Thursday, May 9, 2019

Nita Mendesah Tertahan dan Mendorong Kepalaku ke Dadanya Agar Mudah Untuk Mengigit Pentilnya - LapetBecek.

Nita Mendesah Tertahan dan Mendorong Kepalaku ke Dadanya Agar Mudah Untuk Mengigit Pentilnya - LapetBecek.


Kejadian ini terjadi sekitar baru-baru ini saja, Rumah kost yang ku tempati hanya terisi dua kamar, satu untukku dan sebelahnya lagi keluarga Mas Tarno  yang berasal dari Yogyakarta. Mas Tarno umurnya 2 tahun diatasku jadi waktu itu sekitar 26 tahun. Istrinya bernama Nita seumuran denganku. Nita orangnya manis putih tinggi dan selalu bisa membuatku nafsu kepadanya meski dia sudah berkeluarga.


Mas Tarno adalah seorang penggangguran. Jadi untuk keperluan rumah tangga Nita-lah yang bekerja dari pagi sampai malam di sebuah Supermarket. tentunya keluarga macam ini sering cek-cok. Nita mengganggap Mas Tarno orangnya pemalas bisanya hanya minta duit untuk beli rokok.

Mas Tarno pun sering membalas omelan-omelan Nita dengan tamparan dan tendangan bahkan dilakukan didepan anaknya. Aku sendiri tidak betah melihat pertengkaran itu. Suatu saat, Mas Tarno dapat pekerjaan sebagai ABK dan tentunya harus meninggalkan keluarganya dalam waktu yang cukup lama. Nita senangnya bukan main mendengarnya.

Pada malam itu, aku ngobrol dengan Nita dikamarnya sambil nonton TV. Si Rara muter-muter sambil bermain maklum umur segitu masih lucu- cucunya. “Sekarang sepi ya, Nit….nggak ada Mas Tarno.” kataku “Lebih baik gini, Ted. Enakan kalo Mas Tarno nggak ada.” Keluh Nita kepadaku. “Emangnya Kenapa?” tannyaku. “Mas Tarno tuh kerja nggak kerja tetep nyusahin. 

wajar kan kalo aku minta duit ke Mas Tarno? Aku kan istrinya. Eh, Dianya marah-marah. Besoknya aku diomelin juga ama ibu mertuaku. Katanya aku nggak boleh minta duitnya dulu biar bisa buat nabung. Gombal!!! Aku nggak percaya Mas Tarno bisa nabung!!!” Dia jawab dengan marah- marah. “Sabar ya…” Aku mencoba untuk menenangkannya apalagi Rara dah minta bobo’. 

“Seandainya Mas Tedy yang jadi suamiku mungkin aku tidak akan merana. Mas Tedy dah dapat pekerjaan tetap dan digaji besar sedangkan suamiku, Mas Tarno hanya pekerja kasar di kapal itupun baru sebulan sebelumnya penggangguran.” Keluhnya. “Udah…jangan berandai- andai….biarkan hidup mengalir saja.” Jawabku sekenanya.
“Mas, ….. Tiba-tiba Nita duduk disebelahku mengapit tanganku dan menyandarkan kepalanya. 

Aku sungguh terkejut. Aku tahu Nita butuh kasih sayang, butuh belaian, butuh perhatian. Bukan tendangan dan tamparan. Aku balas dia dengan pelukan di bahunya. Sayang sekali Wanita semanis Nita disia-siakan oleh laki-laki. Tapi Aku juga laki-laki normal punya nafsu terhadap wanita. 

Justru inilah kesempatanku untuk mengerjai Nita apalagi ibu kostku sedang menjenguk keluarganya di Surabaya selama seminggu dan baru berangkat kemarin malam dan Mas Rano dapat jatah kerja Shift malam di sebuah Mall. Yuhuyyy…akhirnya kesempatan itu tiba!!!

Kutoleh Nita yang saat itu sedang memakai daster, tanpa basa basi aku langsung merengkuh tubuh Nita yang montok itu kedalam pelukanku dan langsung kucium bibirnya yang tipis itu. Nita memeluk tubuhku erat erat, Nita sangat pandai memainkan lidahnya, terasa hangat sekali ketika lidahnya menyelusup diantara bibirku. 
Tanganku asyik meremas susu Nita yang tidak seberapa besar tapi kencang, pentilnya kupelintir membuat Nita memejamkan matanya karena geli. Dengan sigap aku menarik daster Nita, dan ternyata Nita sudah tak mengenakan apa apa dibalik dasternya itu, ternyata Nita memang sudah merencanakannya tanpa sepengetahuanku. 

Tubuh Nita benar benar aduhai dan merangsang seleraku, tubuhnya semampai, putih dengan susu yang pas dengan ukuran tubuhnya ditambah vagina yang tak berambut mencembung. “Eh gimana kalo si Rara bangun?” tanyaku. “Tenang aja Mas Tedy, Susu yang diminum Rara tadi dah aku campurin CTM.” Jawabnya dengan gaya yang manja. Benar-benar persiapan yang sempurna.

Ketika kubentangkan bibir vaginanya, itilnya yang sebesar biji salak langsung menonjol keluar. ketika kusentuh dengan lidahku, Nita langsung menjerit lirih. Aku langsung mencopot baju dan celanaku sehingga penisku yang sepanjang 12 cm langsung mengangguk angguk bebas. Ketika kudekatkan penisku ke wajah Nita, dengan sigap pula Nita menggenggamnya dan kemudian mengulumnya. 

Kulihat bibir Nita yang tebal itu sampai membentuk huruf O karena penisku yang berdiameter 3 cm itu hampir seluruhnya memadati bibir mungilnya, Nita sepertinya sengaja memamerkan kehebatan kulumannya, karena sambil mengulum penisku ia berkali kali melirik kearahku.

Aku hanya dapat menyeringai keenakan dengan servis Nita ini. Mungkin posisiku kurang tepat bagi Nita yang sudah berbaring itu sementara aku sendiri masih berdiri disampingnya, maka Nita melepaskan kulumannya dan menyuruhku berbaring disebelahnya. 

Setelah aku berbaring dengan agak tergesa gesa Nita merentangkan kedua kakiku dan mulai lagi menjilati bagian peka disekeliling penisku, semuanya dijilatinya, bahkan Nita dengan telaten menjilati penisku yang membuat aku benar benar blingsatan. Aku hanya dapat meremas remas susu Nita serta membelai vaginanya dengan jariku. 

Aku sudah tak tahan dengan kelihaian Nita ini, kusuruh dia berhenti tetapi Nita tak memperdulikanku malahan ia makin lincah mengeluar masukkan penisku kedalam mulutnya yang hangat itu. Tanpa dapat dicegah lagi air maniku menyembur keluar yang disambut Nita dengan pijatan pijatan lembut dibatang penisku seakan akan dia ingin memeras air maniku agar keluar sampai tuntas. 

Ketika Nita merasa kalau air maniku sudah habis keluar semua, dengan pelan pelan dia melepaskan kulumannya, sambil tersenyum manis ia melirik kearahku. Kulihat ditepi bibirnya ada sisa air maniku yang masih menempel dibibirnya, sementara yang lain rupanya sudah habis ditelan oleh Nita. 

Nita langsung berbaring disampingku dan berbisik “Mas Tedy diam saja ya, biar saya yang memuaskan Mas !” Aku tersenyum sambil menciumi bibirnya yang masih berlepotan air maniku sendiri itu. Dengan tubuh telanjang bulat Nita mulai memijat badanku yang memang jadi agak loyo juga setelah tegang untuk beberapa waktu itu, pijatan Nita benar benar nyaman, apalagi ketika tangannya mulai mengurut penisku yang setengah ngaceng itu, tanpa dihisap atau diapa apakan, penisku ngaceng lagi, mungkin karena memang karena aku masih kepengen main beberapa kali lagi maka nafsuku masih bergelora.

Aku juga makin bernafsu melihat susu Nita yang pentilnya masih kaku itu, apalagi ketika kuraba vaginanya ternyata itilnya juga masih membengkak menandakan kalau Nita juga masih bernafsu hanya saja penampilannya sungguh kalem . 

Melihat penisku yang sudah tegak itu, Nita langsung mengangkangi aku dan menepatkan penisku diantara bibir vaginanya, kemudian pelan pelan ia menurunkan pantatnya sehingga akhirnya penisku habis ditelan vaginanya itu. Setelah penisku habis ditelan vaginanya, Nita bukannya menaik turunkan pantatnya, dia justru memutar pantatnya pelan pelan sambil sesekali ditekan, aku merasakan ujung penisku menyentuh dinding empuk yang rupanya leher rahim Nita.

Setiap kali Nita menekan pantatnya, aku menggelinjang menahan rasa geli yang sangat terasa diujung penisku itu. Putaran pantat Nita membuktikan kalau Nita memang jago bersetubuh, penisku rasanya seperti diremas remas sambil sekaligus dihisap hisap oleh dinding vagina Nita. 

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Hebatnya vagina Nita sama sekali tidak becek, malahan terasa legit sekali, seolah olah Nita sama sekali tak terangsang oleh permainan ini. Padahal aku yakin seyakin yakinnya bahwa Nita juga sangat bernafsu, karena kulihat dari wajahnya yang memerah, serta susu dan itilnya yang mengeras seperti batu itu.

Aku makin lama makin tak tahan dengan gerakan Nita itu, kudorong ia kesamping sehingga aku dapat menindihinya tanpa perlu melepaskan jepitan vaginanya. Begitu posisiku sudah diatas, langsung kutarik penisku dan kutekan sedalam dalamnya memasuki vagina Nita. Nita menggigit bibirnya sambil memejamkan mata, kakinya diangkat tinggi tinggi serta sekaligus dipentangnya pahanya lebar lebar sehingga penisku berhasil masuk kebagian yang paling dalam dari vagina Nita. 

gerakanku sudah mulai tak teratur karena aku menahan rasa geli yang sudah memenuhi ujung penisku, sementara Nita sendiri sudah merintih rintih sambil menggigiti pundakku. Mulutku menciumi susu Nita dan menghisap pentilnya yang kaku itu, ketika Nita memintaku untuk menggigiti susunya, tanpa pikir panjang aku mulai menggigit daging empuk itu dengan penuh gairah. 

