiri. Uni menggeliat.

Pilinan jariku di payudaranya membuat nafsunya naik. Aku tau dari desiran nafasnya yang mulai memburu. Aku heran juga dengan wanita ini, tetap diam tanpa perlawanan. Mungkin ini style wanita baik-baik. Bagusnya, semua apa yang kulakukan tidak ada penolakan. Seperti dicocok hidungnya Uni menurut saja dengan apa yang kulakukan terhadapnya.

Perlahan kubuka kaosnya, kubukan celana panjang trainings pack-nya, kubuka Bh nya, kubuka CD-nya , Uni diam saja. Kubopong tubuhnya ketempat tidur. Kubuka kaosku, kubuka celana pendekku……..Uni masih diam.

Lidahku mulai bermain disekujur tubuhnya. Dari ujung kepala, turun ke telinga, ke bibir, ke leher…perlahan kusapu dadanya, payudaranya kulumat dengan gigitan kecil…turun lagi kebawah, pusarnya kukorek dengan lidahku….turun lagi ke sekumpulan rambut dan kedua pahanya hujilat-jilat terus sampai keujung jempol kaki. Aku tidak merasa jijik karena tubuh Uni yang putih bersih sangat membangkitkan gairah.

Kukangkangkan kakinya, uni masih diam saja. Tapi kuamati matanya terpejam menikmati sentuhan tiap jengkal ditubuhnya. Baru ketika kudaratkan sapuan lidahku di bibuir vagina dan klitorisnya Uni tiba-tiba berteriak ,” Ahhhhhhhh……..”

“Kenapa Uni….Sakit?,” tanyaku. Uni hanya menggeleng. Dan aktifitas jilat menjilat vagina itu kulanjutkan. Uni menggelinjang dahsyat dan tiba-tiba dia meraung..”Andyyyyyyy… ayo Andy….jangan siksa aku dengan nikmat…ayo Andy tuntaskan….Uni udah nggak tahan,” katanya.

Aku tidak mau berlama-lama. Tanpa banyak variasi lagi langsung kunaiki kedua pahanya dan kutusukkan juniorku kelobah surganya yang sudah basah kuyup. Dengan sekali sentak semua batangku yang panjang melesak kedalam. Agak seret kurasakan, mungkin karena sudah dua tahun nganggur dari aktifitas. Kugenjot pantatku dengan irama tetap, keluar dan masuk. Uni semakin menggelinjang.

Aku pikir nggak usah lama-lama bersensasi, tuntaskan saja. Lain waktu baru lama. Melihat reaksinya pertanda mau orgasme , gerakan pantatku semakin cepat dan kencang. Uni meronta-ronta , menarik segala apa yang bisa ditariknya, bantal, sepre. Tubuhku tak luput dari tarikannya.

Semua itu dilakukan dengan lebih banyak diam. Dan tiba-tiba tubuhnya mengejang, “Ahhhhhhhhhhhhhhhh…….,” lolongan panjangnya menandakan dia mencapai puncak. Aku mempercepat kocokanku diatas tubuhnya. Tiba-tiba aku didikejutkan dengan hentakan tubuhnya dibarengi tanganya yang mendorong tubuhku. “Jangan keluarin didalam ….aku lagi subur,” suaranya tresengal-sengal ditengah gelombang kenikmatan yang belum mereda.

Kekagetanku hilang setelah tau reaksinya. “Baik Uni cantik, Andy keluarin diluar ya,” balasku sambil kembali memasukkan Junior ku yang sempat terlepas dari vaginanya karena dorongan yang cukup keras. Kembali kupompa pinggulku. Aku rasa kali ini Uni agak rileks. Tapi tetap dengan diam tanpa banyak reaksi Uni menerima enjotanku. Hanya wajahnya yang kadang-kadang meringis keenakan.

Dan sampailah saatnya, ketika punyaku terasa mulai berkedut-kedut, cepat-cepat kucabut dari vagina Uni dan kugencet batang juniorku sambil menyemprotkan sperma. Kuhitung ada lima kali juniorku meludah. Sekujur tubuh Uni yang mulus ketumpahan spermaku. Bahkan wajahnyapun belepotan cairan putih kental. Dan aku terkulai lemas penuh kenikmatan. Kulihat Uni bagkit mengambil tisu dan meneyka badan serta mukanya.

“Andy…kamu sudah memberikan apa yang belum pernah Uni rasakan,” kata wanita cantik itu sambil rebahan disampingku.

Dengan persetujuan Uni, kami menelpon istriku mengabarkan kalau batal ke Ancol karena Uni nggak enak badan. Padahal kami melanjutkan skenario cinta yang menyesatkan. Kami masih tiga kali lagi melakukan persetubuhan. Dalam dua sessi berikut sangat kelihatan perkembangan yang terjadi sama Uni.

Kalo permainan pertama dia banyak diam, permainan kedua mulai melawan, permainan ketiga menjadi dominan, permainan keempat menjadi buas….buas…sangat buas. Aku sempat memakai kondom biar bisa dengan leluasa menumpahkan sperma saat punyaku ada didalam vaginanya.

“Aku sadar ini dosa, tapi aku juga menikmati apa yang belum pernah aku rasakan selama bersuami. Suamiku itu adalah pilihan orang tua dan selisih 20 tahun dengan Uni. Sampai Uda meninggal, Uni tidak pernah merasakan kenikmatan sexual seperti ini. Sebetulnya Uni masih kepengen nikah lagi tapi tidak pernah ketemu orang yang tepat. Mungkin posisi Uni sebagai kepala bagian membuat banyak pria menjauh.” Cerita Uni sebelum kami sama-sama tertidur pulas.



ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Wednesday, July 3, 2019

Kеlеntitnуа Tidаk Pеrnаh Aku Lераѕkаn Dаri Jilаtаn Lidаhku - LapetBecek

Kеlеntitnуа Tidаk Pеrnаh Aku Lераѕkаn Dаri Jilаtаn Lidаhku - LapetBecek


Pеrkеnаlаnku ѕеmаkin bеrlаnjut. Pаdа ѕааt itu, аku bаru ѕаjа hаbiѕ mаndi ѕоrе. Aku mеlihаt Melani ѕеdаng duduk-duduk di kаmаrnуа ѕаmbil nоntоn TV. Kеbеtulаn, kаmаrku dаn kаmаrnуа bеrѕеbеlаhаn. Sеhinggа mеmudаhkаnku untuk mеngеtаhui ара уаng diреrbuаtnуа di kаmаrnуа.


Dеngаn hаnуа mеngеnаkаn hаnduk, аku mеnсоbа mеnggоdа Melani. Dеngаn tеrkеjut iа lаlu mеlаdеni оlоk-оlоkаnku. Aku ѕеmаkin bеrаni mеngоlоk-оlоknуа. Akhirnуа iа mеngеjаrku. Aku рurа-рurа bеruѕаhа mеngеlаk dаn mеnсоbа mаѕuk kе kаmаrku. Eh.. tеrnуаtа diа tidаk mеnghеntikаn niаtnуа untuk mеmukulku dаn ikut mаѕuk kе kаmаrku.

“Awаѕ kаu.. еntаr kuреrkоѕа bаru tаhu..” gеrtаknуа.
“Cоbа kаlаu bеrаni..” tаntаngku реnuh hаrар.

Aku mеnаtар mаtаnуа, kulihаt, аdа kеrinduаn уаng ѕеlаmа ini tеrреndаm, оlеh jаmаhаn lеlаki. Kеmudiаn, tаnра dikоmаndо iа mеnutuр kаmаrku. Aku уаng ѕеbеnаrnуа jugа mеnаhаn gаirаh tidаk mеmbuаng-buаng kеѕеmраtаn itu.

Aku mеrаih tаngаnnуа, Melani tidаk mеnоlаk. Kеmudiаn kаmi ѕаmа-ѕаmа bеrраgutаn bibir. Tеrnуаtа, wаnitа саntik ini ѕаngаt аgrеѕif. Bеlum lаgi аku mаmрu bеrbuаt lеbih bаnуаk, tеrnуаtа iа mеnуаmbаr hаnduk уаng kukеnаkаn. 

Iа tеrkеjut kеtikа mеlihаt kеjаntаnаnku ѕudаh ѕеtеngаh bеrdiri. Tаnра bаѕа-bаѕi, iа mеnуаmbаr kеjаntаnаnku ѕеrtа mеrеmаѕ-rеmаѕnуа.

“Oh.. еnnааkk.. tеruѕѕh..” dеѕiѕаnku tеrnуаtа mеngundаng gаirаhnуа untuk bеrbuаt lеbih jаuh. Tibа-tibа iа bеrjоngkоk, ѕеrtа mеlumаt kераlа kоntоlku.
“Uf.. Sѕhh.. Auhh.. Nikmmааt..” Iа ѕаngаt mаhir ѕереrti tidаk mеmbеrikаn kеѕеmраtаn kераdа untuk bеrbuаt tаnуа.

Dеngаn ѕеmаngаt, iа tеruѕ mеngulum dаn mеngосоk kоntоlku. Aku tеruѕ dibuаi dеngаn ѕеjutа kеnikmаtаn. Sаmbil tеruѕ mеngосоk, mulutnуа tеruѕ mеlumаt dаn mеmаju-mundurkаn kераlаnуа.

“Oh.. аduhh..” tеriаkku kеnikmаtаn.
Akhirnуа hаmрir 5 mеnit аku mеrаѕаkаn аdа ѕеѕuаtu уаng mеndеѕаk hеndаk kеluаr dаri kоntоlku.
“Oh.. tаhаnn.. ѕѕhh. Uh.. аku mаu kkеluааr.. Oh..”

Dеngаn ѕеkеtikа munсrаtlаh аir mаniku kе dаlаm mulutnуа. Sаmbil tеruѕ mеngoсоk dаn mеngulum kераlа kоntоlku, Melani bеruѕаhа mеmbеrѕihkаn ѕеgаlа mаni уаng mаѕih tеrѕiѕа.

Aku mеrаѕаkаn nikmаt уаng luаr biаѕа. Melani tеrѕеnуum. Lаlu аku mеnсium bibirnуа. Kаmi bеrсiumаn kеmbаli. Lidаhnуа tеruѕ dimаѕukkаn kе dаlаm mulutku. Aku ѕаmbut dеngаn mеngulum dаn mеnghiѕар lidаhnуа.

Pеrlаhаn-lаhаn kеjаntаnаnku bаngkit kеmbаli. Kеmudiаn, tаnра kumintа, Melani mеlераѕkаn ѕеluruh раkаiаnnуа tеrmаѕuk brа dаn CDnуа. Mаtаku tаk bеrkеdiр. Buаh dаdаnуа уаng mоntоk bеrwаrnа рutih muluѕ dеngаn рuting уаng kehitaman tеrаѕа mеnаntаng untuk kulumаt. Kurеmаѕ-rеmаѕ lеmbut рауudаrаnуа уаng ѕеmаkin bеngkаk.

“Ohh.. Tеruѕѕ Ron.. Tеruѕѕ..” dеѕаhnуа.

Kuhiѕар-hiѕар реntilnуа уаng mеngеrаѕ, ѕеmnеtаrа tаngаn kiriku mеnеluѕuri раngkаl раhаnуа. Akhirnуа аku bеrhаѕil mеrаih bеlаhаn уаng bеrаdа di сеlаh-сеlаh раhаnуа. Tаngаnku mеngеѕеk-gеѕеknуа. Dеѕаhаn kеnikmаtаn ѕеmаkin mеlеnguh dаri mulutnуа. 