Nita makin keras merintih rintih, kepalaku yang menempel disusunya ditekan keras keras membuatku tak bisa bernafas lagi, saat itulah tanpa permisi lagi kurasakan vagina Nita mengejang dan menyemprotkan cairan hangat membasahi seluruh batang penisku. Ketika aku mau menarik pantatku untuk memompa vaginanya, Nita dengan keras menahan pantatku agar terus menusuk bagian yang paling dalam dari vagina sementara pantatnya bergoyang terus diatas ranjang merasakan sisa sisa kenikmatannya. 

Dengan suara agak gemetar merasakan kenikmatannya, Nita menanyaiku apakah aku sudah keluar, ketika aku menggelengkan kepala, Nita menyuruhku mencabut penisku. Ketika penisku kucabut, Nita langsung menjilati penisku sehingga cairan lendir yang berkumpul disitu menjadi bersih.

Penisku saat itu warnanya sudah merah padam dengan gagahnya tegas keatas dengan urat uratnya yang melingkar lingkar disekeliling batang penisnya. Nita sesekali menjilati ujung penisku dan juga buah pelirku. Ketika Nita melihat penisku sudah bersih dari lendir yang membuat licin itu, dia kembali menyuruhku memasukkan penisku. 

Aku menggigit bibirku merasakan sempit serta hangatnya vagina Nita, ketika penisku sudah menyelusup masuk sampai kepangkalnya, Nita menyuruhku memaju mundurkan penisku, aku mulai menggerakkan penisku pelan pelan sekali. Kurasakan betapa ketatnya dindingvagina Nita menjepit batang penisku itu, terasa menjalar diseluruh batangnya bahkan terus menjalar sampai keujung kakiku. 

Benar benar rasa nikmat yang luar biasa, baru beberapa kali aku menggerakkan penisku, aku menghentikannya karena aku kuatir kalau air maniku memancar, rasanya sayang sekali jika kenikmatan itu harus segera lenyap. Nita menggigit pundakku ketika aku menghentikan gerakanku itu, ia mendesah minta agar aku meneruskan permainanku.

Setelah kurasa agak tenang, aku mulai lagi menggerakkan penisku menyelusuri vagina Nita itu, dasar sudah lama menahan rasa geli, tanpa dikomando lagi air maniku tiba tiba memancar dengan derasnya, aku melenguh keras sekali sementara Nita juga mencengkeram pundakku. Aku jadi loyo setelah dua kali memuntahkan air mani yang aku yakin pasti sangat banyak. 

Tanpa tenaga lagi aku terguling disamping tubuh Nita, kulihat penisku yang masih setengah ngaceng itu berkilat oleh lendir yang membasahinya. Nita langsung bangun dari tempat tidur, dengan telanjang bulat ia keluar mengambil air dan dibersihkannya penisku. Setelah itu, disuruhnya aku telungkup agar memudahkan dia memijatku, aku jadi tertidur, disamping karena memang lelah, pijatan Nita benar benar enak, sambil memijat sesekali dia menggigiti punggungku dan pantatku.

Aku benar benar puas menghadapi perempuan satu ini. Aku tertidur cukup lama, ketika terbangun badanku terasa segar sekali, karena selama aku tidur tadi Nita terus memijit tubuhku. Ketika aku membalikkan tubuhku, ternyata Nita masih saja telanjang bulat, penisku mulai ngaceng lagi melihat tubuh Nita yang sintal itu, tanganku meraih susunya dan kuremas dengan penuh gairah, Nitapun mulai meremas remas penisku yang tegang itu. 

“Yuk kita ke kamar mandi” ajakku “Sapa takut…..” Aku menarik tangan Nita keluar kamar sambil bugil tapi aku sempatkan menyambar 2 buah handuk kemudian berjalan mengendap masuk , takut ketahuan tetangga sebelah rumah dan mengunci pintu kamar mandinya dari dalam. ” Nit…kamu seksi banget..” desisku sambil lebih mendekatinya, dan langsung mencium bibirnya yang ranum. 

Nita membalas ciumanku dengan penuh gairah, dan aku mendorong tubuhnya ke dinding kamar mandi. Tanganku membekap dadanya dan memainkan putingnya. Nita mendesah pelan. Ia menciumku makin dalam. Kujilati putingnya yang mengeras dan ia melenguh nikmat.

Aku ingat, pacarku paling suka kalau aku berlama-lama di putingnya. Tapi kali ini tidak ada waktu, karena sudah menjelang pagi. Nita mengusap biji pelirku. Kunaikan tubuh Nita ke bak mandi. Kuciumi perutnya dan kubuka pahanya. Bulu kemaluannya rapi sekali. 

Kujilati liangnya dengan nikmat, sudah sangat basah sekali. ia mengelinjang dan kulihat dari cermin, ia meraba putingnya sendiri, dan memilin- milinnya dengan kuat. Kumasukan dua jari tanganku ke dalam vaginanya, dan ia menjerit tertahan. 

Ia tersenyum padaku, tampak sangat menyukai apa yg kulakukan. Jari telunjuk dan tengahku menyolok-nyolok ke dalam vaginanya, dan jempolku meraba-raba kasar klitorisnya. Ia makin membuka pahanya, membiarkan aku melakukan dengan leluasa. Semakin aku cepat menggosok klitorisnya, semakin keras desahannya. Sampai-sampai aku khawatir akan tetangga sebelah rumah dengar karena dinding kamar mandi bersebelahan tepat dengan dinding rumhah tetangga.

Lalu tiba-tiba ia meraih kepalaku, dan seperti menyuruhku menjilati vaginanya. ” Ahhh…ahhh….Mas… Arghhhh..uhhh….Maaasss….” ia mendesah-desah girang ketika lidahku menekan klitorisnya kuat2. Dan jari- jariku makin mengocok vaaginanya. Semenit kemudian, Nita benar-benar orgasme, dan membuat mulutku basah kuyub dengan cairannya. 

Ia tersenyum lalu mengambil jari2ku yang basah dan menjilatinya sendiri dengan nikmat. Ia lalu mendorongku duduk di atas toilet yg tertutup, Ia duduk bersimpuh dan mengulum penisku yang belum tegak benar. Jari-jarinya dengan lihay mengusap-ngusap bijiku dan sesekali menjilatnya. Baru sebentar saja, aku merasa akan keluar. Jilatan dan isapannya sangat kuat, memberikan sensasi aneh antara ngilu dan nikmat. 

Nita melepaskan pagutannya, dan langsung duduk di atas pangkuanku. Ia bergerak- gerak sendiri mengocok penisku dengan penuh gairah. Dadanya naik turun dengan cepat, dan sesekali kucubit putingnya dengan keras. Ia tampak sangat menyukai sedikit kekerasan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berdiri dan mengangkat tubuhnya sehingga sekarang posisiku berdiri, dengan kakinya melingkar di pinggangku.

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Kupegang pantatnya yang berisi dan mulai kukocok dengan kasar. Nita tampak sangat menyukainya. Ia mendesah-desah tertahan dan mendorong kepalaku ke dadanya. Karena gemas, kugigit dengan agak keras putingnya. Ia melenguh ,” Oh…gitu Mas..gigit seperti itu…aghhh…” Kugigit dengan lebih keras puting kirinya, dan kurasakan asin sedikit di lidahku. 

Tapi tampaknya Nita makin terangsang.Penisku terus memompa liangnya dengan cepat, dan kurasakan liangnya semakin menyempit… Penisku keluar masuk liangnya dengan lebih cepat, dan tiba-tiba mata Nita merem melek, dan ia semakin menggila, lenguhan dan desahannya semakin kencang hingga aku harus menutup mulutnya dengan sebelah tangannku. ” Ah Maass…Ehmm… Arghh…Arghhh… Ohhhhh uhhhhhh…” Nita orgasme untuk kesekian kalinya dan terkulai ke bahuku.

Karena aku masih belum keluar, aku mencabut penisku dari liangnya yang banjir cairannya, dan membalikan tubuhnya menghadap toilet. Biasa kalau habis minum staminaku memang suka lebih gila. Nita tampak mengerti maksudku, ia menunggingkan pantatnya, dan langsung kutusuk penisku ke liangnya dari belakang. Ia mengeram senang, dan aku bisa melihat seluruh tubuhnya dari cermin di depan kami. 

Ia tampak terangsang, seksi dan acak- acakan. Aku mulai memompa liangnya dengan pelan, lalu makin cepat, dan tangan kiriku meraih puting payudaranya, dan memilinnya dengan kasar, sementara tangan kananku sesekali menepuk keras pantatnya. Penisku makin cepat menusuk2 liangnya yang semakin lama semakin terasa licin. Tanganku berpindah-pindah, kadang mengusap- ngusap klitorisnya dengan cepat. 

Badan Nita naik turun sesuai irama kocokanku, dan penisku semakin tegang dan terus menghantam liangnya dari belakang. Ia mau orgasme lagi, rupanya, karena wajahnya menegang dan ia mengarahkan tanganku mengusap klitorisnya dengan lebih cepat.

Penisku terasa makin becek oleh cairan liangnya. “Nita..aku juga mau keluar nih….” ” oh tahan dulu…kasih aku….penismu….tahan!!!! “Nita langsung membalikan tubuhnya, dan mencaplok penisku dengan rakus. Ia mengulumnya naik turun dengan cepat seperti permen, dan dalam itungan detik, menyemprotlah cairan maniku ke dalam mulutnya. 

” ArGGGhhhh!! Oh yes !! ” erangku tertahan. Nita menyedot penisku dengan nikmat, menyisakan sedikit rasa ngilu pada ujung penisku, tapi ia tidak peduli, tangan kirinya menekan pelirku dan kanannya mengocok penisku dengan gerakan makin pelan. Kakiku lemas dan aku terduduk di kursi toilet yg tertutup. Nita berlutut dan menjilati seluruh penisku dengan rakus. 