Kеmudiаn сiumаnku bеrаlih kе реrut dаn tеruѕ kе bаwаh рuѕаr. Aku mеmbаringkаn tubuhnуа kе kаѕur. Tаnра dikоmаndо, kuѕibаkkаn раhаnуа. Aku mеlihаt vаginаnуа bеrwаrnа mеrаh mudа dеngаn rumрut-hitаm уаng tidаk bеgitu tеbаl. 

Dеngаn реnuh nаfѕu, аku mеnсiumi mеmеknуа dаn kujilаti ѕеluruh bibir kеmаluаnnуа.
“Oh.. tеruѕѕ.. Ron.. Aduhh.. Nikmаt..”

Aku tеruѕ mеmреrmаinkаn klitоriѕnуа уаng mulai mengeras. Sереrti оrаng уаng ѕеdаng mеngесuр bibir, bibirku mеrараt dibеlаhаn vаginаnуа dаn kumаinkаn lidаhku уаng tеruѕ bеrрutаr-рutаr di kеlеntitnуа ѕереrti ulаr соbrа.

“Ron.. оh.. tеruѕѕ ѕауаngg.. Oh.. Hhh.”

Dеѕiѕ kеnikmаtаn уаng kеluаr dаri mulutnуа, ѕеmаkin mеmbuаtku bеrѕеmаngаt. Kuѕibаkkаn bibir kеmаluаnnуа tаnра mеnghеntikkаn lidаh dаn ѕеdоtаnku bеrаkѕi.

“Sruсuuр-ѕruсuuр.. оh.. Nikmаt.. Tеruѕѕ.. Tеruѕѕ..” tеriаkаnnуа ѕеmаkin mеrintih.

Tibа-tibа iа mеnеkаnkаn kераlаku kе mеmеknуа, kuhiѕар kuаt lubаng mеmеknуа. Iа mеngаngkаt рinggul, саirаn lеndir уаng kеluаr dаri mеmеknуа ѕеmаkin bаnуаk.

“Aduhh.. Akku.. kеluuааrr.. Oh.. Oh.. Crооt.. Crооt.”

Tеrnуаtа Melani mеngаlаmi оrgаѕmе уаng dаhѕуаt. Sеbаgаimаnа уаng iа lаkukаn kераdаku, аku jugа tidаk mеnghеntikаn hiѕараn ѕеrtа jilаtаn lidаhku dаri mеmеknуа. Aku menjilati ѕеmuа саirаn уаng kеluаr dаri mеmеknуа. Tеrаѕа ѕеdikit аѕin tарi nikmаt.

Melani mаѕih mеnikmаti оrgаѕmеnуа, dеngаn ѕроntаn, аku mеmаѕukkаn kоntоlku kе dаlаm mеmеknуа уаng bаѕаh. Blеѕѕ..

“Oh.. еnаkk..”

Tаnра mеngаlаmi hаmbаtаn, kоntоlku tеruѕ mеnеrjаng kе dаlаm lеmbutnуа vаginа Melani.

“Oh.. Melani.. ѕауаng.. еnаkk.”

Bаtаng kоntоlku ѕереti diрilin-рilin. Melani уаng mulаi bеrgаirаh kеmbаli tеruѕ mеnggоуаngkаn рinggulnуа.

“Oh.. Ronii.. Tеruѕ.. Sауаng.. Mmhhѕѕ..”

Kоntоlku kuhujаmkаn lаgi lеbih dаlаm. Sеkitаr 15 mеnit аku mеnindih Melani.. Lаlu iа mеmintа аgаr аku bеrаdа di bаwаh.

“Kаmu di bаwаh уа, ѕауаng..” biѕiknуа реnuh nikmаt.

Aku hаnуа раѕrа. Tаnра mеlераѕkаn hujаmаn kоntоlku dаri mеmеknуа, kаmi mеrоbаh роѕiѕi. Dеngаn ѕеmаngаt mеnggеlоrа, kоntоlku tеruѕ digоуаngnуа. Melani dеngаn hеntаkаn рinggulnуа уаng mаju-mundur ѕеmаkin mеnеnggеlаmkаn kоntоlku kе liаng mеmеknуа.

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

“Oh.. Rеmаѕ dаdаku.. Sауааngg. Tеruѕ.. Oh.. Au.. Sауаng еnаkk..” еrаngаn kеnikmаtаn tеruѕ mеmаnсаr dаri mulutnуа.
“Oh.. Melani.. tеruѕ gоуаng ѕауаng..” tеriаkku mеmаnсing nаfѕunуа.

Bеnаr ѕаjа. Kirа-kirа 15 mеnit kеmudiаn gоуаng рinggulnуа ѕеmаkin diреrсераt. Sеmbаri рinggulnуа bеrgоуаng, tаngаnnуа mеnеkаn kuаt kе аrаh dаdаku. Aku mеngimbаnginуа dеngаn mеnаikkаn рinggulku аgаr kоntоlku mеnghujаm lеbih dаlаm.

“Ronii.. Ah.. аku.. Kеluuааrr, ѕауаng.. Oh..”

Tеrnуаtа Melani tеlаh mеnсараi оrgаѕmе уаng kеduа. Aku ѕеmаkin mеnсоbа mеngауuh kеmbаli lеbih сераt. Kаrеnа ѕереrtinуа оtоt kеmаluаnku ѕudаh dijаlаri rаѕа nikmаt ingin mеnуеmburkаn ѕреrmа.

Kеmudiаn аku mеmbаlikkаn tubuh Melani, ѕеhinggа роѕiѕinуа di bаwаh. Aku mеngаnjаl рinggulnуа dеngаn bаntаl. Aku mеmutаr-mutаrkаn рinggulku ѕереrti irаmа gоуаng dаngdut.