Setelah Nita menjilat bersih penisku, ia memakaikan handukku, lalu memakai handuknya sendiri. Ia memberi isyarat agar aku tidak bersuara, lalu perlahan- lahan membuka pintu kamar mandi. Setelah yakin aman, ia keluar dan aku mengikutinya dari belakang. Setelah kejadian itu aku sama Nita semakin gila- gilaan dalam bermain seks sampai dengan ibu kosku kembali dari Surabaya tentunya aku hanya bisa melakukannya di malam hari.




ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Wednesday, May 8, 2019

Aku Merebahkan Zarina dan Menyedot Toketnya Terus Menjilat Kebahagian Bawah Selengkangannya - LapetBecek.

Aku Merebahkan Zarina dan Menyedot Toketnya Terus Menjilat Kebahagian Bawah Selengkangannya - LapetBecek.


Cerita ini benar-benar berlaku kepada aku, Kejadian in baru sahaja berlaku pada bulan Januari 2019 yang lalu. Aku berkenalan dengan seorang pramugari Pelangi Airways. Namanya Zarina (nama samaran). Zarina bekerja dengan MAS sebelum ini tetapi terpaksa berhenti kerja kerana mengandung anaknya. Zarina ini memang cukup cantik orangnya.


Pada penghujung bulan Disember 1998 yang lalu aku menaiki kapal terbang ke Kota Bahru dari Pulau Pinang dengan Pelangi Airways. Semasa penerbangan inilah aku berkenalan dengan Zarina tetapi itu aku tak berbual apa dengannya dan hanya sekadar memberikan kad aku ketika turun dari kapal terbang.

Tiga hari kemudian, bila aku balik ke pejabat, setiausaha aku beritahu ada seorang wanita bernama Zarina menalipon aku dan meminta aku menghubunginya kembali. Apalah punya sial, secretary aku hilangkan no talipon itu. 

Walau bagaimanapun nasib aku baik kerana Zarina talipon aku pada petang itu dan bagi no taliponnya. Jadi beberapa minggu itu kami sering berkomunikasi melalui talipon antara satu sama lain. Akhirnya aku merangcang untuk berjumpa dengan Zarina.

Seperti yang dirancangkan, aku pun memandu ke Kuala Lumpur dan mengambil Zarina di depan PJ Hilton. Aku bagi dia no kereta aku sebab dia tidak kenal aku dan aku pula tak berapa ingat wajahnya, tambahan pula Zarina baru sahaja memotong rambutnya. Ketika sampai di hadapan PJ Hilton, alangkah geramnya aku melihat Zarina yang putih gebu berpakaian seksi. 

Oleh kerana bulan puasa, kamipun hanya ronda-ronda sambil berbual-bual. Aku kemudiannya hantar Zarina pulang kerumahnya yang teletak dekat Jaya, PJ dan akan mengambilnya semula untuk berbuka puasa di Kelana Jaya Seafood.

Pukul 5.00 petang akupun mengambil Zarina dari rumahnya dan dia berpakaian lebih seksi. Batang aku dah keras ketika di dalam kereta semasa meronda-ronda sementara menunggu waktu berbuka puasa. Aku dah geram habis tenggok si Zarina yang putih, tinggi dan manja itu.

Ketika makan, Zarina beritahu aku yang dia adalah seorang Janda dan mempunyai seorang anak lelaki yang ditinggalkan bersama ibusaudaranya di Johor. Bekas suaminya pula tinggal di KL dan kadang-kala ada menjengguknya. Aku tanya dia, selepas bercerai ada tak dia melakukan hubungan seks dengan bekas suaminya. 

Zarina beritahu dia tak pernah melakukan seks selepas bercerai dengan suaminya sebab takut dosa. Ringan-ringan tu adalah. Aku beritahunya yang aku ini bujang tetapi dah pernah melakukan hubungan seks dengan bekas mak we aku di ITM dulu. Dia diam sahaja dan melemparkan senyuman manis kepada ku. Selepas makan aku pun ronda-ronda di KL.

Lebih kurang pukul 10.00 malam aku ajak Zarina ke lounge di Concord Hotel, KL tempat aku menginap. Zarina setuju sahaja. Kami di lounge sehingga jam 12.30 malam. Semasa di lounge lagi aku dah raba-raba Zarina tapi dia buat tak kisah sahaja dan aku cium dia sekali bila lagu permintaanku yang ditujukan kepadanya dinyanyikan.

Selepas lepak kat lounge, aku ajak Zarina ke bilik aku. Mula-mula dia tak mahu sebab takut kena cekup dek pencegah maksiat. Aku beritahu dia, sekarang ni bulan puasa, pencegah maksiat sibuk sembahyang sunat. 

Akhirnya Zarina bersetuju tetapi dengan syarat untuk sekejap sahaja. Bila sampai di dalam bilik, Zarina buatkan aku kopi dan aku ajak di duduk di atas katil rapat dengan aku sambil menonton TV. Aku pegang tangannya sambil mengusap-usapnya tapi dia tak bagi aku buat lebih dari itu. Kemudian Zarinah ambil selimut dan gulungkan badannya dengan selimut. 

Aku pun naik bengkek. Ada pulak macam tu. Aku pun cakap kat Zarina kalau dia takut dengan aku baik aku hantar dia balik rumah sahaja. Zarina kata dia takut kami terlanjur sebab dia pun rasa suka dekat aku. Maklumlah aku ni mancho orangnya dan tinggi lampai. Aku pun cakaplah, apalah salahnya kalau suka sama suka. lagipun aku memang syok dekat dia. kalau dia nak kahwin dan jadi bini aku, memang aku rela.

Cantik sungguh wa cakap lu. Jadi dalam berbual-bual tu, aku tanggalkan selimutnya dan meraba buah dadanya. Lembut sahaja masa itu sebab belum tegang lagi tetapi cukup putih melepak dan cantik bentuknya. Kemudian aku minta nak bukak blousenya dan dia membantah sedikit tapi aku rasa Zarina dan stim sebab suaranya pun dah terketar-ketar. 

Aku buka butang blousenya dan tanggalkannya. Tinggal coli hitamnya sahaja. Aku ramas buah dada Zarina dari luar coli dengan kedua-dua belah tangan aku. Dan akhirnya aku tanggalkan pula colinya itu. Mak tertonjollah gunung berkembar Zarina. Akupun menghisap dan menjilat buah dada Zarina. Lepas hisap kiri aku hisap yang kanan pula berselang-seli buat seketika. 

Kemudian tangan aku pun merayap ke pangkal peha Zarina dan membuka skirtnya. Dia cuba menepis. Tapi aku tak peduli dan terus mengusap celah kelangkangnya. walau bagaimanapun, sambil merengek Zarina kata “Janganlah … dosa”. Aku kemudianya menanggalkan seluar dalam Zarina pula. 

Batang aku dah memang keras sampai sakit dan tak selesa sebab aku pakai seluar jeans yang agak ketat. Aku pun sambil mengusap celah kangkang Zarina membuka pakaian aku. Zarina pun turut membantu menanggalkan baju dan seluar aku.

Zarina pegang batang aku dan mengusapnya dengan lembut manakala aku terus menguntil biji kelentitnya yang sudah berair itu. Aku rebahkan Zarina dan mengisap dan menjilat teteknya dan terus menjilat kebahagian bawah sehinggalah sampai kelubuk mutiara Zarina. 

Aku cium dan jilat pantat Zarina dengan lidah aku. Rasanya sungguh sedap sekali. Inilah antara permainan yang paling aku suka, jilat pantat. banyak air Zarina keluar dan aku terus menjilatnya. Aku masukkan lidah aku ke dalam lubang pantat Zarina. 

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Dia terasa nikmat dan mengeliat dengan kuah sekali sambil berbunyi “argh …argh…argh”. Aku rasa air maninya dah keluar. Aku terus jilat dan hisap lubang pantat Zarina untuk lebih kurang selama 10 hingga 15 minit.

Selepas itu aku suruh Zarina jilat dan kulum batang aku pula. Apalagi, dia pun kulum dan menjilat keseluruhan batang aku. Bertambah nikmat bila Zarina masukan keseluruhan batang aku yang panjang lebih kurang 6.5 inci itu ke dalam mulutnya. 

Aku pula meraba-raba badan Zarina. Lebih kurang 15 minit akupun membaringkan badan aku ke atas badan Zarina dan secara perlahan-lahan memasukan batang aku kedalam cipapnya. Aku tengok mata Zarina terpejam menahan kenikmatan sambil memeluk erat badan aku. Ketat juga. 

Memang sah Zarina tak pernah kena batang selepas bercerai dua tahun yang lalu. Mula-mula aku gerak pendayung aku perlahan-lahan dan kemudiannya menukar kelajuan dengan lebih pantas. Aku tengok Zarina tercungap-cungap menahan kesedapan sambil berbunyi “argh… argh… argh… argh”.

Setelah mendayung lebih kurang 15 minit, aku suruh Zarina membalikkan badannya dan menonggeng untuk buat style doggie. Zarina pun menonggeng punggungnya ke atas. Aku jilat pantatnya dahulu sebelum memasukan batang aku dari belakang. Sedap sungguh. Aku dengar si Zarina ber uh… ah… uh… ah… uh… ah… sambil menyuruh aku mempercepatkan kerja. 

Lebih kurang 10 minit kemudian aku berhenti dan suruh Zarina diposisi atas pula. Aku baring dan Zarina masukan batang aku ke dalam cipapnya yang berbulu nipis itu. Ini posisi yang paling aku suka. Nikmat sambil berehat. Zarina terus berdayung dan aku lihat Zarina masih bertenaga walaupun sudah melebihi 10 minit dalam posisi begitu. 

Aku pun menyuruh Zarina mempercepatkan dayungannya. Dalam Zarina mempercepatakan dayunganya, aku rasa aku dah nak sampai klimaks. Aku beritahu Zarina yang aku dah nak terpancut dan dia suruh aku bertahan supaya dapat keluar bersama-sama. 

Zarina terus berdayung dan aku tak boleh bertahan lagi lalu terpancut air mani aku ke dalam pantat Zarina. Zarina pun keluar sama. Aku dapat rasakan kemutan istimewa ke atas batangku. Zarina terus mendakap aku sambil membiarkan batang aku berada di dalam cipapnya.

Lebih kurang 5 minit merendam batang aku, Zarina pun bangun dan masuk ke dalam bilik air. Bila Zarina keluar dari bilik air berbogel, aku naik stim balik. Dia beritahu aku yang dia puas sekali. keluar sampai dua kali dan tidak pernah merasa senikmat ini dalam hubungan seks. 

Aku tanya Zarina sama ada dia hendak lagi tak. Batang aku dah mula terpacak balik selepas 10 minit berehat. Jadi kami pun terus berdayung semula. Kalau tak silap aku, hari itu saja kami buat sampai 5 kali. Last sekali kami buat pukul 7.30 pagi. 

Baru aku teringat, bulan puasa mana boleh lakukan hubungan seks waktu siang. Tapi nak buat macamana, tak berdaya nak menahan sebab aku memang sukakan Zarina dan dia pula sukakan aku. Pagi itu aku rasa lutut aku nak tercabut. Malam esoknya kami terus sambung projek tolak-tarik.

Aku nak ambil kesempatan ini menjemput janda, bini orang ataupun anak dara tak kira tua atau pun muda, apa sahaja bangsa dan agama supaya menghubungi aku kalau nak cuba belayar dengan aku. Kalau sesiapa nak merasa batang aku, sila email ke fmnfmn@hotmail.com. Kepuasan terjamin. Kalau ada masa nanti aku tulis lagi pengalaman aku yang seterusnya.




ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Tuesday, May 7, 2019

Tangannya Menurunkan Karet Celana Dalamku dan Menciumi Daerah Sekitar Lipatan Tempeku - LapetBecek.

Tangannya Menurunkan Karet Celana Dalamku dan Menciumi Daerah Sekitar Lipatan Tempeku - LapetBecek.


Sebenarnya kisah ini berawal dari bercanda namun menjadi nyata. Umurku 42 tahun. Aku merasa cantik dan baik hati (khususnya bagi perjaka). Dirumahku aku kontrakan, namun tidak banyak karena sekedar buat teman bagiku selagi kesepian. Trik ini akhirnya memang jitu karena salah satu penghuni kostu seorang mahasiswa yang ganteng dan kalem. Aku terpesona olehnya.


Berawal dari sinilah aku mendapat kepuasan sex darinya. Pada awalnya dia pinjam uang, karena kiriman dari ortunya terlambat. Aku tidak keberatan tapi aku minta sarat kamu harus menemanku tidur dan melayani semalam. Dia tidak keberatan bahkan berjanji akan memberikan kepuasan yang luar biasa. Karena dia sebetulnya juga membayangkan diriku. Suatu kebtulan yang tidak kuduga. Ahh ….. Sungguh tantangan yang membuatku bergairah.

Ajak bercinta Malam itu dia kusuruh datang sesuai permintaan dan rencanaku. Aku persiakan diriku sebaik mungkin untuk bertempur dengan perjaka malam ini. Gairahku bangkit saat terdengar suara langkah Hengky. Saat pintu ditutup, tak banyak bicara kudorong dia di sofa. Kami berpelukan, sambil berciuman, tangan Hengky merayap masuk dari bawah kaosku, meremas payudaraku, memencet puting susuku. Lidah yang saling dorong di antara jepitan bibir kami membuatku sungguh melayang, membuat kemaluanku terasa lembab.

Tangan Hengky mendorong tubuhku, dan membalik badanku, sehingga aku berdiri membelakanginya. Hengky menyelipkan kedua lengannya di ketiakku dam kembali memeluk tubuhku, dan tangannya meraba dadaku dengan leluasa, kali ini kedua tangannya dapat bekerja secara bersamaan. 

Memang harus kuakui Hengky bertindak tepat, dengan membalik tubuhku, kedua tangannya dapat berkerja dengan bebas, merayap di dadaku, kadang turun meremas kemaluanku dari luar jeansku, sehingga hanya terasa sentuhan ringan. Hengky memeluk tubuhku semakin erat, sehingga terasa hembusan napasnya di leherku yang makin membakar birahi.

“Sayang..” Hengky berbisik ke telingaku, yang membuatku menoleh, dan langsung terasa bibirku diserbu, kembali ciuman panas berulang.

Siap bercinta Aku tidak bisa terlampau bebas bergerak, karena kedua lengan Hengky terasa ketat menjepit badanku. Tanganku hanya dapat kuarahkan ke selangkangan Hengky, itupun masih terasa terlampau jauh. Di pantatku terasa ganjalan, disebabkan kemaluan Hengky yang telah menegang. 

Tangan Hengky terasa membuka kancing celanaku, terasa getaran lembut saat tangannya menarik turun retsleting, posisi ini memungkinkan Hengky membuka celanaku tanpa menghentikan ciuman kami. Saat telah terbuka, Hengky menarik turun celana itu sehingga melewati pinggulku, dan sebelah tangannya menyerbu masuk ke balik celana dalamku, sedangkan yang sebelahnya kembali ke dadaku, meremas-remas payudaraku.

Saat tangannya perlahan mencapai rambut kemaluanku, berputar-putar sebentar di sana, kemudian terus turun mendekati celah kemaluanku dari arah jam 12. Tak ada jari yang menyusup ke celah bibir vaginaku, telapak tangannya terus ke bawah, menaungi kemaluanku, sehingga membuatku makin gelisah. 

Aku mengangkat sebelah kakiku, guna melepaskan celana panjangku. Saat aku mengangkat kaki, terasa ada jari yang terpeleset menggesek bibir vagina sebelah dalam. Sebuah sentuhan ringan yang sungguh membuatku makin melayang.

Gesekan itu makin membuatku ketagihan, sehingga aku melakukan ritual melepas celana panjang secara perlahan, sambil menggerakkan pinggulku, berharap ada jari Hengky yang kembali tersesat ke jalan yang benar. Sensasi yang sangat indah, sampai sekarang belum kudapatkan dari suamiku, meskipun gaya pacaran kami juga tak begitu bersih, tapi sangat jarang dia mengerjaiku dari belakang, aku ingin memintanya, tapi aku belum menunjukkan pengalamanku.

Hengky kali ini menciumi tengkukku, setelah tangannya menyingkirkan rambutku ke depan. Terasa tengkukku dijilat kecil, dan napasnya menghembus anak rambutku. Aku sangat menyukai jilatan di tengkuk, sehingga tanganku meraih rambut panjangku, dan memeganginya di ubun-ubunku. Ini semakin membuat Hengky leluasa menciumi tengkukku, dan meremas buah dadaku. 

Berulang-ulang jilatannya mengelilingi leherku, sebelah tangan di vaginaku dan sebelahnya lagi dipayudaraku. Sampai akhirnya Hengky menghentikan ketiga serangannya, yang memberikanku kesempatan mengatur napasku yang sudah kembang kempis.

Kali ini Hengky mengangkat kaosku, dan melepaskannya melalui kepalaku. Setelah terlepas, Hengky kembali menciumi tengkukku, dan aku kembali memegang rambutku di ubun-ubun yang tadi terlepas saat Hengky menanggalkan bajuku. 

Jilatannya lebih bebas berputar, terasa begitu nikmat saat jilatannya bergerak menyusuri tulang belakang turun, diikuti hembusan napasnya yang halus di kulitku. Saat lidahnya terhalang BH, Hengky tidak melepasnya, tetapi jilatannya menyusuri tali BH, ke samping tubuhku terus menjilati secara halus naik lagi ke arah pundak, dan kembali turun ke sisi tubuhku.

Tanganku yang memegangi rambut di atas kepalaku, membuatnya semakin mudah menjilati daerah sekitar ketiakku yang selalu tercukur bersih. Sungguh kali ini membuat kedua kakiku tak mampu menyangga bobot tubuhku. Aku langsung berjalan dan duduk di kasur Hengky yang hanya dialas di atas lantai tanpa dipan. Hengky melepaskan kaos dan celananya, sehingga tampak kemaluannya membuat celana dalamnya menyembul, ia lalu memungut pakaianku dan menggantungnya di belakang pintu kamar bersama pakaiannya.

Di luar masih terdengar suara para penghuni kost yang masih asyik berjudi. Hengky berjalan ke kasur, dan mendorong tubuhku sehingga rebah. Hengky menindih tubuhku dan kami kembali berciuman. Kali ini lebih ganas, lidah Hengky terasa sangat agresif merangsek ke rongga mulutku, sehingga bisa kusedot dengan sekuat tenaga. Dengan bertumpu pada sikutnya, Hengky menggerak-gerakkan pinggulnya menyodok daerah selangkanganku. Aku pun menggerakkan pinggulku untuk menambah sensasi gerakan Hengky.

Ciuman Hengky kini berubah menjadi jilatan yang menyusuri leherku, turun terus ke arah dadaku, dan kembali ke samping tubuhku. Hengky lalu bangkit dan membalik badanku lagi, sehingga aku kini telungkup. 
Hengky melepaskan kait BH-ku dan kini menjilati punggungku sepanjang tulang belakang, membuatku menggigit bibirku guna menahan suara desah kenikmatan yang kurasakan. Aku makin menenggelamkan wajahku ke bantal, tatkala lidah Hengky tiba di daerah pinggulku.

Tangannya menurunkan karet celana dalamku dan menciumi daerah sekitar belahan pantatku, yang membuatku mengangkat sedikit pinggulku. Rupanya gerakan otomatis tubuhku itu dimanfaatkan oleh Hengky untuk menurunkan celana dalamku sampai sebatas paha, dalam posisi setengah menungging memberikan Hengky kesempatan menjilati daerah sensitif yang sangat sempit antara dubur dan vaginaku.