“Oh.. Melani.. Nikmаtnуа.. Aku kеluuаrr..”
Crоtt.. Crоtt.. Tttсrоtt.
Aku tidаk kuаt lаgi mеmреrtаhаnkаn ѕереrmаku.. Dаn lаngѕung ѕаjа mеmеnuhi liаng vаginа Melani.
“Oh.. Ronii.. kаu bеgitu реrkаѕа.”

Tеlаh lаmа аku mеnаntikаn hаl ini. Ujаrnуа ѕеmbаri tаngаnnуа tеruѕ mеngеluѕ рunggungku уаng mаѕih mеrаѕаkаn kеnikmаtаn kаrеnа, Melani mеmаinkаn оtоt kеmаluаnnуа untuk mеrеmаѕ-rеmаѕ kоntоlku.

Kеmudiаn, tаnра kukоmаndо, Melani bеruѕаhа mеnсаbut kоntоlku уаng tаmраk mеngkilаt kаrеnа саirаn ѕреrmаku dаn саirаn mеmеknуа. Dеngаn роѕiѕi 69, kеmudiаn iа mеnеduhi аku dаn lаngѕung mulutnуа bеrgеrаk kе kераlа kоntоlku уаng ѕudаh mulаi lауu. 

Aku mеmаndаngi lоbаng mеmеknуа. Melani tеruѕ mеngulum dаn mеmаinkаn lidаhnуа di lеhеr dаn kераlа kоntоlku. Tаngаn kаnаnnуа tеruѕ mеngосоk-ngосоk bаtаng kоntоlku. Sеѕеkаli iа mеnghiѕар dеngаn kеrаѕ lоbаng kоntоlku. Aku mеrаѕа nikmаt dаn gеli.

“Ohh.. Mell.. Gеli..” dеѕаhku lirih.

Nаmun Melani tidаk реduli. Iа tеruѕ mеngесuр, mеngulum dаn mеngосоk-ngосоk kоntоlku. Aku tidаk tinggаl diаm, саirаn rаngѕаngаn уаng kеluаr dаri vаginа Melani mеmbuаtku bеrgаirаh kеmbаli. Aku kеmudiаn mеngесuр dаn mеnjilаti lоbаng mеmеknуа. Kеlеntitnуа уаng bеrаdа di ѕеbеlаh аtаѕ tidаk реrnаh аku lераѕkаn dаri jilаtаn lidаhku. Aku mеnеmреlkаn bibirku dikеlеntit itu.

“Oh.. Ron.. nikmаt.. уа.. Oh..” dеѕiѕnуа.
Melani mеnghеntikаn ѕеjеnаk аkѕinуа kаrеnа tidаk kuаt mеnаhаn kеnikmаtаn уаng kubеrikаn.
“Oh.. Tеruѕ.. Sѕѕ.” dеѕаhnуа ѕеmbаri kераlаnуа bеrdiri tеgаk.
Kini mеmеmеknуа mеmеnuhi mulutku. Iа mеnggеrаk-gеrаkkаn рinggulnуа.
“Ohh.. Yааhh. Tеruѕѕ.. Oh.. Oооhh” аku mеnуеdоt kuаt lоbаng vаginаnуа.
“Ron.. Akukk оhh.. Kеluuааrrа.. Sѕѕhhѕѕ..”

Iа mеnghеntikаn gеrаkаnnуа, tарi аku tеruѕ mеnуеdоt-nуеdоt lоbаng mеmеknуа dаn hаmрir ѕеnmuа саirаn уаng kеuаr mаѕuk kеmulutku. Kеmudiаn dеngаn ѕiѕа-ѕiѕа tеnаgаnуа, kоntоlku kеmbаli mеnjаdi ѕаѕаrаn mulutnуа. Aku ѕаngаt ѕukа ѕеkаli dаn mеnikmаtinуа. Kuаkui, Melani mеruраkаn wаnitа уаng ѕаngаt рintаr mеmbаhаgiаkаn раѕаngаnnуа.

Melani tеruѕ mеnghiѕар dаn mеnуеdоti kоntоlku ѕеmbаri mеngосоk-ngосоknуа. Aku mеrаѕаkаn nikmаt уаng tiаdа tаrа.

“Oh.. Melani.. Tеruѕѕ.. Tеruѕѕ..” rintihku mеnаhаn ѕеjutа kеnikmаtаn. Melani tеruѕ mеmреrсераt gеrаkаn kераlаnуа.
“Au.. Mel.. Aku.. Kеluuаrr.. Oh..”
Crооtt.. Crооtt.. Crооt..

Mаniku tumраh kе dаlаm mulutnуа. Sеmеntаrа Melani ѕеаkаn tidаk mеrеlаkаn ѕеtеtеѕрun аir mаniku mеlеlеh kеluаr.

“Tеrimаkаѕih ѕауаng..” uсарku..
Aku mеrаѕа рuаѕ.. Iа mеngесuр bibirku.

“Ron.. mungkinkаh ѕеlаmаnуа kitа biѕа ѕереrti ini. Aku ѕаngаt рuаѕ dеngаn реlауаnаnmu. Aku tidаk ingin реrbuаtаn ini kаu lаkukаn dеngаn wаnitа lаin. Aku ѕаngаt рuаѕ. Biаrlаh аku ѕаjа уаng mеnеrimа kерuаѕаn ini.” Aku hаnуа tеrdiаm.Cerita Seks Terbaru

Sеjаk ѕааt itu, аku ѕеring mеniduri dia di kаmаrnуа, ѕеlаlu dаlаm kеаdааn tеlаnjаng bulаt, tеrkаdаng diа jugа tidur di dаlаm kаmаr kоѕtku, tеntu ѕаjа dеngаn mеngеndар-еndар. Tеrkаdаng, kаmi tidur ѕаling tumраng tindih, mеmbеntuk роѕiѕi 69, аku tеrtidur dеngаn mеnghiruр аrоmа ѕеgаr kеmаluаnnуа, ѕеdаngkаn Melani mеngulum реniѕku. 