Sungguh sensasional, getaran yang diberikan dari lidahnya langsung menaikkan tegangan birahiku ke titik tertinggi. Energi berupa sentuhan lidah yang sangat ringan diteruskan secara merata dan sama besar ke seluruh jaringan saraf kenikmatanku. Ini menyerupai prinsip kerja Hidrolik, dengan gaya yang kecil dari lidahnya, mampu menghasilkan gaya angkat yang sangat besar yang diteruskan melalui aliran darahku, kebetulan Hengky adalah mahasiswa Fakultas Teknik mungkin ini adalah salah satu praktek ilmu yang didapatnya.

doggystyle hotWell, setelah mengalami orgasme aku langsung jatuh telungkup, ini membuat akses ke daerah celah sempit di pinggulku tertutup dari serangan Hengky, sehingga dia membaringkan dirinya di sampingku, seraya menumpangkan kakinya ke atas pantatku, dan tangannya membelai rambutku dan mengelus punggungku yang agak basah karena jilatan Hengky dan keringatku sendiri. 

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Hengky menarik selimut, menutupi tubuh kami berdua, karena memang Bandung pada saat-saat itu dalam masa pancaroba dari musim panas ke musim hujan, sehingga suhu udara sangat dingin dibandingkan dengan bulan-bulan lain dalam setahun.

Saat aku mencoba memulihkan kesadaranku, kurasakan kemaluan Hengky yang masih ngaceng dalam mengganjal di pahaku, aku menghadapkan wajahku ke arah Hengky, yang tampak tersenyum sangat simpatik ke arahku.

“Astaga, enak sekali rasanya, saya tidak akan melupakan saat ini.” Bisikku sambil mengelus pipi Hengky. “Aku juga tidak mau kehilangan waktu untuk menciummu sayang.” Balas Hengky dan mendekatkan wajahnya ke wajahku, cukup dekat sehingga hidungku yang mancung dapat terjangkau oleh lidahnya.

Bibirku bisa menciumi dagunya yang terasa kasar ditumbuhi jenggot pendek. Aku membalikkan tubuhku, sehingga kami berdua saling berhadapan dalam posisi rebahan side by side. Pada saat jeda ini kami biasanya bercakap-cakap, menyatukan perbedaan pikiran, berbagai masalah kuliah, keluarga, bahkan masalah keuangan biasa kami diskusikan. Aku tak ingat masalah yang kami bicarakan saat itu, tapi aku ingat, setiap kali kami selesai bercinta, rasa cinta di dalam hatiku senantiasa bertambah kepadanya.

Tangan Hengky meraba-raba buah dadaku, menyentuh-nyentuhkan ujung kukunya di pentil susuku, membuat gairahku bangkit kembali. Tanganku merambat menyusuri dadanya, dan perutnya yang ditumbuhi rambut yang cukup lebat.

Aku merapatkan tubuhku, sehingga kami dapat saling berciuman. Kali ini tanganku merogoh celana dalam Hengky dan mengelus batang kemaluannya dan juga kedua buah pelirnya. Sambil terus berciuman, aku mendorong tubuhnya hingga telentang, dan kutindih dadanya dengan sebagian tubuhku, sehingga tanganku dapat dengan leluasa bermain dengan kejantanannya. Aku terus memagut bibirnya, dan perlahan turun ke dadanya, dan ke puting.

“Terbalik sayang.” Hengky berkata. “Terbalik apa?” Aku heran dan bertanya.
“Mestinya saya yang netek, bukan kau!” katanya sambil mendorong tubuhku hingga rebah.

Tidak kuat melawan tenaganya, sehingga aku hanya rebah tak berdaya. Hengky menindih tubuhku, dan menyedot puting susuku. Dan sangat efektif untuk membangkitkan gairahku. Segera terasa cairan di liang senggamaku, Hengky menciumi dadaku dan melempar selimut yang menutupi tubuh kami. Saat itu tak kusia-siakan, aku bangkit dan menduduki perutnya, kusodorkan dadaku ke mulutnya, sehingga Hengky langsung rebah telentang.

Tanganku meraba ke bawah, mengocok kemaluannya yang telah keras. Sedotan Hengky di puting susuku terasa melambungkan gairahku. Aku lalu turun dan melepaskan celana dalamku dan membantu Hengky melepaskan celana dalamnya. Melihat penisnya yang Erma, aku langsung menciumi batang itu, menjilati sepanjang batangnya, berputar-putar di kantung pelirnya, sambil sebelah tanganku merayap di perutnya. Saat aku memasukkan batang kemaluannya ke rongga mulutku, terdengar desah Hengky seperti baru melepaskan beban di pundaknya.

“Oh.. Enak sekali Yang.” Suara Hengky terdengar lirih, sambil tangannya menyibak rambutku, sehingga ia dapat memandang mulutku yang sedang mengulum kemaluannya.

Menatap matanya yang keenakan, menambah semangatku dan makin mempercepat gerakan kepalaku, dan menambah kuat sedotan mulutku. Kadang kuselingi dengan permainan lidah di dalam mulutku, menjilati kepala penisnya. Saat kutarik hingga hanya kepalanya penisnya tersisa di mulutku, lidahku kugerak-gerakkan seolah sedang berciuman. 

Kulihat Hengky tidak mampu bersuara, hanya mulutnya yang terbuka, mencoba menghirup lebih banyak oksigen. Hengky adalah pria pertama yang kuoral, meskipun keperawananku bukan kuserahkan padanya. Nanti akan kuceritakan saat hilangnya keperawananku, juga bagaimana aku memperoleh kepuasan dari kakakku.

posisi seks oral pria diatas“Sini sayang, aku ingin mencium kamu memekmu.” Aku berkata. Aku berputar, sehingga selangkanganku berhadapan dengan wajahnya. Kami berposisi 69, dan masing-masing melakukan kegiatan sendiri. Saat lidah Hengky menyapu vaginaku, aku langsung melayang, terasa Hengky menyapu semua cairan vaginaku, membersihkan semua lendir di celah vaginaku. Sangat nikmat terasa, membuatku semakin liar mengulum penisnya.

Penis Hengky berukuran normal pria Indonesia, tampak gagah tersunat rapi. Ini yang membuatku sangat menikmati oral sex, ini merupakan penis bersunat pertama yang kudapatkan, dengan lelaki sebelumnya belum kutemukan. Aku sangat menikmati setiap kontur penis Hengky, dengan menggerakkan lidahku mengitari palkon, menelusuri setiap titik di bagian itu membuatku semakin tergila-gila pada benda itu.

Dengan sedikit mengerahkan tenaga karena harus melawan arah natural penis itu. Setiap kali penis itu terlepas dari jepitan bibirku, langsung terpental seolah terbuat dari bahan elastis. Hengky melipat lututnya, sehingga kepalaku berada di tengah kedua pahanya, dengan kedua tanganku aku menahan posisi pahanya agar tidak mengurangi daerah pergerakan kepalaku. 

Sementara di arah yang berlawanan, terasa sangat nikmat Hengky menjilati itilku, sementara tangannya masuk ke liang senggamaku, bergerak keluar masuk terlalu nikmat untuk dideskripsikan di sini.

Tak mau ketinggalan, aku pun mengeluarkan kemampuan oral terbaikku, kujilati sepanjang urat besar di bagian bawah batang penis Hengky, dan kuteruskan sampai ke pelernya, tidak hanya sampai di situ, lidahku terus ke arah duburnya, menjilat dengan liar, tampak menunjukkan hasil, Hengky menggerakkan pinggulnya ke atas, membuat lidahku bisa semakin jauh menjelajahi daerah selangkangannya.

“Sayang, masukin..” kata Hengky.

Aku lalu bangkit, dan mengubah posisiku, kali ini aku berhadapan dengan Hengky, dengan bertumpu pada lututku. Kuraih penis Hengky dari tangannya yang sedang mengelus, dan langsung kuarahkan ke vaginaku. Terasa nikmat saat benda itu menerobos masuk secara perlahan, menyusuri celah vaginaku. Kulihat Hengky tersenyum, matanya terpejam, kulepaskan tanganku dari batangnya, dan mulai memelintir putingnya.

Hengky membuka matanya, dan tangannya meraih payudaraku. Sambil meremas payudaraku, Hengky menggerak-gerakkan pinggulnya, memaksa penisnya masuk lebih dalam lagi. Aku juga senantiasa bergerak menyesuaikan gerakan kami berdua. Kadang dengan agak memiringkan tubuhku, sehingga pada saat Hengky menarik kemaluannya, sangat terasa gesekan di sisi dalam vaginaku.

Tiba-tiba aku merasakan peningkatan rangsangan, saat Hengky mengarahkan jari telunjuknya ke klitorisku, sehingga menguras seluruh pertahananku. Digesek dan ditekan membuat diriku terasa melayang dan kehilangan pijakan. 

Tubuhku langsung ambruk seketika, menindih Hengky, perubahan posisi ini membuat Hengky tidak bebas menggerakkan jemarinya yang terhimpit di antara tubuh kami. Tetapi pinggulnya tetap bergoyang lembut, mengantarkan diriku menikmati detik demi detik puncak kenikmatan seksual.

Setelah melalui orgasme, perlahan gairahku kembali berkobar, dengan goyangan batang penis di tengah jepitan vaginaku. Hengky dengan konstan tetap menstimulasi vaginaku dengan batang nikmatnya. Aku mengangkat badanku, dan memutar membelakangi Hengky, setelah mengarahkan, penis Hengky langsung kududuki, dan menelan habis semua batang penis Hengky. 

Posisi favoritku, selain doggy style, juga woman on top, sehingga dengan berada di atas dan membelakangi Hengky, terjadi kombinasi optimum. Apalagi saat Hengky bangkit setengah duduk, dan tangannya menggapai buah dadaku yang ikut bergoyang, menambah sensasi kenikmatan posisi ini.

misionaris1Tak lama Hengky kemudian mendorong tubuhku, dan mengambil alih posisi di atas, dengan napasnya yang menderu, ia menyelipkan penisnya ke vaginaku. Setelah mendiamkan sejenak, Hengky mulai bergoyang, lututku ditekuk dan agak diangkat sehingga pinggulku ikut terangkat. 

Sebelah tangannya membantu menahan kedua kakiku, sedangkan yang satunya menyerbu klitoris yang kurang mendapat sentuhan pada posisi ini. Kami sering mendiskusikan berbagai posisi, sehingga bisa mengetahui kekurangan dan kelebihan setiap posisi favorit kami.

Posisi ini adalah favoritku dan Hengky juga menyukainua, sebab ia bisa melihat dengan jelas bagaimana proses keluar masuk batang penisnya ke vaginaku. Kadang dengan menggunakan jempol dan jari tengahnya ia merapatkan kedua belahan vaginaku, dan jari telunjuknya mengerjai itilku. 

Setelah bergoyang beberapa menit, Hengky lantas mencabut penisnya, dan mengocoknya dengan tangan, dan segera muncrat spermanya, kental putih dan aroma yang khas segera memenuhi ruangan kamarnya itu.

“Ah.. Enak sekali sayangku..” Hengky akhirnya mampu mengeluarkan suaranya setelah mengalami ejakulasi.
“Saya selalu mau main denganmu, kapanpun kau mau!” Kataku sambil berusaha membantunya mengocok penisnya. 

Setelah membersihkan seluruh tumpahan spermanya dan melumat habis, ia memelukku dengan erat dan menciumi bibirku. Seluruh badanku terasa lemas, terutama daerah pinggulku, namun di sisi lain, terasa pikiranku fresh. Sungguh indah kenikmatan seks. Kami bertempur hebat malam ini, karena kami memang saling membutuhkan.

Malam itu kami bercinta sampai pagi, begitu bangun kuajak dia berkelahi lagi di tempat tidur. SUngguh luar biasa staminanya, aku bahkan sampai kewalahan. Benar-benar darah muda. Malam itu aku sangat puas buas dan liar, membuatku mampu bercinta sampa lima kali sepanjang malam dilanjutkan pagi harinya.



ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

ITUCAPSA Bandar Judi Kartu Poker Domino QQ / Kiu Kiu Capsa Susun Ceme Terbaik Indonesia

Monday, May 6, 2019

Tanganku Meraih dan Meremas ke Dua Toketnya Sambil Bergoyang Maju Mundur Batangku Dalam Memek Sinta - LapetBecek.

Tanganku Meraih dan Meremas ke Dua Toketnya Sambil Bergoyang Maju Mundur Batangku Dalam Memek Sinta - LapetBecek.


Baru saja pulang bekerja sambil memacu motorku pelan pelan, Hujan rintik tidak menghentikan jalanku menuju kosan. “Ujan gak berenti-berenti. Masuk angin deh nih…” Gerutuku dalam hati. Tujuanku masih cukup jauh, tapi si kuda besi yang ku tunggangi sudah haus meminta jatah minumnya.


Ku pinggirkan motorku ke pom bensin terdekat sebelum motor kesayanganku ini ngambek dan berhenti di tengah jalan. Hujan sedikit lebih deras dari sebelumnya saat aku sedang mengisi bensin, tapi itu tidak menghentikan langkahku untuk bisa sesegera mungkin sampai rumah. Memang hari ini hari Jumat dan besok aku tidak perlu bangun pagi untuk ke kantor, tapi cuaca dan pekerjaan yang melelahkan hari ini membuatku ingin bergegas menyelimuti diri dan tidur sampai siang hari esok. Selesai membeli bensin, kembali ku pacu motor bebekku yang sudah cukup berumur.

Saat hendak memasuki jalan utama, sebuah dompet di pinggir jalan mencuri perhatianku. Dompet panjang berwarna hitam dengan keadaan terbuka memperlihatkan isinya yang cukup banyak tergeletak begitu saja tanpa pemilik.

Langsung saja ku dekati dan ku ambil dompet tersebut. Ku perhatikan sekitar, tampak sepi tak ada orang yang sedang berjalan, atau orang yang terlihat sedang bingung mencari sesuatu. Ku lihat isinya, uangnya masih ada dan kartu-karu seperti ATM dan lainnya cukup banyak. Tanpa pikir panjang,

segera ku ambil tersebut. Ku berniat mencari tempat lain untuk melihat identitas si pemilik dan berniat mengembalikannya.
Tidak jauh dari situ ada warung kopi yang cukup sepi. Segera saja ku sambangi warkop tersebut. Pesan kopi segelas, ku pilih tempat dibelakang yang tidak terlihat orang.

Meski aku menemukan dompet tersebut dan berniat mengembalikannya, tetap saja aku khawatir terlihat seperti orang yang baru saja mencopet.

Ku buka dompet tersebut, ku cari KTP tanpa memedulikan uang pecahan seratus ribuan cukup banyak yang ada di dalamnya.
Begitu aku menemukan KTPnya, ku perhatikan dengan seksama wajah dan identitas si pemilik. Sinta, wajahnya terlihat manis dengan rambut hitam panjang. Usianya ternyata lebih muda 2 tahun dariku, dan alamatnya tidak jauh dari tempat ku berada. Aku tahu persis jalan tempat tinggalnya tersebut. Setelah menyerap informasi yang cukup, aku pun menghabiskan kopi dan membayar lantas kembali menaiki sepeda motorku. Aku segera menuju rumah si empunya dompet tersebut untuk mengembalikannya.


“Duh sial banget sih nih cewek, pasti pusing banget keilangan dompet.” Gumamku dalam hati. Aku pernah mengalami hal serupa seperti ini dan tau seperti apa pusingnya. Harus mengurus KTP, ATM, belum lagi SIM dan STNK, selain memakan biaya, juga memakan tenaga dan waktu, bukan hanya perkara uang yang ada di dalam dompetnya saja.

Tidak sampai 15 menit, aku sudah tiba di jalan yang tertera di KTP. Aku memang tahu jalannya, namun tidak tahu rumahnya. Alhasil aku harus tetap mencari rumahnya. Cukup sulit karena daerah tersebut bukan perumahan, sehingga mencari nomer rumahnya menjadi tidak semudah yang dibayangkan.

Aku pun bertanya dengan pemilik warung rokok di pinggir jalan yang masih buka.

“Pak, maaf mau tumpang tanya. Tau alamat sama pemiliki KTP ini pak?” Tanyaku sambil menunjukan KTP.

“Ohhh, ini Neng Sinta, Mas. Itu rumahnya yang itu tuh. Yang pager warna ijo. Tuh liat gak?” Si pemilik warung menunjukan tangannya ke arah rumah yang letaknya tidak jauh dari warung tersebut. Aku pun mengangguk.

“Makasih ya, Pak…” Jawabku.

Ku datangi rumah tersebut. Rumahnya besar sekali, pagar hijaunya yang tinggi menghalangi pandangan untuk melihat ke dalam rumahnya. Tanpa menunggu lama karena hujan yang semakin deras, ku tekan saja tombol bell yang ada di depan dan berharap ada orang di rumah.

Bell ku tekan tiga kali, tidak juga ada jawaban. Aku hampir putus asa dan berniat menitipkan dompet ke warung tadi, meski khawatir uang yang ada di dalamnya akan diambil si pemilik warung.

“Yaudahlah, yang penting niatnya sudah baik…” Pikir ku dalam hati.

Baru saja aku menaiki motor ku kembali, tiba-tiba pintu pagar terbuka. Seorang wanita keluar, dengan pakaian putih ketat, celana pendek berwarna krem dan sendal jepit sambil memegangi payung.“Cari siapa, Mas?” Tanya wanita tersebut.
“Hmm, Sintanya ada?” Balasku.

“Iya, saya Sinta. Siapa ya? Ada perlu apa, Mas?”
“Oh mbak yang namanya Sinta? Ini mbak, saya tadi nemuin dompet mbak di deket pom bensin…” Kata ku sambil menyodorkan dompetnya.

Matanya terbelak melihat dompetnya, ia pun langsung histeris. “Ya ampun! Akhirnyaaaaa! Aduhhh, makasih ya masss…” Teriaknya sambil meraih dompet yang aku berikan.

Ia pun segera membuka dan memeriksa isi dompetnya.

“Di cek aja dulu, mbak. Ada yang ilang apa enggak.”
Ia menggeleng, “Enggak ada, Mas. Uangnya masih ada semua…” Jawabnya sambil menutup dompet.
“Mas, masuk dulu yuk. Hujan, Mas….” Tawar Sinta.
“Ah, gak usah mbak. Sudah malam. Saya langsung pulang saja…” Kilahku.

“Hujannya deras, Mas. Baju mas juga basah, lebih baik masuk dulu untuk mengeringkan badan. Anggap saja untuk rasa terima kasih saya…” Pintanya memelas.

Setelah ku pikir-pikir, jalan menuju rumahku masih terbilang jauh. Di rumah pun tidak ada orang tua yang menunggu karena orang tuaku sedang bepergian ke luar kota. Aku pun berpikir panjang, dan menyetujui tawarannya.
“Oke deh, Mbak, numpang neduh dulu kalau gitu…” Jawabku,

Aku pun memasukan motorku dan mengikuti Sinta masuk ke dalam rumahnya.

Aku terperangah melihat isi rumahnya. Ruang tamunya saja besar sekali dengan sofa kulit yang terlihat mahal. Aku jadi cukup canggung masuk ke dalamnya.

“Silakan duduk, Mas. Anggap saja rumah sendiri…” Ujar Sinta memersilahkan ku duduk.
“Iya, Mbak..” Jawabku sambil duduk di sofa.
“Sebentar ya, Mas…” Sinta berlalu masuk, sepertinya ia ke kamarnya.

Rumahnya cukup besar, ruang tamunya dipenuhi beberapa hiasan antik. Lukisan pedesaan berukuran cukup besar tergantung di dinding tepat di hadapanku. Di sudut ruangan terdapat guci berukuran besar, dan hiasan lain yang menambah suasana mewah rumah tersebut.

“Ini mas minum dulu…” Aku sedikit kaget karena ternyata Sinta sudah kembali, membawa dua gelas teh hangat dan menyodorkannya kepada ku. “Ini ada handuk, bisa dipakai untuk mengeringkan badan, Mas. Mau aku pinjamkan baju ganti?”
“Wah makasih banyak, mbak. Ga usah, ini aja cukup kok.”