Di kаlа раgi, реniѕku ѕеlаlu еrеkѕi, diеmut-еmutnуа реniѕku уаng еrеkѕi itu, ѕеmеntаrа аku dеngаn сuеknуа tеtар tidur ѕаmbil mеnikmаti оrаlnуа, tеrkаdаng аku jilаt kеmаluаnnуа kаrеnа gеmаѕ.



ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Tuesday, July 2, 2019

Jilatan Adinda Yang Terlalu Opsesi Dengan Biji Pelerku - LapetBecek.

Jilatan Adinda Yang Terlalu Opsesi Dengan Biji Pelerku - LapetBecek.


Hari telah senja awan mendung pun mulai menyelimuti kota metropolitan ini membuat suasana semakin gelap, di saat itu di sebuah SMA terkenal di kota itu nampak gadis-gadis membubarkan diri dari sebuah ruang aula olahraga. Mereka mengakhiri latihan rutin paduan suaranya.


Tawa dan canda khas gadis-gadis SMA mengiringi mereka bubar, satu demi satu mereka keluar dari halaman sekolah yang telah gelap itu. Sementara itu suara gunturpun terdengar pertanda hujan akan segera turun. Ada yang dijemput oleh orangtuanya, adapula yang membawa mobil pribadi, dan ada juga yang menggunakan angkutan umum.

Aku sangatlah hafal dengan aktifitas anak-anak SMA ini, karena memang sudah hampir sebulan ini aku bekerja sebagai tukang cat disekolah ini. Usiaku memang sudah tidak muda lagi, saat ini aku berusia 48 tahun. Aku adalah seorang duda, istriku sudah lama minggat meninggalkanku setelah mengetahui aku tengah melakukan hubungan intim dengan keponakannya.

Reputasiku sebenarnya lebih banyak didunia hitam, dulu aku dikenal sebagai seorang germo yang aku sambi dengan berdagang ganja. Namun beberapa bulan yang lalu semua para wanita yang aku jajakan terkena razia dan kemudian bisnis ganjaku hancur setelah kurir yang biasa membawa ganja ditembak mati oleh aparat.

Di sekolah ini aku tidaklah sendirian aku masuk bekerja dengan sahabatku yang bernama Charles yang seorang residivis kambuhan. Usianya tidak begitu jauh denganku yaitu 46 th, perawakannya tinggi besar rambutnya panjang dan kumal. Kami berdua sengaja hidup berpindah-pindah tempat. Kami bukanlah pekerja tetap di sekolah ini, kami hanya mendapat order untuk mengerjakan pengecatan kusen-kusen pintu-pintu kelas di sekolah ini.

Kami tidak dibayar mahal namun kami memiliki kebebasan untuk tinggal dilingkungan sekolah ini. Maklumlah kami adalah perantau yang hidup nomaden. Di antara gadis-gadis tadi, ada salah seorang cewek cantik yang paling menonjol. Aku sangatlah hafal dengannya. Karena memang dia cantik, lincah dan aktif dalam kegiatan sekolah, sehingga akupun sering melihat dia mondar-mandir di sekolahan ini.

Adinda namanya. Postur tubuhnya mungil, wajahnya cantik dan imut-imut, kulitnya putih bersih serta wangi selalu, rambutnya ikal panjang sebahu dan selalu diikat model ekor kuda. Penampilannyapun modis sekali, seragam sekolah yang dikenakannya selalu berukuran ketat,

rok seragam abu-abunya berpotongan sejengkal di atas lutut sehingga pahanya yang putih mulus itu terlihat, ukuran roknyapun ketat sekali membuat pantatnya yang sekal itu terlihat menonjol, sampai-sampai garis celana dalamnya pun terlihat jelas melintang menghiasi lekuk pantatnya, tak lupa kaos kaki putih selalu menutupi betisnya yang putih mulus itu.

Tidak bisa kupungkiri lagi aku tengah jatuh cinta kepadanya. Namun perasaan cintaku kepada Adinda lebih didominasi oleh nafsu sex semata. Gairahku memuncak apabila aku memandanginya atau berpapasan dengannya disaat aku tengah bekerja di sekolah ini.

Ingin aku segera meyetubuhinya. Banyak sudah pelacur-pelacur kunikmati akan tetapi belum pernah aku menikmati gadis perawan muda yang cantik dan sexy seperti Adinda ini. Aku ingin mendapatkan kepuasan itu bersama dengan Adinda.

Informasi demi informasi kukumpulkan dari orang-orang disekolah itu, dari penjaga sekolah, dari tukang parkir, dari karyawan sekoah. Dari merekalah aku mengetahui nama gadis itu. Dan dari orang-orang itupun aku tahu bahwa Adinda adalah seorang siswi yang duduk di kelas 2, umurnya baru 16 tahun.

Beberapa saat yang lalu dia merayakan hari ulang tahunnya yang ke-16 di kantin sekolah ini bersama teman-temannya sekelas. Diapun termasuk siswi yang berprestasi, aktif dalam kegiatan paduan suara dan paskibra di sekolah ini.

Dan yang informasi terakhir yang kudapat bahwa dia ternyata adalah salah seorang finalis foto model yang diselenggarakan oleh sebuah majalah khusus untuk remaja putri terkenal di Negeri ini dan bulan depan dia akan mengikuti seleksi tahap akhir.

Kini disaat sekolah telah sepi salah satu dari gadis-gadis anggota paduan suara tadi itu tengah merintih-rintih dihadapanku. Dia adalah cewek cantik cantik yang terakhir kalinya masih tersisa di dalam sekolah ini, yang sedang asyik bercanda ria dengan temannya melalui HP-nya, semetara yang lainnya telah meninggalkan halaman sekolah.

Beberapa menit yang lalu melalui sebuah pergulatan yang tidak seimbang aku telah berhasil meringkusnya dengan mudah, kedua tangannya kuikat dengan kencang kebelakang tubuhnya, dan mulutnya kusumpal dengan kain gombal. Setelah itu kuseret tubuhnya ke bangsal olahraga yang berada di bagian belakang bangunan sekolah ini.

Tidak salah salah lagi gadis itu adalah Adinda, cewek cantik sang primadona sekolah ini yang telah lama kuincar. Aku sangat hafal dengan kebiasaannya yaitu menunggu jemputan supir orang tuanya di kala selesai latihan sore dan sang supir selalu terlambat datang setengah jam dari jam bubaran latihan. Sehingga dia paling akhir meninggalkan halaman sekolah. Kini dia meringkuk dihadapanku, dengan tangisannya yang teredam oleh kain gombal yang kusumpal di mulutnya.

Sepertinya dia memohon-mohon sesuatu padaku tetapi apa peduliku, air matanya nampak mengalir deras membasahi wajahnya yang cantik itu. Sesekali nampak dia meronta-ronta mencoba melepaskan ikatan tali tambang yang mengikat erat di kedua tangannya, namun sia-sia saja, aku telah mengikat erat dengan berbagai simpul.

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Posisinya kini bersujud di hadapanku, tangisannya kian lama kian memilukan, aku menyadari sepenuhnya bahwa dia kini tengah berada dalam rasa keputusasaan dan ketakutan yang teramat sangat di dalam dirinya. Kunyalakan sebatang rokok dan kunikmati isapan demi isapan rokok sambil kutatap tajam dan kupandangi tubuh cewek cantik itu, indah nian tubuhnya, kulitnya putih bersih, pantatnya sekal berisi.

Kunikmati rintihan dan tangis cewek cantik yang tengah dilanda ketakutan itu, bagai seseorang yang tengah menikmati alunan musik di dalam ruangan sepi. Suara tangisnya yang teredam itu memecahkan kesunyian bangsal olahraga di sekolah yang tua ini. Sesekali dia meronta-ronta mencoba melepaskan tali ikatan yang mengikat kedua tangannya itu.

Lama kelamaan kulihat badannya mulai melemah, isak tangisnya tidak lagi sekeras tadi dan sekarang dia sudah tidak lagi meronta-ronta mungkin tenaganya telah habis setelah sekian lamanya menagis meraung-raung dengan mulutnya yang telah tersumbat.

Sepertinya di dalam hatinya dia menyesali, kenapa Heru supirnya selalu terlambat menjemputnya, kenapa tadi tidak menumpang Desy sahabat karibnya yang tadi mengajaknya pulang bareng, kenapa tadi tidak langsung keluar dari lingkungan sekolah di saat latihan usai, kenapa malah asyik melalui HP bercanda ria dengan Fifi sahabatnya. Yah, semua terlambat untuk disesali pikirnya, dan saat ini sesuatu yang mengerikan akan terjadi pada dirinya.

“Beres Yon.., pintu pagar depan sudah gue tutup dan gembok”, terdengar suara dari seseorang yang tengah memasuki bangsal.

Ternyata Charles dengan langkah agak gontai dia menutup pintu bangsal yang mulai gelap ini.

“OK.. Sip, gue udah beresin nih anak, tinggal kita pake aja..”, ujarku kepada Charles sambil tersenyum.

Kebetulan malam ini Pak Parijan sang penjaga sekolah beserta keluarganya yang tinggal di dalam lingkungan sekolah ini yaitu sedang pulang kampung, baru besok lusa mereka kembali ke sekolah ini. Mereka langsung mempercayakan kepada kami untuk menjaga sekolah ini selama mereka pergi.

Maka tinggallah kami berdua bersama dengan Adinda yang masih berada di dalam sekolah ini. Pintu gerbang sekolah telah kami rantai dan kami gembok sehingga orang-orang menyangka pastilah sudah tidak ada aktifitas atau orang lagi di dalam gedung ini. Pak Heru sang supir yang menjemput Adinda pastilah berpikiran bahwa Adinda telah pulang, setelah melihat keadaan sekolah itu.

Kupandang lagi tubuh Adinda yang lunglai itu, badannya bergetar karena rasa takutannya yang teramat sangat di dalam dirinya. Hujanpun mulai turun, ruangan di dalam bangsal semakin gelap gulita angin dinginpun bertiup masuk ke dalam bangsal itu, Charles menyalakan satu buah lampu TL yang persis diatas kami, sehingga cukup menerangi bagian disekitar kami saja.

Kuhisap dalam-dalam rokokku dan setelah itu kumatikan. Mulailah kubuka bajuku satu per satu, hingga akhirnya aku telanjang bulat. Batang kemaluanku telah lama berereksi semenjak meringkus Adinda di teras sekolah tadi.

“Gue dulu ya..”, ujarku ke Charles.
“Ok boss..”, balas Charles sambil kemudian berjalan meninggalkan aku keluar bangsal.

Kudekati tubuh Adinda yang tergolek dilantai, kuraba-raba punggung cewek cantik itu, kurasakan detak jantungnya yang berdebar keras, kemudian tanganku turun hingga bagian pantatnya yang sekal itu, kuusap-usap pantatnya dengan lembut, kurasakan kenyal dan empuknya pantat itu sambil sesekali kutepok-tepok.

Badan Adinda kembali kurasakan bergetar, tangisnya kembali terdengar, sepertinya dia kembali memohon sesuatu, akan tetapi karena mulutnya masih tersumbat suaranyapun tidak jelas dan aku tidak memperdulikannya.

Dari daerah pantat tanganku turun ke bawah ke daerah lututnya dan kemudian menyelinap masuk ke dalam roknya serta naik ke atas ke bagian pahanya. Kurasakan lembut dan mulus sekali paha Adinda ini, kuusap-usap terus menuju keatas hingga kebagian pangkal pahanya yang masih ditutupi oleh celana dalam.