Sinta lalu duduk di samping sofa ku. Aku pun meminum teh hangat yang diberikannya, terasa nikmat menghangatkan tubuhku.
“Makasih banyak ya, Mas sudah ngembaliin dompet. Tadi kayanya jatoh pas aku abis beli bensin. Aku juga gak ngerti kenapa bisa jatoh gituuu…”

“Iya mbak sama-sama, lebih hati-hati aja…” Jawabku kikuk. “Sepi sekali rumahnya, sudah pada tidur ya?” Tanyaku untuk memecah kekakuan. Mungkin obrolan ringan seperti ini bisa membantu.

“Oh, enggak kok. Emang aku tinggal sendiri, Mas. Ini rumah orang tua, tapi orang tua aku pindah ke Inggris. Jadi ya sendiri deh…” Jelasnya.

“Oh gitu, gak punya saudara emangnya? Adek? Atau kakak gitu?”

“Punya adik satu, tapi kuliah di Inggris juga. Kakak ku sudah nikah dan tinggal sama suaminya. Jadi ya tinggal aku deh sendiri hehehe.”

Aku hanya menganggukan kepala tanda kalau aku memahami situasinya.

Ku perhatikan Sinta dengan seksama kali ini. Tubuhnya begitu sintal dengan pakaian ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sempurna, rambut hitam panjangnya yang dikuncir, tercium harum bersamaan dengan aroma tubuhnya yang begitu memikat. Sesekali ku curi pandang, payudaranya tampak kencang dan menggoda. Pikiranku pun mulai macam-macam.

“Gak takut emang tinggal di rumah segede gini sendirian?” Tanyaku untuk mengalihkan fokus agar tidak memikirkan yang aneh-aneh.

“Ya takut sih, tapi mau gimana? Itung-itung belajar mandiri aja hehehe…”

“Iya bener, tapi tetep aja kalo cewek sendirian kan lebih beresiko. Kenapa gak ajak pacarnya aja tinggal disini?” Tanyaku memancing, ingin tahu apakah ia punya pacar atau tidak.

SINICAPSA - Agen Judi Poker Domino99 Capsa Susun Ceme Live Poker Indonesia

“Hahaha, maunya sih gitu mas tapi pacarnya aja gak punya…” Jawab Sinta sambil tertawa. Aku pun hanya ikut tertawa kecil.

Obrolan semakin larut, aku pun tahu bahwa Sinta ini masih kuliah, kampus yang sama denganku dulu. Bisa dibilang ia juniorku di kampus, tapi sayangnya tidak pernah ketemu karena berbeda jurusan apalagi sekarang aku pun sudah lulus dan bekerja.

Sinta juga bercerita sedikit tentang pacarnya dahulu. Bagaimana ia dan pacarnya menghabiskan waktu di rumah itu berdua. Mereka sudah seperti sepasang suami istri dulu, tinggal berdua di rumah yang besar. Namun sayang, pacarnya mata keranjang dan selingkuh dengan teman baik Sinta. Mata Sinta terlihat sedikit berkaca saat ia menceritakan tentang pacarnya tersebut.

“Ya sudah, paling gak sekarang kan kamu tau kalau pacar kamu memang gak jodoh sama kamu, dan kamu tau ternyata temen kamu pun gak semuanya bisa dipercaya…” Nasihatku kepada Sinta mendengar curhatnya.

Ia pun mengangguk pelan. “Mas sendiri, punya pacar gak?”

Aku menggelengkan kepala, “Sama nasib kita..” Jawabku diiringi tawa renyah Sinta.

“Udah berapa lama, Mas?”
“Hmm…” Sejenak ku menghitung berapa bulan semenjak aku putus dengan pacar ku sebelumnya, “Udah hampir setahun lah…”
“Wah lumayan juga, udah kering lah ya mas?” Ledek Sinta sambil tertawa.

“Hahaha, kayak kamu enggak aja…” Balas ku.

“Iya sih…” Jawab Sinta, mendadak ia menghilangkan tawanya dan menjadi serius. “Sudah mau jam 1 mas, hujan belum berhenti. Gimana kalau mas menginap saja dulu? Itung-itung nemenin aku. Besok kan libur, jadi gak harus ke kantor kan?” Tanya Sinta.
“Waduh, jangan deh. Gak enak nanti diliat tetangga. Ntar dikira macem-macem…” Ujarku, menolak halus tawaran Sinta.
“Tenang aja, Mas. Tetangga disini cuek kok. Kalo macem-macem juga kenapa? Udah gede ini, macem-macemnya enak juga…” Jawab Sinta santai.

Perkataan Sinta sejujurnya membuat pikiran kotorku semakin menjalar tak karuan. Ingin rasanya menergap badannya, melumat bibir dan menggerayangi tubuhnya yang menggiurkan tersebut. Tapi ku coba untuk menahannya, menghormati dirinya sebagai tuan rumah.

“Oke deh kalau gitu, aku numpang tidur di sofa ya…” Pintaku.
“Eh, jangannn. Dingin dong tidur disini, mana enak juga. Ayo di kamar aja. Sini aku anterin…” Kata Sinta sambil menarik tanganku.

Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, aku menurut saja dan mengikuti Sinta ke kamar yang terletak di bagian belakang rumahnya.

Dibukanya pintu kamar, dan dinyalakan lampunya. Kamar tersebut cukup besar, bisa dibilang lebih besar dari kamarku di rumah. Kasurnya king size, cukup untuk tidur 4 orang sepertinya. Lampu kuning yang temaram, menambah kenyamanan kamar tersebut.

“Nih, tidur disini aja mas…” Ujar Sinta.

Aku pun mengangguk, lalu meletakan tas ku di samping kasur tersebut. Sinta tampak mengambil sesuatu dari lemari.
“Nah, ini. Ada baju sepertinya muat sama kamu. Pake nih, daripada masuk angin….” Sinta menyodorkan pakaian.
Aku pun mengambilnya, “Kamar mandinya dimana?”

“Udah, ganti disini aja emang kenapa sih?” Kata Sinta nyeleneh. Mendengar perkataan Sinta seperti itu, dengan santainya ku buka saja pakaianku di depan Sinta dan menggantinya dengan pakaian yang ia berikan.

“Ini celananya juga.” Ucap Sinta. Kali ini aku sedikit ragu untuk mengganti celanaku di hadapannya. Penisku sedang berdiri sedang, tidak terlalu tegang, tapi pasti terlihat jelas bila ku tanggalkan celanaku dan tersisa celana dalamnya saja.
“Gak berani ya? Cupu dehhh..” Ledek Sinta.
“Berani kok, kamu yang berani gak liatnya?” Ledek ku balik ke Sinta. Ia hanya tertawa.

Aku pun nekat, dengan pasti ku buka kancing celana dan reseletingnya. Ku turunkan celanaku. Sinta sedikit terbelak melihat cetakan penisku yang menyumbul dibalik celana dalam. Aku yang mengetahui hal tersebut, sengaja mengulur waktu untuk memakai celana.

“Kenapa? Udah lama ya gak liat?” Aku kembali meledek Sinta.

Tanpa ku duga, Sinta langsung menghampiri dan menarik turun celana dalamku. Penisku yang baru setengah berdiri itu langsung digenggamnya dengan kuat.

“Iya, dan ini sekarang jadi punyaku!” Kata Sinta tegas. Ia pun berjongkok dan memasukan penisku ke dalam mulutnya.
Mendapat perlakuan seperti itu, aku hanya meringis menahan nikmat. Sinta buas sekali melahap penisku.

Awalnya ia memasukkan penisku seluruhnya ke dalam mulut, lalu ia menjilati batangnya dengan pelan, menghisap kepala penisku, lalu menjilati zakarku dengan rakusnya. Penisku semakin tegang, kali ini tegang dengan kekuatan penuh.

“Uhhhh, pelan-pelan donggg Sinnn…” Desisku sambil memegangi kepala dan rambutnya agar tidak menghalangi pemandangan indah yang ku saksikan.

Sinta tidak menjawab, ia semakin asik memasukan penisku ke dalam mulutnya. Tidak mau tinggal diam, aku pun menarik pakaian Sinta agar terlepas. Sinta menaikan tangannya untuk memudahkan ku. Tubuhnya begitu putih dan bersih. Branya yang berwarna biru muda masih tertinggal di badannya, menutupi dua gundukan payudara indah yang siap kunikmati sesaat lagi.

Aku pun menarik tubuh Sinta agar kembali berdiri. Langsung ku lumat bibirnya yang cukup tebal tersebut. Lidah kami saling berpagutan, sesekali ia menggigit bibirku dengan gemas, dan menghisap lidahku dengan kuat.

Lalu aku mendorong tubuh Sinta ke kasur. Ku tarik celananya turun, kini celana dalam mininya yang berwarna senada dengan branya terlihat jelas. Wanita cantik yang baru saja ku kenal kurang dari tiga jam, kini sedang berbaring hampir telanjang di hadapanku, menunggu untuk ku nikmati sampai pagi.

Dengan tidak sabar, aku pun membuka celana dalam Sinta. Kali ini giliranku menikmati kemaluannya. Bulu bulu tampak tercukur rapih, ku buka kaki Sinta dan ku dekatkan wajahku ke arah vaginanya.

Tercium aroma sedap khas dari vagina basah yang penuh gairah. Ku usapkan jariku di bibir vaginanya yang membuat Sinta menggelinjang.

“Aaaaaaaaahhhh, geliiiiii masssssss……” teriak Sinta. Aku tidak memedulikannya.

Aku pun menjulurkan lidahku dan menjilati klitorisnya yang merekah basah. Jari telunjuk dan jari tengahku kususupkan masuk ke dalam vaginanya, perlahan ku keluar masukan jariku untuk menambah kenikmatan Sinta.
“Uuuuuuuuughhhhh, enak massss, enakkkkkk…..”

Semakin Sinta berteriak, semakin liar pula permainan lidahku di vaginanya. Tangan kiri ku arahkan ke payudaranya, ku remas remas dan ku pilih putingnya. Ku serang habis vagina dan payudaranya di saat yang bersamaan. Perasaan nikmat kini menjalar di seluruh tubuh Sinta.

“Uhh uhhh ohhh, massss, terus massss, aku mau keluar masssss….” Erang Sinta sambil menjambak rambutku kencang. Aku pun menambah frekuensi serangan. Kali ini kocokan jari di lubang vagina Sinta semakin cepat, jilatanku pun semakin jadi.
“MAASSSSSS KELUAR AKU MASSSSSS…” teriak Sinta kencang. Benar saja, cairan putih cair hangat keluar dari dalam vaginanya. Ku hisap dan ku jilat habis tak bersisa.

Sinta terengah-engah setelah klimaks yang ia dapatkan. Tubuhnya sudah dipenuhi keringat meski udara masih terasa dingin karena hujan yang semakin deras di luar.

Aku pun merebahkan tubuhku di samping Sinta. Aku ingin membiarkannya menikmati sisa-sisa kenikmatan sambil mengumpulkan tenaga.

“Huh huh, aku suka banget gaya permainan kamu masss…” Ujar Sinta, matanya masih terpejam, mulutnya masih terbuka untuk mencari nafas yang tersengal.

SINICAPSA - Agen Judi Poker Domino99 Capsa Susun Ceme Live Poker Indonesia

Aku hanya diam tersenyum. Ku peluk tubuh Sinta dari samping, sambil ku mainkan payudaranya yang cukup besar itu.
“Kamu belum keluar kan, mas?” Tanya Sinta.

“Belum dong, belum diapa apain juga…” Jawabku santai.
Sinta lalu bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju lemari yang ada di pojok ruangan. Ia buka pintu lemari tersebut dan mencari sesuatu di laci yang ada di dalamnya.

Tidak lama ia kembali menghampiri. Rupanya ia mencari kondom.

“Kalau mau, kamu harus pake ini. Gimana?” Tanya Sinta sambil menunjukan kondom yang ia miliki.
Aku mengangguk. Sinta pun membuka kotak kondom berwarna merah tersebut dan mengeluarkan isinya. Masih ada dua kondom tersisa di dalamnya.

Dengan pasti Sinta memasangkan kondom di penisku yang masih tegang. Aku hanya berbaring menyaksikan Sinta yang terlihat tidak sabar ingin menghujani vaginanya dengan serangan dari penisku.
Begitu kondom terpasang, Sinta memosisikan dirinya diatasku. Ia duduk sambil mengarahkan penisku ke lubang vaginanya.
BLESSSS

Sinta menduduki diriku dengan penisku yang tertanam seluruhnya di dalam vaginanya. Mulutnya terbuka begitu penisku menghujam ujung vagina. “Ahhhhh…” Desahnya nikmat.

Perlahan Sinta memaju mundurkan tubuhnya diatasku. Penisku terasa ditarik begitu Sinta menggerakan pinggulnya. Tubuhnya yang indah bergerak seluruhnya mengiringi kenikmatan yang ia rasakan.
“Hmmm, hmmmm, uhhhh” Desis Sinta sambil menggigit bibirnya sendiri.

Aku pun meremas payudara Sinta untuk menambah kenikmatan. Begitu tanganku menyentuh payudaranya, Sinta seakan berubah menjadi binatang yang haus dan liar. Ia langsung menggoyangkan pinggulnya dengan kencang dan cepat seolah tidak ingin membiarkan sedikitpun penisku keluar dari dalam vaginanya.

“AAAAAAH MAASSSS AAARGGGHHHHH” Teriak Sinta sambil memainkan rambutnya, matanya terpejam, wajahnya mendongak ke atas. Rumah Sinta yang besar tentu membuat kami berdua semakin santai dan leluasa untuk berteriak dan merintih merasakan nikmat yang sedang kami ciptakan.

“TRUS MASSSSS, NIKMAATTTT MASSSSS. KONTOL KAMU NIKMATTTTTTTT”

Aku pun memegangi pinggul Sinta agar berhenti bergoyang, kali ini aku yang menggerakan pinggulku naik turun. Sinta semakin menikmati penisku yang sedang melayani vaginanya.

“MASSSS AKKKUU MAUU KELUARRR LAAAAGIIIII MASSSSSSSSS…..” Sintapun mencengkram dadaku dengan kuat, tidak lama berselang vaginanya terasa mengencang, menarik penisku sampai terasa ngilu.

“AAAAARRRRRGGGHHHHH MASSSSSSSSSS….” Sinta mencapai orgasmenya sekali lagi.

Tubuhnya terkulai diatasku seketika itu juga. Ia pun berbisik dengan lemah, “Terusin sampai kamu keluar, mas…”
Aku pun mencium kening Sinta lalu mendorong tubuhnya. Kali ini aku ada di atasnya. Ku arahkan penisku lagi dan ku masukan sekali lagi.

Untungnya, kondom yang Sinta berikan sangat tipis sehingga tidak mengurangi kenikmatan penisku yang dilayani vagina Sinta. Bulir di dalam vaginanya terasa langsung di penisku seperti aku tidak menggunakan kondom.

Ku genjot vagina Sinta sambil tanganku sesekali meraba payudaranya. Ku percepat genjotannya agar bisa cepat keluar, karena Sintapun terlihat sudah cukup lelah. Akhirnya ku rasakan dorongan yang kuat dari dalam penisku yang memaksa untuk keluar. Tanpa menunggu lama, ku muncratkan air mani yang sudah begitu lama tertahan di dalam buah zakar ku tersebut. CROT CROT CROOTTTT

“AAAHHHHHHHHHH!!” Teriakku saat kenikmatan menjalar di seluruh tubuhku.

Aku pun merasa lemas bukan kepalang, tubuhku langsung ambruk disamping Sinta yang sedang kelelahan. Malam itu kami pun tertidur berdua, tanpa busana. Ku rasakan ada sesuatu yang hangat di penisku. Aku yang masih mengantuk berusaha untuk membuka mata. Rupanya Sinta sedang menyambut penisku yang berdiri di pagi hari. Ku lihat jam dinding yang ada di depanku,

waktu sudah pukul 9 pagi, dan aku terbangun karena hisapan Sinta di penisku yang terasa sangat nikmat. Aku pun segar dengan cepat, dan menikmati kegiatan Sinta. Dijilatinya dengan pelan batang penisku, dan dimainkan sesekali lidahnya di kepala penisku. Terasa begitu nikmat di pagi hari. Membuatku ingin melakukannya seharian tanpa henti. Sinta lalu menarik tanganku agar ku bangun.

“Sambil mandi yuk! Biar seger…” Ajak Sinta. Aku menyetujuinya dan lekas bangun dari tidurku.
Aku berjalan mengikuti Sinta. Ia menuntun penisku agar tetap berdiri.

Sesampainya di kamar mandi, Sinta menyalakan shower dan membasahi dirinya.
“Sini, mass…” Sinta memintaku agar mendekat.

Ia lalu berjongkok dan menghisap kembali penisku. Diremasnya buah zakarku dengan gemas. Aku tidak merasakan dingin air sama sekali, sebaliknya, yang kurasakan hanya hangat menyelimuti penisku dari mulut Sinta.

Sinta lalu bangkit, mengambil kondom yang tersisa, memasangkan kondom pada penisku, dan memunggungi diriku. Tubuhnya dicondongkan ke depan, aku mengerti maksudnya. Sinta menyandarkan kedua tangannya ke tembok, aku mengarahkan penisku ke vaginanya dari belakang.

Dengan sekali hentakan, penisku pun kembali menghujam vagina Sinta. Tanganku meraih payudaranya dan meremas ke duanya sambil pinggulku bergoyang mengeluar-masukan penisku dari dalam vagina Sinta.

“UHHHHH AAAHHHHH IYA GITU MASSSSS….” Sinta mengerang kencang. Aku semakin terangsang mendengarnya.
Tangan Sinta menahan tubuhku sebagai tanda untuk aku menghentikan genjotannya. Lalu ia menggerakan pinggulnya naik turun, sensasi kenikmatan yang tiada duanya.

Sungguh nikmat vagina Sinta, kenikmatan terus menjalar diseluruh tubuhku tanpa henti.

Lalu Sinta berteriak, “MASSS AKU KELUAR MASSSSSSSSSSS…..” Dan crot crot! Sinta orgasme di pagi hari ini. Vaginanya yang mengejang dan menegang membuatku ingin mengikuti orgasmenya.

“Aku juga nih, sebentar lagiii..” Kata ku sambil menggenjot vagina Sinta.

Sinta lalu menarik penisku, ia kembali berjongkok, melepas kondom yang sebelumnya terpasang lalu memasukan penisku ke dalam mulutnya. Aku tidak bisa menahan lagi, ku tumpahkan sperma ku semuanya ke mulut Sinta.
“AAAAAAARRRRGGGGHHHH!” Teriakku. Crot crot crot.

Mulut Sinta dipenuhi sperma ku yang kental dan banyak itu, tanpa menunggu lama, ia langsung menelannya habis, lalu membersihkan penisku dengan lidahnya.

Kami pun menyelesaikan acara mandi kami, lalu berpakaian dengan rapih. Setelah sarapan, aku pun pamit pulang, namun Sinta menahanku. Ia masih ingin bersama ku. Aku tak kuasa dan menuruti permintaan Sinta.

Sejak saat itu, kami berdua resmi berpacaran. Sinta bisa memuaskan hasratku dengan luar biasa, dan aku bisa meyakinkan Sinta bahwa aku tidak akan meninggalkannya karena ia memang benar-benar sesuai dengan apa yang aku cari selama ini. 

Petualangan cintaku dengan Sinta tidak hanya sampai situ, beberapa kali aku dengan Sinta melakukan hal gila, seperti Sinta yang memintaku untuk menggoda temannya yang merebut kekasihnya dulu lalu ia memintaku untuk menidurinya. Sungguh gila, namun hal itu membuatku semakin menyukainya.




SINICAPSA - Agen Judi Poker Domino99 Capsa Susun Ceme Live Poker Indonesia