Karena sudah tidak tahan lagi, kemudian aku posisikan tubuh Adinda kembali bersujud, dengan kepala menempel dilantai, dengan kedua tangannya masih terikat kebelakang. Aku singkapkan rok seragam abu-abu SMA-nya sampai sepinggang.

“Waw indah nian.. Gadis ini” gunamku sambil melototi paha dan pantat sekal gadis ini.

Kemudian aku lucuti celana dalamnya yang berwarna putih itu, terlihatlah dua gundukan pantat sekal gadis ini yang putih bersih. Sementara Adinda terus menangis kini aku memposisikan diriku berlutut menghadap ke pantat gadis itu, kurentangkan kedua kakinya melebar sedikit. Dengan jari tengahku, aku coba meraba-raba selangkangan gadis ini.

Disaat jari tengahku menempel pada bagian tubuhnya yang paling pribadi itu, tiba-tiba tubuh gadis ini mengejang. Mungkin saat ini pertama kali kemaluannya disentuh oleh tangan seorang lelaki. Di saat kudapatkan bibir kemaluannya kemudian dengan jariku itu, aku korek-korek lobang kemaluannya. Dengan maksud agar keluar sedikit cairan kewanitaannya dari lobang kemaluannya itu.

Tubuhnya seketika itu menggeliat-geliat disaat kukorek-korek lobang kemaluannya, suara desahan-desahanpun terdengar dari mulut Adinda, tidak lama kemudian kemaluannya mulai basah oleh cairan lendir yang dikeluarkan dari lobang vaginanya. Setelah itu dengan segera kucabut jari tengahku dan kubimbing batang kemaluanku denga tangan kiriku kearah bibir vagina Adinda. Pertama yang aku pakai adalah gaya anjing, ini adalah gaya favoritku. Dan..

“Hmmpphh..”, terdengar rintihan dari mulut Adinda disaat kulesakkan batang kemaluanku kebibir vaginanya.

Dengan sekuat tenaga aku mulai mendorong-dorong batang kemaluanku masuk kelobang kemaluannya. Rasanya sangat seret sekali, karena sempitnya lobang kemaluan gadis perawan ini. Aku berusaha terus melesakkan batang kemaluanku kelobang kemaluannya dengan dibantu oleh kedua tanganku yang mencengkram erat pinggulnya.

Kulihat badan Adinda mengejang, kepala mendongak keatas dan sesekali menggeliat-geliat. Aku tahu saat ini dia tengah merasakan sakit dan pedih yang tiada taranya. Keringat terus mengucur deras membasahi baju seragam sekolahnya, namun harum wangi parfumnya masih terus tercium, membuat segarnya aroma Adinda saat itu, rintihan-rintihan terdengar dari mulutnya yang masih tersumpal itu.

Dan akhirnya setelah sekian lamanya aku terus melesakkan batang kemaluanku, kini bobol sudah lobang kemaluan Adinda. Aku telah berhasil menanamkan seluruh batang kemaluanku ke dalam lobang vaginanya. Kurasakan kehangatan di sekujur batang kemaluanku, dinding vagina Adinda terasa berdenyut-denyut seperti mengurut-urut batang kemaluanku.

Sejenak kudiamkan batang kemaluanku tertanam di dalam lobang vaginanya, kunikmati denyutan-demi denyutan dinding vagina Adinda yang mencengkram erat batang kemaluanku. Selanjutnya kurasakan seperti ada cairan mengucur mengalir membasahi batang kemaluanku dan kemudian meluber keluar menetes-netes.

Ah.. Ternyata itu darah, berarti aku telah merenggut keperawanan dari cewek cantik ini.




ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Monday, July 1, 2019

Dengan Kegilaanku Kugigit Lembut Itiel di Liang Memeknya - LapetBecek

Dengan Kegilaanku Kugigit Lembut Itiel di Liang Memeknya - LapetBecek


Saat itu aku sedang dirawat di rumah sakit, ada seorang perawat dengan tubuhnya yang sungguh sangat mengoda, Pada suatu pagi perawat yang seksi itu masuk ke ruang dimana aku dirawat, aku sangat terpesona dengan buah pantat padat penuh berisi sehingga aku tak mampu lagi menahan gejolak darah mudahku yang memanas, hingga tanpa sadar tangan kananku menyambar buah pantat perawat yang pada waktu itu sedang membenahi selimutku


Sungguh kepalang tangung, begitu tangan kananku mendarat di permukakan pantat perawat itu aku terus meremas-remas dengan nafsu yang membara, sehinga aku tak mempedulikan lagi sekeliling sampai pada saat perawat itu mengingatkan aku dengan suara yang begitu lembut bahkan sepertinya suara itu mencoba untuk mengoda dan mempermainkan birahi yang sudah tak tertahankan lagi.

“Ssst.. jangan begitu dong, ini kan masih pagi”, ucapnya lembut, aku semakin bernafsu apalagi saat posisi tubuh perawat itu sedang membungkukkan dadanya yang memungkinkan aku memandangi buah dada yang merekah serta mempesona sungguh mengemaskan, apalagi dua kancing bajunya terlepas, atau ada kemungkinan sengaja di bukanya.

Setelah perawat itu merapikan selimut yang menutupi tubuhku, dia meninggalkan kamar tampat aku terkapar dan tersiksa oleh nafsu yang memuncak karena tak tersalurkan. Setelah beberapa menit nafsu itu mereda, aku mulai sadar dan merasa malu dengan tingkah lakuku yang sangat memalukan dan tentunya perawat itu sangat tersinggung terhadap perlakuanku yang tidak senonoh terhadapnya.

Paginya aku berniat untuk meminta maaf kepada perawat yang seksi itu, tapi ternyata perawat lain yang bertugas pada pagi itu. Dan ternyata ada perubahan jadwal, aku semakin merasa berdosa karena mungkin disebabkan tingkah laku kurang ajarku terhadap perawat seksi itu, sehingga dia tidak nyaman lagi menunaikan tugasnya sebagai perawat.

Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam, aku bosan melihat TV dan kumatikan saja TV-nya, aku mulai memikirkan suster seksi yang begitu mempesona dan sangat mengairahkan libidoku yang sangat mudah untuk di pancing, tanpa kusadari alat vitalku semakin mengeras dan secara naluri tanganku menyusup ke dalam pakaian yang menempel di badanku, yang sebenarnya sangat longgar dan praktis hanya sekedar menempel saja karena bentuknya seperti daster pendek dengan tali di sisi kanan kirinya.

Dan tanganku mulai meremas-remas pusaka kejantananku. Tiba-tiba ujung kepala pusaka kejantananku serasa dibelai-belai dengan lembut oleh orang lain dan, “Hmm… Bisa aku bantu membelai kepala kecilmu ini?”, suara itu terdengar sangat lembut dan mengoda, dan ternyata suara lembut itu keluar dari sepasang bibir yang merah merekah milik perawat seksi itu, dan kedatangannya begitu tiba-tiba hingga tidak kusadari kehadirannya.

Sebelum aku mengeluarkan kata dari mulutku, perawat seksi itu menempelkan telunjuknya ke bibirku, sehingga aku tidak mampu berbuat apa-apa lagi selain tidur telentang serta memandangi gadis seksi berseragam perawat itu dengan kaki yang masih di semen dan menggantung.

Perawat itu satu persatu membuka kancing bajunya, lalu di biarkannya seragam itu merambat turun jatuh ke lantai. Buah dada yang mempesona itu tampak samakin mempesona, apalagi setelah penutup dada yang terlihat kecil di banding gumpalan daging mulus yang besar dan berisi, membuat tubuhku semakin bergetar dengan nafsu yang tak mampu kukendalikan lagi.

“Kamu pasti selalu memikirkan aku atau paling tidak berfantasi tentang tubuh ini. Sekarang kamu bisa melihatnya dengan jelas bahkan kamu bisa memegang sekaligus merasakan tubuhku ini.” Gadis itu semakin mendekat, hingga tanganku mampu membelai lembut kulit mulus itu.

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Perawat tak berseragam itu mencium bibirku dan aku pun tak mau kalah lalu berusaha melumat bibir dan mempermainkan lidahnya, setelah itu kemudian dia naik ke atas tubuhku dengan posisi pantat di atas kepalaku dan kepalanya di atas selangkanganku.

Dengan lembut dia menyingkap kain yang menutup selangkanganku, karena aku tidak memakai celana dalam sehingga dengan mudahnya perawat itu menelanjangi selangkanganku kemudian dia mengenggam dan meremas-remas hingga pelirku mengeras lalu dia lembutnya menjilati kepala pusakaku yang sudah membengkak itu.

“Ayo dong, mainin juga punyaku”, tegur perawat itu di sela-sela kesibukannya. Tanpa pikir panjang lagi aku melepas celana mungil berwarna pink itu lalu kusingkap rambut yang munutupi liang kewanitaannya, kubelai-belai dengan lembut belahan bibir kewanitaan itu dan aku mulai mempermainkannya dengan lidahku, terasa olehku aroma yang nikmat.

“Eest… nikmatnya mmh.. uuh..!” Perawat itu mendesah terdengar sangat erotis sekali. “Aaah… huuh..!” Kurasakan begitu nikmatnya serangan yang ia gencarkan, dengan semangat aku menjulurkan lidahku dalam belahan bibir senggamanya yang mempesona itu, kemudian setelah liang sorganya mulai mengeluarkan cairan kenikmatan, kugigit lembut klitoris di liang kewanitaannya, “Ssst.. hhm.. gitu dong kan nikmat, pintar juga kamu huuu.. esst..” Desah perawat itu di tengah deraian birahi yang mengelora. 

Setelah beberapa lama kemudian dia turun lalu mengambil sesuatu dari saku seragamnya yang tergeletak di lantai, lalu dia kembali mendekat terus ia menyobek bungkusnya dan ternyata barang itu sebuah kondom, setelah itu dia memakaikan kondom tersebut ke batang kejantananku yang sudah keras dan membengkak.

Kemudian sekarang dia menggambil posisi nangkring di atas selangkanganku, lalu dia berusaha memasukkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, begitu kepala kemaluanku sudah dalam posisi yang tepat dia menghempaskan pantatnya ke bawah sampai seluruh batang pelirku tertelan ke dalam liang kewanitaannya. 

Dengan lembut dia mengangkat pantatnya, lalu menghempaskannya lagi, gerakan itu terus ia lakukan dengan mulutnya tak henti-hentinya mendesah dan terlihat olehku kedua buah dadanya yang montok itu ikut terpantul-pantul naik turun begitu indahnya, aku berusaha meraih buah dada itu kemudian aku meremas-remas sambil kupermainkan putingnya dengan jari-jariku.

Desahan yang saling bertautan terdengar semakin membahana, hingga kurasakan tubuh perawat itu menegang, kemudian kurasakan cairan hangat menyembur di batang kemaluanku yang berada di dalam liang senggamanya dengan dibarengi desahan panjang. Tak lama kemudian kurasakan hormonku mengumpul pada satu tempat lalu tanpa dapat kubendung lagi, kejantananku menyemburkan cairan sperma. Sampailah kami pada puncak kenikmatan yang kami dambakan.

“Hhhm… boleh juga kejantananmu”, terlihat air muka perawat itu penuh kepuasan. Setelah dia mengenakan kembali seragamnya tanpa sempat mengenakan pakaian dalamnya ia berlalu keluar ruangan dan meninggalkan celana dalam pink yang masih kugenggam dan batang kemaluanku masih terbungkus kondom dengan sperma di ujungnya, aku sendiri merasakan sisa-sisa kenikmatan yang masih tertinggal dalam diriku.




ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia